Pendidikan & Kesehatan

Negara Mengurusi BDSM dan Threesome, Apa Kata Seksolog Zoya Amirin?

Jember (beritajatim.com) – Salah satu isi Rancangan Undang-Undang Ketahanan Keluarga yang disodorkan DPR RI adalah larangan terhadap perilaku seks BDSM (Bondage, Discipline, Sadism, Masochism).

Seksolog Zoya Amirin mengatakan, ada dua macam BDSM. “Satu, kalau kita bicara sadomasokisnya saja, itu termasuk penyimpangan perilaku seksual. Itu ada dalam DSM-V (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders). Itu buku suci psikiater dan psikolog seluruh dunia. Kami mengacu pada buku itu,” katanya kepada beritajatim.com, Rabu (26/2/2020).

Zoya menyebut perilaku seks masokis tidak sehat. Namun BDSM bukan hanya urusan masokisme. Ada perilaku kinky sex yang masuk dalam kategori BDSM ini. ‘Mereka (pasangan) saling memberi kenikmatan lewat rasa sakit bukan yang mematikan. Ada etikanya,” katanya.

Zoya beranggapan perilaku seksual seperti BDSM ini tidak perlu diatur dalam undang-undang. Masalah perilaku seks seharusnya menjadi tugas seksolog dan psikolog. “Kalau ada penyimpangan, itu jadi urusan kesehatan mental atau kesehatan jiwa. Urusan psikiater dan psikolog untuk merehabilitasi. Jika penyimpangan ini sudah mengganggu kenyamanan hidup orang lain, ya ditindak saja berdasarkan tidak adanya konsensual. Jadi negara harusnya fokus pada persetujuan atau tidak adanya persetujuan selama tidak mengancam nyawa seseorang, tidak menyakiti. Kalau itu konsensual tapi mengorbankan nyawa, ya negara harus bertindak,” katanya.

Dalam pandangan Zoya, selama perilaku seks ini dilakukan orang dewasa atas dasar suka sama suka dan tidak membahayakan nyawa, maka seharusnya negara tak perlu mengintervensi. Namun negara harus hadir saat hal itu dilanggar.

Zoya mencontohkan perilaku seks threesome. “Misalnya pas threesome, ada salah satu pelaku tidak mau membuka identitas bahwa dia mengidap penyakit menular seksual. Itu kan berbahaya. Maka sebaiknya negara mengatur hal-hal yang konsensual namun membahayakan nyawa orang lain, menularkan penyakit, atau menyebabkan kematian,” katanya.

Zoya menyarankan kepada masyarakat agar banyak membaca untuk memahami bagaimana kehidupan seksual yang sehat. “Sebelum kita setuju terhadap apa yang ditawarkan pemerintah. Ini masalah kesejahteraan hidup kita, kenyamanan hidup kita, seksualitas kita. Pemerintah seharusnya mampu menjaga agar ekspresi seksual kita sejalan dan sehat. Ekspresi sejalan dan sehat itu bukannya disuruh-suruh, dimarah-marahin, dilarang-larang tidak jelas,” katanya. [wir/kun]





Apa Reaksi Anda?

Komentar