Pendidikan & Kesehatan

Pemkot Surabaya Memastikan Bahan Disinfektan Aman bagi Kesehatan

Ombudsman Minta Penggunaan Bilik Sterilisasi di Surabaya Dikaji Ulang

Surabaya (beritajatim.com) – Kepala Perwakilan Ombudsman RI untuk Jawa Timur Agus Widiyarta meminta agar penggunaan bilik-bilik sterilisasi yang ada kembali dikaji ulang. Hal itu, menurutnya, mengacu pada surat imbauan yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan.

“Kan per tanggal 3 Maret lalu pihak Kemenkes telah memutuskan tidak merekomendasikan penggunaan bilik-bilik sterilisasi akibat dari bahan disinfektan yang digunakan. Itu saya harap menjadi perhatian pemerintah-pemerintah daerah yang menggunakan bilik sterilisasi,” ujar Agus pada hari Senin (6/4/2020).

Berdasarkan temuan Ombudsman, Ia menjelaskan, ada bilik sterilisasi yang menggunakan bahan disinfektan berbahaya. “Kami ada menemukan itu bahan disinfektannya yang biasa digunakan untuk kandang unggas. Kan berbahaya bagi manusia,” tegas Agus.

Khusus untuk Kota Surabaya, pria yang juga pakar administrasi negara UPN Surabaya ini mengungkapkan telah berkomunikasi dengan para pejabat terkait. “Saya sudah kontak dengan Pak Fikser (Kadis Kominfo Surabaya) dan Bu Feni (Kadinkes Surabaya) sejak kemarin. Tapi belum ada tanggapan. Mungkin hari ini kami komunikasi lagi,” pungkasnya.

Di sisi lain, Pemerintah Kota Surabaya memastikan kandungan yang digunakan dalam bahan disinfektan yang mereka gunakan aman dan baik untuk lingkungan maupun manusia. Sebab, kandungan Benzalkonium Chloride yang terdapat dalam bahan tersebut, juga umum digunakan dalam produk antiseptik, seperti sampo, sabun, dan obat tetes mata.

Kepala Bidang Peternakan dan Penyuluhan, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Surabaya, Meita Irene Wowor mengatakan, kandungan Benzalkonium Chloride tersebut biasa digunakan dalam produk sehari-hari yang dipakai manusia.

“Bahan Benzalkonium Chloride ini umum digunakan sebagai bahan antiseptik dan disinfektan. Mulai obat tetes mata, sampo, dan hand sanitizer,” kata Meita, Selasa (24/04/2020).

Meita menjelaskan, kandungan Benzalkonium Chloride ini dapat berfungsi untuk membunuh jamur, virus, serta mikroorganisme yang lain. Bahan tersebut merupakan zat kimia yang berfungsi sebagai antiseptik jika digunakan dalam konsentrasi rendah. Tetapi juga dapat berfungsi sebagai disinfektan jika digunakan dalam konsentrasi tinggi.

“Kalau secara keamanan, baik untuk lingkungan ataupun manusia, yang punya kita (produksi mandiri) ini lebih ramah. Jadi, kita pastikan aman baik dari sisi konsentrasinya maupun bahannya,” katanya.

Karena itu, pihaknya memastikan, jika bahan dasar penyemprotan disinfektan ini aman untuk manusia. Apalagi, isi kandungan dalam bahan tersebut, merupakan salah satu bahan kimia yang digunakan sebagai antiseptik.

Senada, Profesor Hamzah Fansuri selaku Dekan Fakultas Sains dan Analitika Data Institut Tehnologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya mengatakan, bahwa disinfektan yang digunakan pada bilik sterilisasi maupun disemprotkan ke sejumlah fasilitas umum di Kota Surabaya, aman. Karena, penggunaan Benzalkonium Chlorida, bahan yang digunakan untuk penyemprotan dalam dosis atau takaran yang tepat.

“Pada konsentrasi sesuai takaran aman digunakan. Asalkan, tidak berlebihan,” jelasnya, Sabtu (4/4/2020).

Hamzah mengakui, bahan kimia yang digunakan untuk disinfektan bisa mematikan bakteri, merusak virus dan sebagainya. Untuk disinfektan yang disemprotkan di area terbuka, karena digunakan untuk benda mati. Maka, jika diperlukan konsentrasinya bisa lebih besar supaya efek mematikannya tinggi.

“Misalnya, untuk mengepel, menggunakan karbol, lisol yang anti bakteri, kalau konsentrasinya tinggi gak apa-apa. Tapi, jangan lupa memakai sarung tangan, atau APD (Alat Pelindung Diri) agar tak kena kulit,” tuturnya.

Sementara, untuk disinfektan yang disemprotkan di dalam bilik, konsentrasinya tak boleh tinggi. Kalau terlalu tinggi, memang bisa membunuh virus, tapi juga bisa merusak tubuh. Apabila terkena kulit, sel kulit masih bisa regenerasi. Namun, tidak boleh kena kelenjar Mukosa pada hidung dan mulut. Sebab, kelenjar ini tak memiliki perlindungan sebagus kulit.

“Kalau di dalam chamber (Bilik Disinfektan) yang aman, tutup mata dan tahan nafas. Gak lama hanya beberapa detik. Saya rasa aman, karena cairan yang dipakai konsentrasinya bisa ditolerir, tidak menyebabkan dampak jangka pendek dan jangka panjang,” urainya.

Sebagai informasi, Pemerintah Kota Surabaya memasang Bilik Sterilisasi sedikitnya 239 unit di sejumlah kawasan. Upaya ini dilakukan adalah untuk menghilangkan kuman atau bakteri maupun virus yang mungkin menempel di tubuh. [ifw/but]





Apa Reaksi Anda?

Komentar