Pendidikan & Kesehatan

Menengok Rumah Bambu Anak Rimba di Kampoeng Batara Banyuwangi

Banyuwangi (beritajatim.com) – Lokasi Kampoeng Batara atau Kampung Baca Taman Rimba terletak di tepi hutan, Lingkungan Papring, Kelurahan Kalipuro, Kecamatan Kalipuro, Kabupaten Banyuwangi. Kampung ini terletak sekitar 15 kilometer dari kota Banyuwangi, dan berada di ketinggian 1000 meter dari permukaan laut.

Kampoeng Batara merupakan tempat berkumpulnya anak-anak di tepi hutan kaki Gunung Raung, untuk menuangkan kreativitas, yang biasa dikenal sebagai anak-anak rimba itu. Disebut anak rimba, karena tiap musim tanam mereka akan berjaga di hutan agar tanaman mereka tidak dirusak babi hutan.

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani saat peresmian rumah bambu di Kampoeng Batara, Papring, Kalipuro. (humaskab).

Mayoritas penduduk di kampung ini merupakan petani dengan memanfaatkan sistem pertanian tumpang sari di hutan. Anak-anak rimba ini telah terbiasa keluar masuk hutan untuk menjaga tanaman mereka.

Meski berada di pinggiran hutan, tapi soal kreativitas dan belajar tak pernah mau ditinggalkan. Mereka tetap melakukan proses belajar mengajar di sekolah terdekat.

Keberadaan Kampoeng Batara ini, sekaligus menjadi tempat berkumpul untuk sekali meluangkan waktu sambil belajar di luar sekolah. Belajar sambil bermain bersama alam yang tersaji di sekitar mereka.

Kini, Anak-anak rimba hutan kaki Gunung Raung, Kecamatan Kalipuro, memiliki Rumah Bambu sebagai wadah kreativitas. Rumah Bambu Kampoeng Batara  tersebut menjadi amphitheater yang seluruh bahannya terbuat dari bambu.

Rumah Bambu berukuran 10×20 meter itu didesain terbuka sehingga terasa sejuk meski cuaca panas. Rumah Bambu yang terletak di ketinggian kawasan hutan itu menjadi tempat anak-anak belajar, bermain, beraktivitas, berlatih seni, dan lainnya.

“Saya sudah berkali-kali datang ke sini. Saya sangat senang dan mengapresiasi apa yang dilakukan oleh warga di sini,” kata Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, saat meresmikan Rumah Bambu Kampoeng Batara, Selasa (30/3/2021).

Anak-anak rimba Kampoeng Batara saat bermain permainan tradisional. (rindi)

Rumah Bambu ini selaras dengan potensi Kelurahan Papring yang dikenal dengan potensi bambunya. Papring dikenal sebagai panggone pering (tempatnya bambu). Di kampung ini banyak masyarakat yang memproduksi besek (wadah bambu).

“Saya harap dengan Rumah Bambu ini membuat anak-anak bisa semakin nyaman belajar dan bermain,” kata Ipuk.

Ipuk mengatakan anak-anak di Kampoeng Batara ini sangat kreatif. Dia melihat saat pembukaan Rumah Bambu anak-anak di kampung ini mampu menampilkan berbagai seni tradisi. Mulai dari pencak silat, barong, tari, memainkan musik tradisi, dan lainnya.

“Satu anak bisa memainkan berbagai seni. Ini membanggakan. Saya harap apa yang dilakukan di Kampoeng Batara ini bisa menular ke kampung-kampung lainnya,” kata Ipuk.

Rumah Bambu ini merupakan bagian dari CSR Pertamina Tanjung Wangi. Widie Nurmahmudy, pendiri Kampoeng Batara, berterima kasih atas dukungan dari berbagai pihak atas pengembangan anak-anak di Kampoeng Batara ini.

“Ini semakin membuat kami semangat. Kami terima kasih pada semua pihak. Semoga anak-anak semakin nyaman dan semangat untuk bermain dan belajar lagi,” kata Widie.

Anak-anak rimba saat bermain permainan tradisional di Kampoeng Batara, Papring, Kalipuro. (rindi)

Menurut Widi terdapat sekitar 40 anak yang bergabung di Kampoeng Batara. Ia menjelaskan di Kampoeng Batara selain menjadi taman baca anak-anak dan masyarakat, juga menjadi tempat anak-anak untuk bermain permainan-permainan tradisional.

“Selain itu juga belajar bela diri, seni tradisi, dan aktivitas di luar rumah lainnya,” Ujarnya. (rin/kun)



Apa Reaksi Anda?

Komentar