Pendidikan & Kesehatan

Miftah Gadis Tulang Berbalut Kulit Diduga Kebanyakan Minum Obat

Yuliani Dwijayanti

Mojokerto (beritajatim.com) – Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Mojokerto langsung melakukan assesment (penilaian) pasca adanya laporan warga Desa Kupang, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto hanya tulang berbalut kulit.

Kasi Pemulihan Trauma Korban Anak yang Berhadapan dengan Hukum, Dinsos Kabupaten Mojokerto, Yuliani Dwijayanti mengatakan, pihaknya mengunjungi rumah Miftah Ramadhani (21) pada Minggu (10/2/2019) lalu. “Dan kemarin dievaluasi ke RSI Sakinah,” ungkapnya, Rabu (13/2/2019).

Masih kata Yuliani, pihaknya langsung melakukan assesment untuk mengetahui kondisi anak dari Purdan Hariono (50) tersebut. Dari hasil assesment awal, diketahui jika pihak keluarga selama ini sudah berupaya melakukan pengobatan terhadap Miftah.

“Pihak keluarga sudah melakukan pengobatan di RS, pernah ke RSI Sakinah, RS Ciko, RS Gatoel hingga RSJ Lawang untuk memeriksakan kejiwaannya. Kalau saya lihat rekap medisnya, pengobatannya di dokter penyakit dalam dan jiwa. Kondisi drop karena sulit makan,” katanya.

Dari pemeriksaan terakhir yang dilakukan Rumah Sakit Islam (RSI) Sakinah diketahui jika kondisi kejiwaan terganggu sehingga sampai tulang dan kulitnya mengecil dan tubuhnya kaku. Pihaknya menduga hal tersebut karena disebabkan seringnya mengkonsumsi obat-obatan.

“Kita hanya minta keterangan dari pihak orang tua laki-laki karena saat kita ke rumahnya Minggu kemarin, ibu tirinya sedang keluar. Pengakuan bapaknya, dari dokter menyarankan tidak boleh makan banyak-banyak. Susu roti pagi hari dan makan nasi sorenya,” ujarnya.

Staf Satuan Bakti Pekerja Sosial (Sakti Peksos), Kementrian Sosial Republik Indonesia (Kemensos RI) di Dinsos Kabupaten Mojokerto, M Maich Hafiz Alrafi menambahkan, pihak keluarga menyampaikan jika Miftah mengalami depresi pasca ditinggal meninggal ibu dan neneknya.

“Dia juga mengkonsumsi obat penenang, dari yang kita lihat di rumahnya. Ada banyak obat dan rekap medis sejumlah RS, kemungkinan efek samping obat juga tapi kita bukan medis sehingga tidak berwenang menjawab itu. Kita hanya bertugas mendampingi bagaimana mendapatkan hak yang layak,” jelasnya.

Terkait hubungan anak dan ibu tiri, makanan, dugaan kekerasan, pihaknya mengaku tidak melakukan assesment sejauh itu. Namun hanya melihat kondisi fisik Miftah sehingga kemudian Dinsos menunjuk Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) mengevakuasi ke rumah sakit. Dinsos akan mendampingi sampai kondisi Miftah kembali pulih.

“Pendampingan akan kita berikan selama sampai sembuh, kursi roda, pampers dan susu juga sudah disiapkan. Dinsos Propinsi juga siap membantu, namun kendala kita pada KTP karena belum pindah dari warga kota sehingga kita kesulitan jika diminta merujuk,” urainya.

Namun, lanjut Yulianti, perangkat desa setempat sudah berjanji akan segera mengurus Kartu Tanda Penduduk (KTP). Menurutnya, jika pihak keluarga tidak peduli, tidak mungkin ada karena rekap medis dan obat-obatan bisa ditunjukkan pihak keluarga. Bulan November 2018 masih berobat di RSI Sakinah dan pindah ke RS Gatoel. [tin/but]



Apa Reaksi Anda?

Komentar