Pendidikan & Kesehatan

Cerita Pasien Covid-19

Melewati Mimpi Buruk di Ruang Isolasi

LW saat berada di ruang isolasi RSUD Jombang

Jombang (beritajatim.com) – Seorang pria berinisial LW menghempaskan tubuhnya di atas ranjang. Dia berusaha memejamkan mata, namun pikirannya tetap saja melayang-layang. Datang silih berganti. Tentu saja, rasa kantuk yang diharapkan, tak kunjung datang.

Itulah hari pertama LW menghuni ruangan isolasi seluas 3X2 meter di RSUD (Rumah Sakit Umum Daerah) Jombang, Jawa Timur. Di ruangan itu, jam dinding seakan malas bergerak. Pergantian hari berjalan seperti siput. Ya, semuanya terasa lambat.

Namun demikian, di ruang isolasi itulah pria penghobi fotografi ini harus menghabiskan hari-harinya berteman sunyi. LW harus berpisah dengan keluarganya untuk sementara waktu. Semua itu terjadi setelah LW dinyatakan positif Covid-19 pada 7 September 2020.

Ruang isolasi itu berada di bagian belakang RSUD Jombang. Ada yang satu ruangan yang terdiri dari enam ranjang. Ada pula satu ruangan, satu ranjang seperti yang dihuni oleh LW. Luasnya 3X2 meter. Selama di ruangan tersebut LW banyak menghabiskan waktu di atas ranjang. Hanya kesunyian yang menemaninya.

Hanya pada pagi hari, bapak tiga anak ini keluar ruangan untuk penyegaran. Melakukan olahraga kecil-kecilan dan berjemur di bawa terik matahari. “Disediakan tempat mirip taman untuk pasien Covid-19 berolahraga. Di situlah biasanya kami bertemu sesama pasien Covid-19,” ujar LW ketika dihubungi lewat ponselnya, Jumat (23/10/2020).

Walhasil, usai berjemur dan melakukan olahraga kecil, tubuh LW menjadi bugar. Sekitar satu jam kemudian, pria yang juga pengelola keda kopi ini kembali ke ruangan isolasi. Menikmati sarapan pagi dengan menu sayur dan tambahan buah segar.

LW sadar, agar imunitas tubuhnya meningkat, dirinya harus banyak makan buah dan sayur. Oleh karena itu, jatah sarapan pagi yang disediakan oleh perawat selalu ia makan hingga tandas. Setelah sarapan, tak ada aktivitas lagi. Dari situlah dirinya selalu didera kebosanan.

Tak ada pesawat televisi di ruangan itu. Satu-satunya hiburan adalah ponsel. Peralatan itu pula yang dia gunakan untuk komunikasi dengan dunia luar. Menghubungi anak dan istri, serta berkomunikasi dengan orangtua.

“Bapak saya hendak mengirimi buku bacaan agar ada hiburan di ruang isolasi. Tapi saya tidak mau. Sudah terlanjur stres,” kata LW sembari mengatakan bahwa untuk komunikasi dengan perawat, di ruangan tersebut disediakan semacam telepon.

Petugas RSUD Jombang menunjukkan ruang isolasi yang digunakan sebagai perawatan jika ada pasien terjangkit virus corona, Jumat (24/1/2020). [Foto/Yusuf Wibisono)
Ketika malam tiba, kebosanan semakin mendera. Bahkan LW mulai berhalusinasi. Pernah suatu ketika, LW merasa sedang dikejar-kejar tentara. Dia takut bukan kepalang. Kemudian membentak tentara tersebut agar menyingkir dari ruang isolasi. “Beberapa hari di kamar, saya sampai didera halusinasi. Seperti diburu tentara,” tambahnya.

Kabar baik itu datang pada Selasa (22/9/2020). LW menjalani uji swab kedua. Petugas mengambil sampel lendir dari tenggorokan pria berambut ikal ini. Hal itu untuk mengetahui apakah virus corona masih bersarang dalam tubuh LW atau sebaliknya.

Selasa malam, dia mendapat pemberitahuan dari petugas rumah sakit bahwasannya uji swab menunjukkan hasil negatif. LW juga diminta menghubungi keluarganya agar dijemput dari ruang isolasi. Mendapatkan kabar itu, LW tak henti berucap syukur. Karena ‘mimpi-mimpi buruk’ di ruang isolasi segera terlewati.

“Kabar baik itu justru membuat saya tidak bisa tidur. Rasa bahagia, haru, senang, campur aduk jadi satu. Saya menghuni ruang isolasi selama 17 hari. Mulai 7 hingga 22 September 2020. Ini pengalaman yang tak mungkin terlupakan dalam hidup saya,” kata pengelola kedai kopi di Jombang ini.

Tertular di Surabaya

LW yang sudah melakukan aktifitas di lapangan usai dinyatakan negatif Covid-19

LW berkali-kali memegang hidung, kemudian menjulurkan lidahnya. Secara fisik dua anggota tubuh LW itu normal. Hidungnya tidak buntu karena pilek. Begitu juga dengan lidahnya. Namun yang menjadi aneh, hidung pria berusia 38 tahun ini tak bisa mencium apa-apa.

Begitu juga dengan lidah. LW berkali-kali menelan makanan, baik yang berasa pedas maupun asin, namun lidahnya seolah mati. Pun ketika LW menyeruput minuman manis, tidak merasakan apa-apa. Semuanya mati rasa. Semuanya hambar. Hal itu semakin klop dengan tubuh LW yang terasa meriang.

Berbagai asumsi langsung muncul dari benak LW. Salah satunya tentang Covid-19. Sejak itu pria yang pernah kuliah di Malang ini mengurung diri di kamar. Dia membatasi diri berinteraksi dengan istri dan anaknya. LW curiga keganjilan pada tubuhnya adalah akibat gempuran virus dari Wuhan, China tersebut.

Karena dua hari sebelumnya, LW nekat menerobos ke zona merah penyabaran Covid-19, yaitu Surabaya. Di kota pahlawan, LW membeli sejumlah peralatan untuk keperluan kedai kopi miliknya. Di kota pahlawan itu pula, LW mampir ke sejumlah kafe dan kedai kopi untuk ‘studi banding’. Membandingkan kopi asal Surabaya, dengan kopi yang ada di kedai miliknya.

“Sabtu, 29 Agustus 2020, saya pergi ke Surabaya. Nah, dua hari kemudian atau 2 September, hidung saya tak bisa mencium bau apapun. Demikian juga dengan lidah saya. Semuanya mati rasa. Makanya selama tiga hari melakukan isolasi mandiri di rumah,” katanya berkisah.

LW masih ingat, sebelum berangkat ke Surabaya, kondisi tubuhnya juga kurang fit. Karena selama lima hari terakhir, LW begadang hingga larut malam. Bahkan baru bisa memejamkan mata pada dini hari. Merasa ada yang tidak beres dengan tubuhnya, LW lantas memeriksakan diri ke RSUD Jombang pada 7 Sepetember 2020.

Semua keluhan yang dia rasakan disampaikan ke petugas medis. Hari itu pula LW dikarantina di ruang isolasi RSUD Jombang. Petugas juga melakukan uji swab terhadap bapak tiga anak ini. “Berdasarkan uji swab, saya dinyatakan positif Covid-19. Kemungkinan tertular dari Surabaya. Dan harus menjalani karantina hari itu pula,” ungkapnya.

Menurut LW, dia masuk kategori OTG (orang tanpa gejala). Karena tidak ada gejala medis yang menghinggapi dirinya. Bahkan hasil rapid tes atau tes cepat, LW dinyatakan non-reaktif. “Saya masuk OTG. Mungkin karena imunitas saya sedang drop, sehingga virus mudah masuk,” sambungnya.

3M dan Minyak Kayu Putih
Pertengahan Oktober 2020, LW menenteng kamera di depan kantor DPRD Jombang. Hidung dan mulutnya tertutup masker warna telur asin. LW juga terlihat beberapa kali menyemprotkan cairan hand sanitizer ke telapak tangannya. Ketika ratusan buruh melakukan demonstrasi di gedung dewan, LW membidikan kameranya untuk mengabadikan moment tersebut.

Ketika ada kerumunan, LW perlahan bergeser guna menjaga jarak. Begitu juga saat memasuki kantor DPRD Jombang, pria berambut ikal ini terlebih dulu ke tempat cuci tangan yang sudah disiapkan. Dia membasuh kedua tangannya dengan sabun.

Memang, sejak dinyatakan negatif dari Covid-19, LW lebih disiplin. Dia tidak mau kecolongan lagi. Karena berdasarkan pengalaman, dia tertular virus asal China tersebut karena teledor soal cuci tangan. “Saat main ke kafe di Surabaya, saya tidak cuci tangan. Dari situlah virus corona masuk ke tubuh saya. Dari pengalaman itu, cuci tangan pakai sabun harus sesering mungkin,” ujarnya.

Begitu juga dengan masker. Menurut LW, masker sangat penting untuk melindungi diri dari serangan virus. Pendek kata, lanjut LW, masker bisa melindungi dirinya dan melindungi orang lain. Makanya sejak keluar dari ruang isolasi, masker selalu menghiasi hidung dan mulut LW. Barang tersebut seakan menjadi jimat bagi penghobi fotografi ini.

LW mewanti-wanti agar masyarakat tidak sampai teledor. Karena kunci utama dalam memutus rantai penyebaran Covid-19 adalah 3M (Memakai Masker, Mencuci Tangan, Menjaga Jarak). “Itu berdasarkan pengalaman saya yang pernah positif Covid. Saya terkena Cavid karena teledor, tidak melakukan cuci tangan. Jadi ini penting sekali,” katanya menegaskan.

Bapak tiga anak ini juga menceritakan pengalaman di ruang isolasi yang notabene mempercepat kesembuhannya. Selain rutin minum vitamin, buah, serta olahrga, LW juga rutin menggunakan minyak kayu putih sebagai media terapi. Minyak tetrsebut ia oleskan di masker yang hendak ia pakai.

Selain itu, juga meneteskan minyak kayu putih di lidahnya. Walhasil, lidah yang sebelumnya mati rasa, secara perlahan mulai berfungsi. “Itu yang saya lakukan selama berada di ruang isolasi. Namun yang terpenting adalah 3M,” kata LW mengulang pesannya. [suf]





Apa Reaksi Anda?

Komentar