Pendidikan & Kesehatan

Terobosan Baru Layanan RSUD Dr Soetomo

Operasi Otak Sambil Main Gitar

Surabaya (beritajatim.com) – Penyakit Parkinson merupakan penyakit degeneratif yang menyebabkan kondisi saraf memburuk secara bertahap dan memengaruhi bagian otak yang berfungsi mengoordinasikan gerakan tubuh.

Penyakit parkinson ini membuat bagian tubuh bergerak tidak terkontrol dan menyebabkan penderita tidak bisa melakukan aktivitas sebagai mana mestinya seperti makan, memegang gelas, menulis dan lainnya.

Salah satu pengobatan penyakit ini yaitu dengan prosedur bedah otak. Meskipun beberapa pasien ringan masih mampu dikontrol dengan obat tetapi beberapa yang parah hanya bisa disembuhkan dengan prosedur operasi.

Banyaknya anggapan bahwa operasi otak itu menakutkan dan berbahaya tampaknya bisa ditepis dengan perkembangan teknologi yang memungkinkan pasien untuk mendapatkan penanganan terbaik dan aman yakni dengan metode stereotactic brain lesion.

Dr Joni Wahyuhadi, dr., Sp.BS (K) selaku Direktur RSUD Dr Soetomo mengatakan bahwa karena pasien parkinson biasanya pasien berusia lanjut, maka masih banyak yang berpikiran prosedur operasi parkinson menakutkan.

“Banyak yang takut operasi otak takut macam-macam, tapi sebenarnya operasi ini tidak berbahaya, apa lagi saat ini canggih sudah dibantu dengan artifisial intelegen,” ucap dr Joni, Kamis (14/11/2019).

Dr Ahmad Fahmi Ba’abud, SpBS yang memimpin jalannya operasi parkinson metode stereotactic brain lesion mengatakan bahwa metode ini aman dan cepat. Metode ini merupakan pembedahan minimal invansi atau sayatan minimal yakni hanya sebesar 1 cm pada tengkorak kepala.

Kemudian dari lubang tersebut dilakukan stimulan dengan mengalirkan panas dari ujung elektroda berukuran 1 milimeter. Lalu alat bernama stereotactic dimasukkan. Karena dilapisi isolator, panas untuk menstimulasi otak hanya terdapat pada ujungnya

Dalam operasi ini pasien dalam keadaan sadar (awake surgery atau operasi dengan kesadaran penuh pasien), karena hanya mendapat bius lokal. Sebelum melakukan lesioning (proses membuat lesi atau pembakaran), dokter mengukur suhu ideal aliran panas listrik dari elektroda. Setelah alat dimasukkan, dokter akan melakukan trial lesion lebih dulu. Biasanya dilakukan pada suhu 45 derajat Celsius.

”Jika hasilnya baik, dilanjutkan lesi permanen dengan suhu 70-80 derajat Celsius. Dalam tahap ini, hiperaktivitas bisa berkurang. Gerakan jadi tidak kaku dan tidak lambat lagi,” kata dr Fahmi.

Ada dua teknik stereotactic brain lesion, yakni thalamotomy dan pallidotomy. Keduanya menyasar dua lokasi, yakni thalamus dan globus pallidus internum. Operasi pada thalamus paling baik dilakukan untuk mengatasi tremor.

”Sedangkan guna mengurangi kekakuan dan kelambatan pada penderita parkinson ataupun distonia, dilakukan pada globus pallidus internum,” terangnya.

Sebelum menjalani lesioning, pasien akan diperiksa dengan magnetic resonance imaging (MRI) atau pencitraan resonansi magnetik pada bagian kepala. Gambar-gambar hasil MRI itu digabungkan dengan hasil pemeriksaan CT scan, lalu dimasukkan ke software perencanaan operasi pembedahan (surgical planning).

”Nanti akan keluar koordinat X, Y, Z yang menunjukkan secara tepat posisi titik lesioning. Koordinat-koordinat itu lalu diaplikasikan ke alat stereotactic,” Fahmi menjelaskan.

Meski metode ini didukung alat-alat canggih, tetap dibutuhkan keterampilan dokter dalam melakukan lesi. Menurut Fahmi, pada saat operasi, dokter bedah harus mampu memperkirakan apakah lesi sudah cukup aman atau tidak. Secara teori, proses lesioning idealnya kurang-lebih selama 30 detik.

”Sebab, kalau terlalu lama, bisa terjadi perdarahan. Kalau kurang, tidak berdampak apa-apa,” tegasnya.

Untuk itu, stereotactic brain lesion tak bisa langsung dilakukan pada dua titik sekaligus kekakuan (spastisitas) alias harus unilateral (satu per satu). Jarak waktu antara operasi brain lesion pertama dan operasi berikutnya minimal enam bulan.

Selain risiko infeksinya kecil, tingkat keberhasilannya tinggi, yakni 80-90 persen pada pasien tremor. Prosedur pembedahan di meja operasi relatif cepat, berkisar 1-1,5 jam. Namun saat ini sudah ada aplikasi dan software termutakhir yang dibuat dan dikembangkan oleh anak negeri sendiri, yang memiliki kualitas lebih baik dengan akurasi dan sensitivitas lebih tinggi.

Aplikasi tersebut adalah BAMAG atau Brain Anatomy Morphology Generator yang dibuat dan dikembangkan oleh Prof. Ir. Riyanarto Sarno, SE, MSc, PhD, Profesor bidang Rekayasa Perangkat Lunak di ITS. BAMAG merupakan aplikasi untuk menentukan posisi dan titik koordinat diagnosa pada otak pasien parkinson.

Dengan Aplikasi BAMAG ini pemetaan koordinat menjadi lebih cepat yakni hanya 2-3 menit. Dengan sensitivitas dan akurasi yang lebih baik karena BAMAG merupakan memindaian data dari 3 jenis pemeriksaan kondisi otak pasien parkinson yakni CT Scan, MRI dan MRA membuat proses operasi juga lebih cepat yakni hanya membutuhkan waktu 15 menit.

“Karena pemetaan dan datanya dari BAMAG lebih akurat dan presisi jadi lebih cepat. Hasilnya pasien juga lebih enjoy karena dokternya lebih terarah jadi tidak menimbulkan suasana tegang. Bahkan pasien bisa main main gitar, tidak ada ketakutan lagi,” ungkap dr Fahmi.

Adi Kurniawan (32) pasien operasi parkinson dengan metode stereotactic brain lesion asal Balik Papan mengatakan bahwa dirinya tidak takut dengan operasi ini dan malah mendapatkan ketenangan yang baik saat di meja operasi.

“Karena alat alat nya sudah canggih dan dokternya expert saya tidak ragu dan mantab,” ujarnya. [adg/but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar