Pendidikan & Kesehatan

Miftau, Dokter Bidikmisi yang Ingin Mengabdi di Kalimantan Tengah

Surabaya (beritajatim.com) – Miftau Rahman Taufik adalah salah satu dokter yang dilantik bersama 199 dokter Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK UNAIR) pada Periode ke III Pelantikan Dokter, Rabu (31/7/2019) di Aula FK UNAIR.

Miftau juga salah satu dari 16 dokter yang menerima beasiswa Bidikmisi yang artinya tidak mengeluarkan biaya pendidikan sepeserpun. Sebagai anak rantau, Miftau berkehendak untuk mengikuti saran dari Rektor UNAIR, Prof. Mohammad Nasih yang hadir dalam pelantikan hari ini dan memimpin jalannya prosesi pelantikan.

Prof. Nasih berpesan agar dokter-dokter UNAIR yang dilantik hari ini tidak memperbesar gap atau kesenggangan dokter. Ia mengatakan bahwa dokter haruslah tidak mengedepankan materi dan harus mengabdi kembali ke daerah asal untuk pemerataan dokter daerah.

“Jangan memperbesar gap, janga karena Surabaya kota manis, jadi pingin disini semua, kembali ke daerah masing-masing, jangan sampai nanti Surabaya sehat tapi yang di daerah sakit tidak ada yang mengurus,” petuah Prof. Nasih saat menutup pelantikan.

Miftau disamping kanan Prof. Nasih, rektor UNAIR

Ingin mengabadikan diri di tempat asalnya, Kalimantan Tengah, Miftau akan kembali dan menjadi dokter umum di sana setelah mengambil internship atau magang selama 1 tahun di Surabaya. Sebagai anak dari mantan penjaga sekolah di daerah Bapean, Sampit, Kalimantan Tengah, ia pada awalnya tidak bercita-cita menjadi dokter karena takut biaya pendidikan yang mahal.

Hingga akhir SMA ia pun kemudian memutuskan untuk menjadi dokter karena ditempat asalnya, dokter tidak banyak, dan sepi peminat.

“CPNS tahun lalu saja ada 2 dokter yang dibutuhkan disana tetapi tidak ada yang mendaftar. Maka dari itu saya ingin pulang dan mengabdi disana” ujar mahasiswa ber IPK 3.92 ini.

Dikenal sebagai siswa berprestasi sejak kecil, Miftau pun telah menjadi siswa rantau saat memasuki SMA di Sragen karena pernah meraih medali perak nasional lomba Kimia. Saat menempuh pendidikan dokter pun ia mengikuti olimpiade OnMIPA Kimia dan berhasil menyabet Perak.

Sebagai mahasiswa Bidikmisi ia mengaku tidak pernah mengeluarkan uang untuk biaya pendidikan, ia hanya mengeluarkan uang untuk program diklat yang ia ikuti. Miftau yang anak terakhir dari sembilan bersaudara pun selama 6 tahun mengeyam pendidikan dan profesi di FK UNAIR tidak pernah meminta uang saku kepada kedua orang tuanya.

Ia bertahan hidup dengan tunjangan bulanan Bidikmisi dan hasil dari mengajar kursus privat kimia anak-anak SMA disekitar kampus. Selama ini untuk menghemat pengeluaran, Miftau juga tidak pernah membeli buku pedoman, ia belajar dengan meminjam buku dari kakak kelas ataupun perpustakaan serta mengunduh e-book.

“Saya tidak pernah mengeluarkan uang selain untuk Diklat yang memang tidak ditanggung Bidikmisi, itu pun dalam kisaran 500.000 hingga 1 juta tiap semester, masih bisa dijangkau dengan penghasilan memberikan kursus privat,” pungkasnya. [adg/but]





Apa Reaksi Anda?

Komentar