Pendidikan & Kesehatan

Seminar dan Kongres FPTVI

Mendikbud: Vokasi Harus Bisa menjadi Solusi

Surabaya (beritajatim.com) – Seminar Nasional dan Kongres Forum Pendidikan Tinggi Vokasi Indonesia (FPTVI) 2020 yang digelar secara daring (dalam jaringan), Sabtu, (21/11/2020). Kali ini, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) didapuk menjadi tuan rumah kegiatan yang dilaksanakan untuk kali ketujuh ini.

“Terima kasih kepada FPTVI yang sudah memberikan kesempatan baik ini kepada ITS, semoga kegiatan ini dapat memberikan banyak manfaat untuk Indonesia ke depannya,” ungkap Rektor ITS Prof Dr Ir Mochamad Ashari MEng dalam sambutannya.

Seminar dan kongres tahun ini mengusung tema besar Kolaborasi Pendidikan Vokasi dan Industri untuk Menjadikan Indonesia Lebih Hebat. Tak hanya itu, pada sidang komisi ini terbagi menjadi empat bidang yang diharapkan bisa menjawab isu-isu dan permasalahan substantif, serta mencapai tujuan yang strategis. Empat bidang tersebut adalah Sinergi Industri, Pendidikan Vokasi dan Profesi, Teaching Factory, serta Keorganisasian dan Proker.

Menurut Ketua FPTVI Prof Dr Ir Budiyono MSi mengatakan bahwa pembahasan pada Seminar dan Kongres FPTVI 2020 ini menyesuaikan kondisi terkini, yang masih dalam masa pandemi Covid-19.

“Sidang komisi kali ini sedikit dimodifikasi agar bisa mengakomodir isu-isu terkini dan diharapkan dengan adanya kongres kali ini, bisa bermanfaat dan langsung diaplikasikan di Perguruan Tinggi masing-masing,” ujarnya.

Dekan Fakultas Vokasi ITS Prof Ir Muhammad Sigit Darmawan MEngSc PhD juga menambahkan bahwa dengan adanya pandemi ini bisa memberikan dampak positif maupun negatif. Ia mengatakan, adanya pandemi membuka banyak kesempatan baru yang tidak pernah dilakukan, seperti diadakannya seminar dan kongres secara daring ini.

“Yang penting adalah bagaimana dapat menciptakan berbagai inovasi, yang merupakan PR kita semua sebagai penggiat pendidikan,” tuturnya.

Pada Seminar Nasional FPTVI 2020 kali ini dihadiri tamu spesial, yakni Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) RI Nadiem Anwar Makarim BA MBA. Meskipun tidak dapat hadir secara langsung, ia menyempatkan untuk menyampaikan beberapa hal terkait Pembangunan SDM di Indonesia ke depannya.

Nadiem mengungkapkan, pembangunan SDM yang unggul merupakan kunci pembangunan Indonesia dan menjadi prioritas bangsa. Oleh karena itu, pendidikan menjadi aspek penting dalam pembangunan SDM, termasuk pendidikan vokasi di Indonesia.

“Keseriusan pemerintah dalam memaksimalkan potensi dan menggarap pembangunan SDM, khususnya vokasi dibuktikan dengan pembentukan direktorat jenderal khusus, yaitu Direktorat Jenderal Vokasi,” tandasnya.

Nadiem mengatakan bahwa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) berkomitmen untuk benar-benar mendorong kemajuan institusi pendidikan vokasi melalui strategi link and match.

“Link and match kali ini tidak sekedar seremoni dan tanda tangan Memorandum of Understanding (MoU), namun betul-betul secara substantif sampai mewujudkan pendidikan dan lulusan vokasi yang relevan dengan dunia nyata,” tukasnya.

Ia juga mengatakan, hal tersebut tentunya harus didukung oleh semua pihak. ”Strategi ini bukan diukur dari semata-mata aspek fisik yang nampak, tetapi juga harus dimulai dari perubahan pola pikir dan kepemimpinan kepala SMK, guru-guru, dekan, atau direktur kampus vokasi,” tambahnya.

Kemdikbud pun terus berusaha menghadirkan berbagai terobosan baru. Tak hanya menambah daya tarik pendidikan vokasi, tetapi juga memberi kesempatan bagi peserta didik untuk memilih yang terbaik. Pekan lalu, Kemdikbud telah meluncurkan dua program terobosan, yaitu program SMK Diploma 2 (D2) jalur cepat dan program peningkatan prodi D3 menjadi sarjana terapan atau D4.

“Terobosan ini kami hadirkan untuk memberikan kesempatan yang lebih fleksibel bagi pendidikan vokasi, sehingga dapat berjejaring dan menyiapkan calon tenaga kerja yang handal dan matang,” terang Nadiem.

Nadiem juga mengajak berpikir dari hulu ke hilir. Program-program vokasi termasuk PT Vokasi harus berbasis kebutuhan nyata. Tanpa hal itu, tentunya tidak dapat menciptakan lulusan dengan kompetensi yang relevan, memiliki mental siap kerja, dan siap belajar sepanjang hayat. “Vokasi harus bisa menjadi solusi, berinovasi, dan kuat untuk Indonesia,” tegasnya mengingatkan.

Terakhir, Nadiem mengingatkan bahwa tanggung jawab untuk menyelenggarakan pendidikan vokasi ada di pundak kita semua. Ia berharap upaya baik ini dapat segera terlaksana, sehingga dapat menghadirkan pendidikan vokasi yang relevan dan vokasi bisa semakin berperan strategis dalam memajukan Indonesia. “Salam vokasi kuat, menguatkan Indonesia,” pungkas Nadiem. [adg/but]





Apa Reaksi Anda?

Komentar