Pendidikan & Kesehatan

Menengok Gedung Diklat ASN di Banyuwangi yang Disulap Jadi Ruang Karantina Covid 19

Banyuwangi (beritajatim.com) – Tak seperti biasa Gedung Pendidikan dan Pelatihan Aparatur Sipil Negara (ASN) di Kecamatan Licin, Banyuwangi hanya digunakan saat adanya diklat para PNS. Tapi, kali ini gedung yang berada di lereng Gunung Ijen itu kini berfungsi beda.

Ya, pemerintah setempat menyulap gedung itu jadi ruang karantina pasien orang tanpa gejala (OTG) Covid 19. Bahkan tak tanggung, pemda Banyuwangi mempermak bangunan itu jadi lebih mewah. Fasilitasnya lengkap, mirip kondisi di hotel.

Penggunaan gedung diklat ini memang bukan tanpa alasan. Pasalnya Satgas Covid 19 Banyuwangi menemui jumlah pasien konfirmasi positif terjadi penambahan setiap harinya.

Sehingga, untuk meminimalisir transmisi lokal covid 19, para pasien konfirmasi covid 19 tanpa gejala di Banyuwangi mulai dilakukan karantina secara terpusat. Mereka menjalani masa isolasi mandiri di gedung tersebut.

“Satgas lalu memutuskan untuk memfasilitasi para pasien OTG covid untuk melakukan isolasi mandiri secara terpusat. Harapannya, dengan isolasi terpisah dari lingkungannya, mereka yang sudah terinfeksi virus corona tidak akan menularkan ke sekitarnya,” kata Juru Bicara penanganan Covid-19 Banyuwangi, dr. Widji Lestariono, Rabu (7/10/2020).

Dalam menjalani masa isolasi, para pasien OTG harus dalam keadaan fresh, baik kondisi tubuhnya maupun pikirannya. Oleh sebab itulah, ada sejumlah fasilitas yang disiapkan oleh Satgas untuk memanjakan pasien OTG. Mulai dari kamar yang bersih, fasilitas olahraga, Wi-FI, dan lain sebagainya.

“Subuh kita bangunkan untuk salat bersama. Kemudian jam 6 pagi sarapan, dilanjutkan senam di halaman mulai jam 7 sampai setengah 8 agar mereka terkena sinar matahari. Saat sore hari, kita siapkan kegiatan olahraga, mulai dari bola plastik dan juga tenis meja,” kata Rio.

Saat pasien beraktivitas inilah, kamar isolasi dibersihkan dan disemprot disinfektan oleh petugas. Sehingga saat mereka kembali ke kamar untuk menjalani isolasi, ruangan sudah dalam kondisi steril. Pelayanan ini dilakukan untuk tidak memberatkan pasien. “Usai senam pagi, pasien kembali ke kamar masing-masing untuk membersihkan diri. Di dalam kamar sudah kita sediakan televisi, Wi-fi, dispenser dan kompor untuk membuat teh, kopi, maupun mie,” imbuhnya.

Sejauh ini ada 17 pasien OTG yang tengah menjalani isolasi di Gedung Diklat PNS. Tak hanya itu, Satgas Covid-19 juga berencana mengundang pemusik jalanan untuk memberi hiburan kepada pasien dua kali dalam seminggu. “Rencananya, juga untuk menggelar pengajian setiap malam jumat. Ini masih kita kaji. Intinya kita ingin pasien selama menjalani isolasi dalam kondisi bahagia,” tuturnya.

Rio menambahkan, dalam setiap aktivitas yang dilakukan pasien OTG diberlakukan protokol kesehatan ketat, termasuk seluruh petugas yang berjaga di sana. Hal ini bertujuan agar mereka tidak menjadi sumber penularan baru Covid-19.

Selain itu, mereka tidak diperkenankan meninggalkan lokasi karantina sebelum dinyatakan sembuh. Masyarakat luar juga dilarang keras untuk memasuki lokasi karantina. “Gedung Diklat dijaga ketat oleh petugas gabungan dari TNI-Polri, BPBD, dan tenaga kesehatan. Pasien tidak boleh keluar dari lokasi karantina, dan sebaliknya masyarakat dilarang masuk ke dalam,” tegasnya.

Dengan penjagaan dan pemberlakuan protokol kesehatan ketat, masyarakat sekitar diimbau agar tidak khawatir tertular Covid-19 dari pasien OTG yang menjalani karantina di Gedung Diklat PNS. “Penularan Covid-19 ini kan melalui droplet saat orang berbicara atau bersin. Jarak percikan tersebut satu sampai 1,5 meter. Selama masyarakat tidak masuk ke area karantina, pasti tidak akan tertular,” pungkasnya. (rin/kun)





Apa Reaksi Anda?

Komentar