Iklan Banner Sukun
Pendidikan & Kesehatan

Masyarakat Lebih Siap Hadapi Varian Omicron

Kegiatan sosialisasi pola hidup sehat selama pandemi Covid-19.

Bojonegoro (beritajatim.com) – Sebuah forum diskusi online membicarakan pola hidup sehat yang digelar dengan harapan agar bisa memberikan edukasi dan pemahaman masyarakat ditengah pandemi Covid-19 yang terjadi saat ini. Dengan begitu penyebaran atau migrasi varian baru Omicron ini bisa diminimalisir dan masyarakat bisa lebih waspada.

Salah seorang narasumber, Prof. dr. Herawati Sudoyo, M.S., Ph.D., mengatakan, Omicron ini memang varian Covid-19 yang masih baru, sehingga masih muncul kekhawatiran di masyarakat akan terjadinya keparahan atau menyebabkan kematian. “Bermutasinya tinggi tapi sampai saat ini belum menyebabkan kematian kepada mereka yang mengalami (terpapar Covid-19 varian Omicron) dan bahkan cenderung gejalanya ringan,” ujarnya.

Tapi kelihatannya, lanjut dokter Hera, seperti yang terjadi di Indonesia masyarakat dinilai lebih siap untuk menghadapi varian baru ini, karena begitu varian ini keluar langsung diberikan informasi yang dikomandoi oleh Menteri Kesehatan. “Harapannya dari pengalaman varian delta kemarin, kita sudah siap dengan ledakan kasus ini, baik tenaga kesehatan maupun fasilitas kesehatan,” jelasnya.

“Kalau bisa tidak, tapi kalau pun terjadi sudah siap. Sebelumnya masyarakat banyak yang tidak percaya. Kita harus menyadari kematian yang disebabkan oleh varian delta, bukan karena virusnya itu sendiri tetapi karena penanganan kesehatan di seluruh dunia yang terlambat,” tambahnya.

Forum yang digelar Exxon Mobil Cepu Limited (EMCL) dengan menggandeng perkumpulan Pita Merah, untuk memberikan edukasi pola hidup sehat saat pandemi secara virtual yang berlangsung selama tiga hari itu dimulai Senin (20/12/2021), mengundang Prof. Dr. Tjandra Yoga Aditama, mantan direktur comunicable duseqsea World Health Orgazation (WHO) South East Adia Regional Office (SEARO) 2018-2021, dengan peserta guru, dosen dan akademisi.

Sedangkan hari kedua, Selasa (21/12/2021), diikuti para pembuat kebijakan, perwakilan NGO dan organisasi wartawan di Kabupaten Bojonegoro, menjadi narasumber dr. Herawati Sudoyo, M.S., Ph.D., selaku wakil direktur Eijkman. Dihari terakhir, Rabu (22/12/2021), edukasi perilaku hidup sehat disaat pandemi, mengundang dr. Andhika Raspati, SpKO, memberikan kepada peserta sosialisasi claster remaja yang terdiri dari siswa dan mahasiswa.

Dalam keterangannya, External Affairs Manager EMCL, Ichwan Arifin mengatakan, pada saat awal pandemi Covid-19, semua merasa masih jauh dan tidak akan sampai di Indonesia bahkan di Bojonegoro, namun perubahan terjadi begitu cepat, hingga banyak yang baru menyadari setelah tetangga, kerabat dan keluarga terpapar Covid-19.

“Meski kasus Covid-19 sekarang melandai, namun tetap harus waspada dan tetap menerapkan prokes. Apalagi muncul lagi varian baru, yang terbaru dari omicron yang pertama di Afrika Selatan, harus belajar dari pengalaman untuk tidak lengah,” kata Ichwan.

Menurutnya, meskipun tugas pokok EMCL mengelola potensi migas di wilayah Bojonegoro, namun EMCL juga memiliki kontribusi kepada masyarakat, bersinergi dengan berbagai pihak, termasuk Pita Merah. “Dalam kegiatan ini merupakan edukasi bersama bagaimana memahami tentang Covid-19, bagaimana upaya pencegahan untuk diri sendiri dan lingkungan,” terangnya.

Ditambahkan, salah satu yang memperparah sebenarnya situasi pandemi tidak hanya diterpa oleh paparan Corona virus, ini tetapi juga ada gelombang laut informasi yang kadang itu tidak selalu mewartakan informasi yang benar maupun format yang tepat dan itu juga berdampak pada kehidupan.

“Pandemi ini tidak hanya berkaitan dengan kesehatan tapi juga aspek yang lain masalah ekonomi, masalah sosial, dan sebagainya. Karena itu, perlu kolaborasi dari semua pihak untuk sama-sama menghadapi situasi ini. Hal yang paling kecil dari diri kita sendiri untuk ke terus mematuhi protokol kesehatan,” imbuh Ichwan.

Sementara itu ketua Pita Merah Kabupaten Bojonegoro, M Yazid menyebut, kegiatan ini untuk meningkatkan kesadaran masyarakat, bagaimana bahaya infeksi Covid-19 yang masih ada, meskipun jumlahnya menurun. Membangun pemahaman akan karakter virus, terutama mutasi dari Delta ke Omicron dan metode infeksi setiap virus berbeda, serta risiko lebih besar bila ada penyakit penyerta.

“Sekaligus membangun urgensi dan aksi bagi masyarakat untuk segera bertindak dan menerapkan gaya hidup new normal pada diri sendiri dan lingkungan sekitar secara menyeluruh,” sambungnya. [lus/suf]


Apa Reaksi Anda?

Komentar