Iklan Banner Sukun
Pendidikan & Kesehatan

Merebak Pasca 1998, Film Bercorak Budaya Tionghoa Mengedukasi Warga

Jember (beritajatim.com) – Reformasi 1998 tak hanya mengubah wajah politik Indonesia, namun juga kultur sinema negeri ini. Salah satunya merebaknya film-film yang bercorak budaya Tionghoa.

Umilia Rokhani, dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, mengatakan, awalnya film-film itu bergenre indie, yang kemudian oleh sineasnya diikutsertakan dalam berbagai festival. “Film-film ber-genre budaya Tionghoa tersebut mengenalkan sekaligus mengedukasi penonton akan adanya sisi yang beragam dari budaya Tionghoa,” katanya, dalam acara webinar NGONTRAS#1 (Ngobrol Nasional Metasastra) bertema ‘Komodifikasi Sastra dan Film’ yang digelar oleh Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia (Hiski) Komisariat Jember, di Kabupaten Jember, Jawa Timur, Sabtu (14/8/2021).

Menurut Umilia, setelah mendapatkan sambutan yang positif, para sineas itu lantas melebarkan sayap ke produksi film komersial. Salah satunya film-film besutan Ernest Prakarsa. “Kini dampaknya penonton Indonesia mulai tahu dan paham akan budaya Tionghoa dan kehidupannya,” katanya, sebagaimana dilansir Humas Universitas Jember.

Beritajatim.com mencatat beberapa film yang menampilkan kultur Tionghoa itu antara lain Silent Hero(es) yang menjadi film Indonesia pertama berbahasa Mandarin dialek Hakka, Karma yang merupakan film bergenre horor pertama yang menampilkan budaya Tionghoa, dan Ca-bau-kan yang merupakan adaptasi dari novel berjudul sama karya Remy Silado.

Membuka kegiatan webinar, Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember Sukarno mendukung ide #NGOTRAS1. Ide ini sesuai dengan semangat pemerintah yang mendorong berkembangnya dunia kreatif termasuk perkembangan dunia film Indonesia.

Sukarno berharap generasi milenial yang awalnya tidak membaca karya sastra atau buku sejarah menjadi tertarik setelah melihat film. Ketua Hiski Komisariat Jember Heru Saputra menjelaskan, #NGONTRAS rencananya akan diadakan berkala. “Bisa berupa kegiatan webinar, bedah buku, bedah film atau kuliah pakar,” katanya. [wir/suf]


Apa Reaksi Anda?

Komentar