Iklan Banner Sukun
Pendidikan & Kesehatan

Raker Dewan Kesenian Sidoarjo Tahun 2021

Mewujudkan Sidoarjo sebagai Kota Budaya

Sidoarjo (beritajatim.com) – Pada di awal-awal kerja kepengurusan Dewan Kesenian Sidoarjo (Periode 2017-2022), fokus pada konsolidasi dan memperbanyak ragam event untuk menarik perhatian publik. Setelah masa kerja Dewan Kesenian Sidoarjo melewati tahun ketiga, Dekesda merasa sudah saatnya harus melakukan langkah yang lebih strategis lagi, yaitu membuat konsep pemajuan seni budaya berkelanjutan dan berdampak terhadap pembangunan Sidoarjo ke depan.

Demikian disampaikan Ketua Umum Dewan Kesenian Sidoarjo Ali Aspandi dalam pembukaan Rapat Kerja (Raker) yang digelar di Fave Hotel, Sidoarjo, Kamis (18/11/2021). Raker dibuka oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Dr Tirto Adi.

“Bertolak dari pemikiran itu, kami perlu mencari jejak-jejak peristiwa seni budaya Sidoarjo di masa lalu dan masa kini, guna membuat strategi pemajuan seni budaya untuk masa depan,” kata Ali Aspandi.

Dengan demikian, Ali Aspandi mengajak seluruh seniman untuk menggali fakta-fakta historis yang pernah ada di kabupaten Sidoarjo. Di antaranya di wilayah Sidoarjo dulu pernah berdiri dua kerajaan besar, Jenggolo dan Kahuripan, warisan budaya sepuluh candi, artefak yang tak terhitung jumlahnya, prasasti dan situs lainnya.

Termasuk warisan budaya Sidoarjo sebagai kota urban, di mana banyak para pendatang di kota ini yang membawa seni budayanya dari daerah asal masing-masing, kemudian terakulturasi menjadi budaya baru yang dikenal sebagai budaya arek. Ada Wayang Gagrak Porongan, Reog Cemandi, Hadrah, Remo Munali Patah, Jaranan, Patrol, Kentrung, Terbang Jidor, Bantengan, dll.

“Semua itu adalah aset budaya di masa lalu dan masa kini yang sangat berharga bagi Sidoarjo. Artinya Sidoarjo ini bukan wilayah kabupaten bisanya, tetapi luar biasa. Tidak berlebihan jika kita katakan hampir sama dengan kota-kota budaya lainya, misalnya Yogyakarta. Fakta-fakta empiris seperti inilah yang seharusnya kita jadikan landasan untuk menentukan arah dan strategi pemajuan seni budaya untuk masa depan Sidoarjo,” papar Ali Aspandi.

Dijelaskannya, Rapat Kerja Dewan Kesenian Sidoarjo tahun 2021 telah memilih tema yaitu “Memacu Pemajuan Seni Budaya Sidoarjo untuk Mewujudkan Sidoarjo sebagai Kota Budaya”. Tema tersebut sebagai langkah awal penentuan strategi menuju pemajuan seni budaya untuk masa depan. Tujuannya agar semua pemangku kepentingan maupun stakeholder seni budaya di kota ini bersama-sama terpacu untuk mengisi Sidoarjo sebagai kota budaya dengan sistem tata kelola lebih baik lagi.

“Dengan cara ini, diharapan ada pemajuan seni budaya di Sidoarjo ke depan makin maju. Hal ini tidak saja berdampak terhadap branding kabupaten Sidoarjo, tetapi sektor pariwisata, bahkan Indeks Pembangunan Manusia bagi warga Sidoarjo akan terangkat juga,” katanya.

Tema dengan pemikiran-pemikiran kritis di atas menjadi agenda utama dalam rapat kerja Dewan Kesenian Sidoarjo tahun 2021, selain agenda sistem kerja, evaluasi kerja, program kerja dan persiapan Musyawarah Daerah Dewan Kesenian Sidoarjo tahun 2022 nanti. “Termasuk, raker ini sebagai ajang silaturahmi bagi para komunitas yang ada Sidoarjo,” katanya. [but]


Apa Reaksi Anda?

Komentar