Pendidikan & Kesehatan

RSUD Gambiran Kota Kediri

Mereka Adalah ‘Kartini-Kartini’ Penjaga Ruang Isolasi

Kediri (beritajatim.com) – Setiap era, punya ‘Kartini-nya’ sendiri. Masa pandemi Corona, para perempuan tenaga kesehatan merupakan Kartini-Kartini negeri ini yang berjuang di garis depan. Tak hanya keahlian tapi juga ketahanan fisik dan psikis diperlukan untuk berada di zona ini.

“Kami membayangkan, andai yang sakit itu anak, suami, atau saudara sendiri, bukan orang lain. Jadi semua tenaga medis di sini merawat pasien Covid dengan sepenuh hati,” kata Yatiani, Kasi Pelayanan Keperawatan RSUD Gambiran, Selasa (21/4/2020).

Sejumlah 19 tenaga kesehatan ditempatkan di Ruang Isolasi RSUD Gambiran, 11 di antaranya perempuan. Menurut Yatiani, memang perawat lebih banyak perempuan. Mereka berjaga 24 jam terdiri dari 3 shift (pagi, siang, dan malam) ditambah 1 shift bebas.

Seiring berjalannya waktu, pemahaman masyarakat tentang tugas tenaga medis menempati garis paling depan melawan Covid-19 ini mulai meningkat. Mereka tak lagi menjauhi tenaga medis. Pun keluarganya mulai memaklumi.

“Kalau masyarakat tahu saya kerja di RS, anak-anak dan suami tahu saya di Ruang Isolasi. Kami jaga diri saja,” kata Sri Aning (45 tahun), perawat di Ruang Isolasi yang juga bagian PPI (Pencegahan dan Pengendalian Infeksi) RSUD Gambiran. Kebetulan anak-anak sudah besar, jadi mudah diberi pehamanan.

Untuk nakes (tenaga kesehatan) yang anak-anaknya masih kecil, mereka memilih untuk tidak pulang ke rumah. Rumah sakit menyediakan kamar untuk ruang karantina untuk para nakes yang tidak pulang itu.

“RS menyediakan ruang karantina untuk petugas Ruang Isolasi. Jadi mereka bertugas selama 7 hari di Ruang Isolasi, kemudian libur 7 hari. Nah, waktu libur itu mereka tidak pulang ke rumah tapi dikarantina di RSUD Gambiran dengan semua fasilitas,” terang dr. Fauzan Adhima, Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kota Kediri.

Kini, para nakes relatif tenang untuk bertugas sebab APD sudah lengkap meski tetap ketat menerapkan prosedur. Ada tiga zona di Ruang Isolasi yaitu hijau, kuning, dan merah. Di zona merah ini, harus pakai APD. Usai bertugas, APD dilepas di ruang ganti, kemudian mandi sebelum keluar dari Ruang Isolasi. Rute pun sudah ditentukan sehingga meminimalkan virus menyebar.

“Kalau bagi kami, selain menaati SOP, tidak boleh stres. Dibawa happy,” demikian kiat Yatiani. Baginya, menangani pandemik bukan untuk pertama kali. Ia pun pernah bertugas era pandemik SARS COV 1 tahun 2011. Tapi saat itu sifatnya hanya jaga-jaga, bukan menangani pasien seperti sekarang.

Selain benteng kekebalan dari diri sendiri, Fauzan menambahkan bahwa dari manajemen memberikan vitamin dan buah. Kalau ada donasi berupa vitamin, buah atau makanan lainnya pasti dibagikan ke petugas Ruang Isolasi.

Hingga rilis ini ditulis, Ruang Isolasi ditempati oleh 13 pasien, 3 pasien di antaranya positif Covid-19 dan kini dalam kondisi kesehatan bagus. “Imbauan kami dari Ruang Isolasi, mohon masyarakat di luar untuk menaati aturan pemerintah. Tinggal di rumah, pakai masker, dan rajin cuci tangan untuk memutus penyebaran virus ini,” imbau Aning. [nm/suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar