Pendidikan & Kesehatan

Mengapa Pembuatan Vaksin Covid-19 Lama? Begini Penjelasan Profesor Unair

Surabaya (beritajatim.com) – Perjalanan panjang dilalui para peneliti Universitas Airlangga dalam pembuatan obat dan vaksin Covid-19. Perjalanan panjang ini bukan karena ketidakmampuan dari kapasitas peneliti Indonesia, melainkan penelitian ini berkaitan dengan ‘barang berbahaya’ yang harus diteliti dengan hati-hati dan sesuai aturan kesehatan dunia.

Menurut Juru Bicara Penelitian Covid-19 Unair Prof. Dr. Ni Nyoman Tri Puspaningsih M.Si pembuatan vaksin setidaknya membutuhkan waktu 2 tahun. Karena pembuatan vaksin merupakan penelitian dan proyek jangka panjang yang rumit dan membutuhkan alat yang sangat memadai.

Penelitian vaksin ini harus dilakukan di laboratorium BSL3 yang tidak semua instansi penelitian memilikinya, hanya ada 3 instansi di Indonesia yang memiliki laboratorium BSL3 ini, salah satunya ada di Intitute Tropical Disease (ITD) Unair.

“Penelitian pembuatan vaksin harus dimulai dengan men-sequence virusnya atau mencari RNA nya, yakni proses mengetahui copy susunan DNA. Pada dasarnya proses ini mudah tetapi masalahnya karena proses ini tidak bisa dilakukan di sembarang tempat. Harus dilakukan di laboratorium dengan keamanan level ketat atau laboratorium BSL3. Berhubungan dengan virus tidak boleh sembarangan. Kalau virus ini bocor, nah itu bisa menyebabkan pandemi seperti saat ini,” jelas Prof Nyoman, kepada beritajatim.com, Jumat (8/5/2020).

Hasil dari sequence RNA virus ini disebut Whole Genom, yang memungkin untuk melihat keaslian genetik dari virus. Unair mampu melakukan Whole Genom karena di Unair memiliki laboratorium BLS3 dan alat NGS (New Generation Sequence) yang merupakan alat sequence mikroba yang mutakhir.

Menurut Prof Nyoman, pembuatan vaksin membutuhkan bahan atau sample Whole Genom asli Indonesia. Karena Whole Genom merupakan identitas asli dari virus dan setiap virus memiliki ke khasannya masing masing, maka dibutuhkan setidaknya sample atau contoh data Whole Genom dari masing masing daerah di Indonesia.

“Harus Whole Genom asli Indonesia, karena Covid-19 ini adalah RNA Virus yang mudah bermutasi dan meskipun jenisnya sama Covid-19 tetapi virus pasti akan beradaptasi dengan spesimennya. Kalau ke orang Indonesia bagaimana ke orang China bagaimana. Susunan DNA nya akan berbeda. Karena itu, dibutuhkan Whole Genom yang spesifik agar tepat dan sesuai dengan antibodi orang Indonesia tentunya hasilnya akan maksimal dalam menangkal virus yang akan menyerang,” terangnya.

Sampai saat ini, Unair telah temukan 6 varian baru Whole Genom pada 20 sampel pasien positif di Jawa Timur. Dengan demikian di Indonesia, memiliki 9 sample virus Whole Genom, yakni 6 dari Unair dan 3 dari Jakarta. Prof Nyoman mengatakan bahwa setidaknya dibutuhkan 5 Whole Genom dari tiap daerah di Indonesia.

“Alhamdulillah Indonesia sudah ada 9. Itu sangat kurang untuk pembuatan vaksin. Setidaknya butuh 5 sample Whole Genom dari tiap daerah. Yang nantinya akan kita lihat Whole Genom dari mana yang paling kuat daya infeksinya. Nah, kita akan memakai data dari Whole Genom terkuat itu untuk Vaksin,” papar Prof Nyoman.

Dari penjelasan Prof Nyoman, virus juga seperti manusia, ada yang kuat ada pula yang ringkih. Maka dari itu dibutuhkan sample Whole Genom yang banyak untuk mencari virus terkuat daya infeksinya. Karena virus mudah bermutasi maka dibutuhkan pula Whole Genom dari seluruh daerah di Indonesia untuk menghasilkan vaksin yang spesifik.

“Ya ini adalah penelitian jangka panjang, butuh setidaknya 2 tahun. 1 tahun untuk penelitian virusnya, 1 tahun untuk uji pre klinis dan uji klinis. Bayangkan saja, kita harus mengumpulkan whole genom setidaknya dari seluruh wilayah Indonesia, kemudian kita harus uji pre klinis lalu menguji cobakan ke manusia, sesuai kategori umur dan jenis kelamin. Tentunya ini perjalanan yang panjang,” tukasnya Prof Nyoman. [adg/kun]





Apa Reaksi Anda?

Komentar