Pendidikan & Kesehatan

Masuk Jember, 29 Warga Digelangi Merah, 3.391 Digelangi Kuning

Bupati Faida saat meninjau Stadion Jember Sport Garden (JSG). (foto: Humas Pemkab Jember)

Jember (beritajatim.com) – Metode pengenaan gelang tangan terhadap pendatang dari luar kota ke Kabupaten Jember, Jawa Timur, untuk mencegah penyebaran Covid-19 mulai dilaksanakan. Namun belum ada satu pun yang dikirimkan ke karantina di Stadion Jember Sport Garden.

“Ada 29 orang warga yang digelangi merah dan 3.391 orang yang digelangi kuning,” kata Kepala Dinas Informasi dan Komunikasi Jember Gatot Triyono, Kamis (9/4/2020).

Gelang kuning dikenakan untuk mereka yang berstatus orang dalam risiko (ODR) dan gelang merah untuk mereka yang dikategorikan orang dalam pemantauan (ODP).

Salah satu warga, Khawas Auskar, mendapatkan gelang warna kuning setelah pulang dari Kecamatan Genteng, Kabupaten Banyuwangi, dengan menumpang bus umum jurusan Banyuwangi-Surabaya.

“Saya berangkat dan pulang di hari yang sama pada 8 April. Sampai pos satgas di Silo, bus kami diberhentikan. Penumpang yang punya tujuan ke Jember disuruh turun, termasuk saya,” katanya.

Mereka menjalani pengukuran suhu badan dengan thermo gun. “Suhu tubuh saya 36 derajat celcius. Lalu saya masuk ruang disinfektan, antre sambil mengisi dua lembar formulir. Di situ ada beberapa pertanyaan, seperti bagaimana kondisi badan kita apakah panas, pilek, dan lain-lain. Formulir diserahkan ke petugas, lalu kami ditanya dari mana dan mau ke mana, kemudian saya digelangi kuning,” kata Khawas.

Petugas meminta agar gelang itu tak dilepas selama 14 hari dan Khawas tidak ke mana-mana. “Begitu saja. Tanpa memberi informasi lebih jelas,” kata pria lajang asal Desa Karanganyar, Kecamatan Ambulu ini.

Salah satu warga Jember, Khawas Auskar,

Kecapekan selama dalam perjalanan, Khawas tak banyak bertanya. Ia ingin segera menjalani prosedur di pos itu agar cepat pulang. Namun setelah di rumah, ia kembali berpikir, bagaimana caranya melakukan karantina mandiri jika masih punya kegiatan rutin harian.

“Saya bekerja di perusahaan yang harus masuk setiap hari. Ini bagaimana saya menjelaskan ke perusahaan?”

“Saya ini kerja di perusahaan yang punya standar prosedur, termasuk soal perizinan tidak masuk kerja. Kalau memang yang dipasangi gelang kuning ini harus mengisolasi diri di rumah selama 14 hari, saya kan juga harus menjalani prosedur perizinan ke tempat saya kerja. Saya harus bisa menjelaskan alasannya dengan detail. Bisa jadi, butuh salinan formal dari formulir satgas covid yang saya tandatangai, atau butuh referensi. Sementara informasi yang saya dapat dari satgas covid sangat terbatas,” kata Khawas.

Khawas bekerja di lapangan yang menuntutnya untuk berkunjung ke pelanggan-pelanggan. “Saya khawatir, saat saya berkunjung ke pelanggan dan melihat saya pakai gelang kuning, mereka jadi resisten kepada saya. Ini kan tidak enak juga.”

Khawas juga mengkritik kurangnya sosialisasi petugas saat di posko karantina, karena tidak semua warga memiliki tingkat penerimaan dan pemahaman yang sama. “Bisa jadi sampai rumah, mereka melepas gelang dan tetap berkeliaran tidak melakukan isolasi mandiri. Jadi program ini punya potensi untuk percuma, kalau perlakuan satgas begini caranya,” katanya.

Apalagi, menurut Khawas, gelang ini berpotensi membawa stigma kepada pemakainya karena diasosiasikan dengan corona. “Otomatis ini akan mempengaruhi aktivitas sosial. Seharusnya saat mau berangkat keluar Jember, warga dikasih imbauan dan diberitahu konsekunsinya saat kembali ke Jember. Kalau diberi imbauan seperti itu, bisa saja saya berpikir dua kali dan membatalkan niat pergi ke luar kota,” katanya. [wir/ted] 





Apa Reaksi Anda?

Komentar