Pendidikan & Kesehatan

Nakes Kurang, RS Paru Jember Kurangi Jumlah Tempat Tidur Isolasi Covid

Jember (beritajatim.com) – Rumah Sakit Paru di Kabupaten Jember, Jawa Timur, terpaksa mengurangi jumlah tempat tidur untuk isolasi pasien Covid-19. Gara-gara jumlah tenaga kesehatan (nakes) tak mencukupi.

RS Paru sebenarnya memiliki 96 tempat tidur di dalam ruangan dan 16 tempat tidur di tenda darurat untuk melayani pasien Covid. “Tapi saat ini kami hanya mampu melayani 53 tempat tidur untuk Covid,” kata Direktur RS Paru Sigit Kusuma Jati, Minggu (25/7/2021). Sisanya, digunakan untuk melayani pasien non-covid untuk penyakit TBC dan TBC kebal obat.

Saat ini ada RS Paru menghadapi dua kendala. Pertama, sejumlah tenaga kesehatan di RS Paru terpapar Covid-19. Salah satu analis laboratorium bahkan gugur karena Covid, yakni Diah Kusuma Wardani.

Kedua, dari seratus orang lebih perawat di RS Paru, di antaranya memiliki komorbid (penyakit bawaan) dan berusia di atas 50 tahun dengan gangguan fungsi jantung, kencing manis, dan asma. “Jadi kami tidak bisa menugaskan perawat dengan komorbid di ruang isolasi Covid,” katanya.

Di tengah kekurangan perawat, RS Paru memiliki dokter dengan jumlah mencukupi. “Khusus perawat dan analis laboratorium yang kami kewalahan,” kata Sigit.

Sigit sudah bersurat ke Dinas Kesehatan Provinsi Jatim untuk meminta tenaga tambahan 28 perawat dan lima analis laboratorium. “Itu kebutuhan yang harus segera terpenuhi kalau ingin membuka seluruh layanan Covid,” katanya.

Dinkes Jatim dan Dinkes Jember sama-sama siap mengawal permohonan tenaga tambahan itu. “Tapi memang tidak bisa serta-merta terpenuhi, ada proses,” kata Sigit.

Mengatasi masalah ini, Sigit mengubah susunan tim tenaga kesehatan. “Saat ini hanya ada satu tim kamar operasi, yang lain digeser ke ruang isolasi Covid. Kemudian di layanan hiperbaric dan poli, perawat-perawatnya kami geser ke layanan Covid. Mereka yang memiliki komorbid dan berusia di atas 50 tahun, kami geser ke poli,” kata Sigit.

Tempat tidur di tenda tetap disiapkan sebagai instalasi rawat darurat. “Jadi kalau misalnya ada pasien masuk dengan Covid dan belum dapat tempat tidur di RS Paru maupun rumah sakit lain, kami rawat darurat di tenda. Kami tidak sebut itu tempat tidur rumah sakit, karena menurut saya, perawatan harus standar di ruangan,” kata Sigit. [wir/ted]



Apa Reaksi Anda?

Komentar