Pendidikan & Kesehatan

Mutasi Virus Covid-19 yang Masuk Indonesia, Begini Penjelasan Profesor Unair

Prof. Dr. Ni Nyoman Tri Puspaningsih, M.Si., selaku Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi, dan Community Development yang juga ahli Biomolekular dan salah satu peneliti dan pengembang Vaksin Merah Putih Unair

Surabaya (beritajatim.com) – Virus SarCov-2 atau yang kita kenal sebagai virus Corona aka. Covid-19 merupakan virus berbasis RNA, yang bersifat Single-stranded RNA sehingga mudah untuk mengalami mutasi.

Prof. Dr. Ni Nyoman Tri Puspaningsih, M.Si., selaku Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi, dan Community Development yang juga ahli Biomolekular dan salah satu peneliti dan pengembang Vaksin Merah Putih Unair mengatakan bahwa terdapat empat macam protein struktural pada Sars-Cov2 yang salah satunya berperan penting pada pengikatan virus dengan sel inang manusia, yaitu protein spike.

Tiga protein struktural lainnya adalah protein membran, protein envelope, dan nucleoprotein. Protein spike merupakan jenis yang paling menjadi perhatian saat virus bermutasi karena memiliki Receptor Binding Domain (RBD) yang berperan mengikat ACE2 pada sel inang manusia.

“Karena virus ini merupakan RNA virus maka dia mudah beradaptasi untuk tetap terus hidup. Setiap usaha untuk meningkatkan kemampuan menempel di sel inang itu lah virus melakukan mutasi dengan merubah urutan basa nukleotida pada kodon penyandi asam amino sehingga terjadi perubahan asam amino yang berdampak pada perubahan interaksi antara virus dan sel inangnya. Harapan kita mutasi melemahkan daya infeksi virus namun sampai saat ini mutasi pada virus Sars Cov2 justru meningkatkan infectivitas nya” ujar Prof Nyoman kepada beritajatim.com, Selasa (8/6/2021).

Protein Spike Virus SarCov-2 ini memiliki 1273 Asam amino  dimana rentang lokasi asam amino sekitar 300-570 merupakan daerah RBD yang berperan menempel di sel inang. Bagian Spike lainnya yang juga penting adalah Furin Cleavage Site (FCS) di rentang lokasi sekitar 670-690.

Daerah  FCS merupakan daerah yang dikenali oleh furin sel manusia yang memotong bagian diantara S1 dan S2 spike, dan memudahkan genetik material sel virus masuk ke dlm sel inangnya.

“Karena ada dua daerah di spike yang berfungsi mengikat ACE2 dan melepaskan genetic material virus ke sel inang, maka infeksi bisa terjadi. Kita berfokus pada dua daerah itu karena kedua tempat itu lah merupakan kunci utama proses infeksi dan menjadi perhatian jika terjadi perubahan asam amino karena mutasi,” terang Prof Nyoman.

Dari penelitian yang dilakukan oleh tim Unair, Prof Nyoman menyampaikan bahwa  perubahan asam amino dari Aspartan D menjadi Glisin (G) pada lokasi 614 di triwulan pertama 2020, mutasi tersebut yang saat ini sudah mencapai hampir 98% dari global infected person maka asumsi kami point mutation tersebut lah yang memicu percepatan munculnya varian varian baru saat ini yang sudah mencapai 6 varian memasuki semester pertama 2021.

“Kalau ada mutasi di daerah RBD dan/atau FCS yang menyebabkan interaksi antara virus dan sel inang manusia semakin kuat maka infectivitas akan juga semakin meningkat. Namun dampak mutasi terhadap peningkatan keganasan atau kematian belum dapat dibuktikan” tukas Prof Nyoman.

Data pada GISAID menunjukkan sudah ada 4 varian baru yang masuk ke Indonesia, diantaranya varian Afrika Selatan, varian Inggris, varian India, dan varian USA.

Prof Nyoman menegaskan bahwa mutasi tersebut adalah bentuk adaptif dari covid 19 untuk semakin survive.

“Oleh karena itu masyarakat harus tetap mentaati protokol. Kesehatan walau sudah vaksinasi selama herd immunity belum tercapai,” pesan penutup Prof Nyoman. (ted)



Apa Reaksi Anda?

Komentar