Pendidikan & Kesehatan

Mari Lebih Kenal dan Waspada DBD

Surabaya (beritajatim.com) – Musim penghujan di wilayah tropis sangat rentan dengan wabah Demam Berdarah Dengue (DBD), meskipun sudah dilakukan sosialisasi yang masif tetapi DBD terus saja menjadi endemi yang susah diberantas.

Apa itu DBD?

Demam Berdarah Dengue adalah penyakit infeksi virus akut yang ditandai dengan demam 2-7 hari disertai dengan manifestasi pendarahan, penurunan trombosit, adanya hemokonsentrasi yang ditandai kebocoran plasma. Dapat juga disertai gejala tidak khas seperti nyeri kepala, nyeri otot dan tulang, ruam kulit, atau nyeri belakang bola mata.

Bagiamana penyebab dan penyebarannya?

Pada dasarnya penyakit ini adalah virus dan nyamuk Aedes Aegypti merupakan vektor (pelantara). Jadi bukan karena digigit oleh nyamuk Aedes aegypti kemudian terserang DBD, melainkan seseorang telah mengidap virus dengue terlebih dahulu kemudian jika ada nyamuk Aedes aegypti mengigit orang yang terserang virus dengue tersebut dan selanjutnya mengigit orang sehat, maka orang sehat itu baru akan ikut tertular atau terjangkit virus dengue.

Hingga saat ini belum ada obat atau vaksin secara spesifik untuk mengobati virus dengue ini. Pengobatan hanya bisa dilakukan pada kasus pengobatan dini dan jika terlambat diobati maka virus ini dapat menyebabkan kematian. Tapi karena pada dasarnya virus dengue ini hanya menular dari vektor nyamuk Aedes aegypti maka cara paling efektif adalah menghindari atau mencegah gigitan nyamuk.

Salah satu upaya pengendalian DBD adalah dengan gerakan PSN 3M Plus yakni;
1. Menguras dan menyikat bersih bak mandi minimal 1 Minggu sekali.
2. Menutup rapat tempat penampungan air.
3. Menfaatkan atau mendaur ulang barang bekas yang dapat menampung air.
PLUS;
1. Mengganti air vas bunga, tempat minum burung atau tempat lainnya yang sejenis seminggu sekali.
2. Memastikan tidak ada talang atau saluran air yang rusak dan menggenang
3. Menutup lubang-lubang pada pohon atau potongan bambu
4. Menaburkan bubuk pembunuh jentik ditempat yang sulit dikuras
5. Memelihara ikan pemakan jentik
6. Memasang kawat kasa pada pintu atau jendela rumah
7. Mengindari menggantung pakaian di kamar
8. Upakan ventilasi dan pencahayaan ruang memadai
9. Mengenakan kelambu saat tidur
10. Memakai obat pencegah gigitan nyamuk
11. Penanaman bunga lavender
12. Membersihkan lingkungan dari sarang nyamuk

Kepala Dinas Kesehatan Kota Surabaya drg Febria Rachmanita, MA,  berpendapat bahwa masyarakatnya sudah banyak yang aware atau peduli dengan DBD. Terbukti dengan menurunnya kasus DBD dari waktu ke waktu.

“Masyarakat Surabaya sudah aware, berbagai program juga jalan, seperti Bumantik, Jumantik dan juga Kepala Desa, Lurah hingga RT sudah turun dan memastikan sendiri wilayahnya bebas jentik nyamuk. Memang masih ada kasusnya walaupun selalu bergerak turun itulah kenapa semua harus lebih sadar dan mengenal lagi apa itu DBD bagaimana gejalanya bagaimana penularannya,” ungkap Febria. [adg/suf]

Berikut adalah data yang dihimpun beritajatim.com dari Dinas Kesehatan Kota Surabaya hingga 12 Februari 2019:

Januari 2017 – 46 kasus
Januari 2018 – 42 kasus
Januari 2019 – 33 kasus
Februari 2017 – 46 kasus
Februari 2018 – 48 kasus
Februari 2019 – 19 kasus (hingga 12/2/2019)

Apa Reaksi Anda?

Komentar