Pendidikan & Kesehatan

MMT ITS Undang Profesor dari Australia, Ini Tujuannya

Surabaya (beritajatim.com) – Untuk lebih meningkatkan kemampuan mengajar para dosennya, Program Studi Magister Manajemen Teknologi (MMT) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya menghadirkan dua profesor dari Royal Melbourne Institute of Technology (RMIT) University, Australia. Kegiatan dalam bentuk seminar bertajuk Mengajar Program Pendidikan Eksekutif di Sekolah Bisnis digelar di Hotel Swiss Belinn Manyar.

Kedua profesor yang dihadirkan tersebut adalah Prof Caroline Chan, seoang profesor sistem informasi, dan Prof Booi Kam, Direktur Program Logistik dan Supply Chain Management RMIT University. Seminar ini mengajak para dosen MMT ITS untuk berdiskusi serta memperkenalkan bermacam-macam tipe pengajaran yang telah dilakukan RMIT University pada program studi manajemen.

Dekan Fakultas Bisnis dan Manajemen Teknologi (FBMT) ITS Prof Ir Udi Subakti Ciptomulyo mengatakan, penting bagi tenaga pendidik untuk memiliki pengalaman dan kualitas mengajar yang cukup baik agar menghasilkan siswa dengan skill yang tinggi. Apalagi mengajar di bidang manajemen, perlu memiliki pemahaman yang cukup bagus dan jam terbang tinggi dalam menyelesaikan permasalahan (study case) yang ada.

“Permasalahan yang terjadi dalam sebuah industri bervariasi, oleh sebab itu setiap permasalahan memiliki solusi yang berbeda-beda,” ujar dosen yang biasa disapa Udi ini, kepada beritajatim.com, Rabu (13/3/2019).

Sementara itu, Prof Booi Kam menjelaskan bahwa dalam dunia pembelajaran dikenal dengan istilah semakin banyak guru menjelaskan, semakin banyak murid belajar dari guru tersebut. Istilah ini sangat populer, namun dalam penerapannya, semakin banyak guru menjelaskan belum tentu semakin banyak murid belajar. Hal itu pun berlaku sebaliknya. “Karena tidak setiap murid memiliki pemahaman yang sama,” jelasnya.

Booi menyebutkan bahwa ilmu yang dipelajari di dunia ini terbagi menjadi dua jenis, yakni pengetahuan konseptual dan pengetahuan faktual. Untuk pengetahuan konseptual, Booi mencontohkan dengan garis yang konstan naik dalam diagram cartesius. Sumbu Y diibaratkan dengan kemampuan guru mengajar dan sumbu X adalah pelajaran yang didapatkan murid. “Dalam mengajar pengetahuan konseptual, semakin banyak guru menerangkan, dapat menambah wawasan murid,” paparnya

Booi mengatakan, pengetahuan konseptual dapat dikenal dengan istilah hard science. Sifat dari pengetahuan konseptual ini yakni sudah paten. Kebanyakan telah ditemukan pada zaman dahulu dengan rumus yang tepat. Selain itu, orang yang mempelajari ini dapat dikatakan passive learning. “Pengetahuan faktual dapat dipelajari dengan seksama mengacu pada penelitian-penelitian yang sudah ada atau dapat dibilang berupa konsep,” ungkapnya.

Sedangkan pengetahuan faktual, menurut Booi, adalah pengetahuan yang selalu berkembang dengan cepat. Booi lantas mencontohkan dengan garis yang perlahan naik dalam diagram cartesius. Untuk mencapai sebuah titik pembelajaran yang sangat dipahami seorang murid, dibutuhkan effort lebih oleh sang guru dalam mengajar. “Dalam mengajar pengetahuan faktual, perkembangan ilmu pengetahuan sangat cepat, oleh sebab itu harus mengacu dengan kejadian saat ini,” jelasnya.

Booi melanjutkan, pengetahuan faktual dapat dikenal dengan istilah soft science. Sifatnya yakni tidak pasti, berubah-ubah, membutuhkan kreativitas yang tinggi dalam menyelesaikan permasalahannya. Selain itu, orang yang mempelajari ini dapat dikatakan passive learning. “Pengetahuan faktual selalu berubah-ubah. Tantangan dosen dan mahasiswa untuk memecahkan permasalahan atau study case terkini,” sambungnya.

Pengetahuan faktual ini yang nantinya akan dipelajari oleh mahasiswa manajemen. Contoh konkretnya, yakni dalam menyelesaikan study case permasalahan yang selalu berubah-ubah. Harapannya, mahasiswa mampu menyelesaikan berbagai permasalahan manajemen baik di industri besar maupun kecil. “Oleh sebab itu, pentingnya ada latihan study case bagi mahasiswa MMT,” ujarnya

Untuk proses mengajar di RMIT, Prof Caroline Chan menjelaskan, model pembelajaran di universitas tersebut dengan sequence (urutan). Setiap mahasiswa hanya mengambil satu pelajaran setiap enam minggu, tidak bisa lebih. Setelah minggu keenam, mahasiswa dapat mengambil mata pelajaran lainnya. Dalam satu tahun, satu mahasiswa maksimal mengambil enam mata pelajaran dengan total 36 minggu. “Cara ini efektif dalam memokuskan pemikiran mahasiswa dalam satu periode pembelajaran,” ujarnya.

Caroline mengatakan, tipe pembelajaran yang baik tidak selalu monoton. Terkadang dosen harus mampu mengajak mahasiswa untuk melihat industri. Pun harus mampu mengajak mahasiswanya agar lebih berfikir terbuka mengenai pengembangan manajemen ke depannya. “Selain itu, dosen harus mampu membawa permasalahan industri ke dalam kelas,” jelasnya.

Kepala Departemen MMT ITS Prof Ir I Nyoman Pujawan MEng PhD mengatakan, dengan adanya seminar ini, diharapkan para dosen MMT ITS mampu belajar teknik pengajaran dengan lebih baik. Nyoman juga berharap ke depannya MMT ITS mampu mengimplementasikan salah satu teknik pengajaran yang dibawa oleh kedua profesor dari RMIT University ini. “Kami ingin meningkatkan pola pembelajaran, terlebih dengan model online dan study case bank untuk membantu mahasiswa belajar,” pungkasnya. [adg/suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar