Pendidikan & Kesehatan

Milenial Ciptakan Eceng Gondok Jadi Pupuk Organik

Bojonegoro (beritajatim.com) – Selama peralihan musim dari kemarau ke musim penghujan, sungai Bengawan Solo yang membentang panjang di wilayah Kabupaten Bojonegoro penuh dengan tumbuhan eceng gondok. Tumbuhan gulma itu turut mengalir dari hilir.

Seperti di Bendung Gerak, Desa Ringinrejo, Kecamatan Kalitidu. Tumbuhan yang dianggap gulma itu tumbuh meluas hingga permukaan air sungai tidak terlihat. Akibatnya, banyak ikan yang mati akibat kurang terkena sinar matahari langsung. Bau air juga busuk.

Tanaman eceng gondok itu tumbuh cepat dan berkembang hingga beberapa kilo meter. Melihat hal itu, sejumlah pelajar Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Bojonegoro memiliki kegelisahan sendiri mengubah tanaman pengganggu menjadi tanaman yang lebih bermanfaat.

Eceng gondok tersebut kemudian disulap menjadi pupuk organik. Pupuk organik tersebut kemudian digunakan pameran karya ilmiah yang di selenggarakan oleh Universitas Bojonegoro (Unigoro) bekerjasama dengan ExxonMobil Cepu Ltd (EMCL) di Aula Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Bojonegoro, Rabu (30/1/2019).

“Awalnya bingun mau cari bahan apa, mengetahui eceng gondok yang sangat banyak di Bengawan Solo kemudian mencari inspirasi bagaimana tanaman itu bisa bermanfaat,” ujar Anisa Tarwianida, Kelas XI MAN 1 Bojonegoro.

Dia menjelaskan, dalam kandungan tanaman eceng gondok tersebut terdapat senyawa yang sama dengan kandungan yang ada di dalam pupuk kimia. Pembuatan eceng gondok menjadi pupuk itu juga tergolong mudah. Awalnya, tanaman eceng gondok tersebut dipotong menjadi bagian kecil-kecil. Setelah itu, difermentasi selama kurang lebih tiga hari.

Setelah difermentasi, serat dan sari eceng gondok tersebut dipisahkan. Hasilnya, bisa menjadi pupuk cair dan pupuk padat. “Pupuk eceng gondok yang cair diambil dari air hasil fermentasi dan yang padat dari pengeringan cacahan eceng gondok,” ungkapnya.

Anisa menjelaskan, pupuk organik dari eceng gondok ini dinilai lebih efektif untuk tanaman dan menjaga kesuburan tanah. Beberapa keunggulan pupuk organik ini diantaranya, bisa mempertahankan struktur tanah, menyuburkan tanah, mempercepat pertumbuhan dan mendorong pertumbuhan akar muda.

“Cuma kita baru eksperimen untuk tanaman padi dan cabai,” ungkapnya.

Selain pupuk organik dari eceng gondok, dalam pameran karya ilmiah “Kompetisi Literasi Digital” yang diikuti sebanyak 20 peserta tingkat SMA/SMK/MA itu juga banyak menciptakan ide kreatif dalam menjawab persoalan masyarakat saat ini. Diantaranya, pemanfaatan sampah plastik menjadi bahan bakar, pemberdayaan masyarakat di sekitar ekslokalisasi Kalisari, dan masih banyak lagi.

“Sebelumnya memang kita melakukan pelatihan dan pendampingan terhadap para pelajar untuk pengelolaan limbah yang bisa dimanfaatkan kembali,” ujar Project Manager, Kompetisi Literasi Digital, Arif Januarso.

Ketua Yayasan Unigoro itu juga berharap, dengan adanya pameran karya ilmiah itu diharapkan bisa menambah kreativitas siswa dalam menciptakan karya ilmiah. “Sehingga bisa menjawab persoalan masyarakat saat ini dan bisa mengolaborasikan digital menjadi lebih bermanfaat,” pungkasnya. [lus/but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar