Pendidikan & Kesehatan

Melalui Sekolah Lapang, Pemkab Kediri Genjot Perluasan Lahan Pertanian Organik

Kediri (beritajatim.com) – Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Kediri menyelenggarakan sekolah lapang pengembangan pertanian organik kepada para petani. Kegiatan berlangsung di lahan pertanian Desa Brenggolo, Kecamatan Plosoklaten.

Dalam pelatihan ini, petani memperoleh materi tentang tata cara pembuatan pupuk organik cair dan pestisida nabati (pesnab) dengan menggunakan mikro organisme lokal (mol) di rumah warga. Selain itu, mereka juga melakukan pengamatan organisme pengganggu tanaman (OPT).

Dalam pengamatan tersebut, petani mendapati tanaman penganggu di lahan persemaian padi organik dan organisme lain. Selanjutnya, hasil pengamanan dipresentasikan dalam diskusi kelompok, untuk dicarikan solusi pemecahan masalah.

Dispertabun sebagai penyelenggara kegiatan menghadirkan narasumber dari POPT UPT Proteksi Dinas Pertanian dan Ketahanan Panganan Provinsi Jawa Timur, Mohammad Karim. Kegiatan tersebut bertujuan untuk meningkatkan sistem pertanian organik di kabupaten kediri yang lebih unggul baik dari kualitas produk maupun harga jual.

“Kami melaksanakan kegiatan ini setiap satu minggu sekali. Ini merupakan pertemuan ketiga kalinya. Melalui pertemuan ini, kami berharap sistem pertanian organik di Kabupaten kediri semakin meluas,” kata Rini Pudyastuti, Kasi Budidaya dan Perbenihan Tanaman Pangan Dispertabun Kabupaten Kediri.

“Dua tahun sebelum ini, hanya ada empat wilayah kecamatan yang menjadi cluster embrio pertanian organik yaitu, Kecamatan Semen, Kepung, Plemahan dan Purwoasri. Tahun ini, bertambah luas dengan tambahan delapan kecamatan,” imbuh Rini.

Sekolah lapang organik ini diikuti oleh para petani dari delapan wilayah kecamatan embrio pengembangan pertanian organik tersebut. Kedelapan kecamatan itu meliputi, Kecamatan Badas, Pare, Plosoklaten, Pagu, Kayen Kidul, Ngasem, Ringinrejo dan Kandangan. Masing-masing kecamatan mengirimkan dua petani dan satu petugas sebagai peserta sekolah lapang.

Sementara itu, sebelum pelaksanaan sekolah lapang, Dispertabun juga memberikan bantuan benih organik kepada petani. Pemberian bantuan tersebut sebagai bentuk pendampingan kepada petani di masa konversi pertanian non kimia, yang biasanya terjadi penurunan produktifitas dan pendapatan mereka.

Masih katanya, dalam proses peralihan sistem pertanian kimiawi menjadi organik (masa konversi), memang ada beberapa hambatan atau kendala yang dialami petani. Salah satunya adalah penurunan produktifitas pertanian dan penurunan pendapatan petani. Disaat itulah, peran Pemkab Kediri, dalam hal ini Dispertabun untuk mendampingi mereka.

“Pada bulan Agustus dan September kemarin, kami memberikan bantuan benih organik dan agen hayati kepada mereka (petani),” tambah Rini. Melalui perluasan embrio konversi organik tersebut, Dispertabun, mematok target peningkatan perluasan lahan pertanian organik menjadi 54 hektar.

Dijelaskan Rini, peran Dispertabun tidak hanya berhenti sampai disitu. Pihaknya juga membantu proses pemasaran produk organik tersebut. Dispertabun memiliki sebuah klinik usaha yang diberi nama Serambu Tani di kantornya, sebagai sarana pemasaran produk pertanian di Kabupaten Kediri. [nng/but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar