Pendidikan & Kesehatan

Marak Kasus Kekerasan Seksual, BEM Vokasi Unair Adakan Kajian RUU PKS

Surabaya (beritajatim.com) – Melakukan pengkajian terhadap RUU PKS tidak lain dan tidak bukan karena semakin meningkatnya keresahan masyarakat terhadap angka kasus kekerasan seksual yang semakin hari semakin bertambah. Bahkan di tengah pandemi seperti sekarang ini, banyak oknum yang melakukan pelanggaran seksual.

Semakin banyak kasus artinya semakin banyak korban, potensi peningkatan kasus-kasus sejenis juga pasti tinggi pula. Korban-korban ini butuh perlindungan dan semua butuh kepastian langkah dari Pemerintah untuk meminimalisir kasus kekerasan seksual, dalam artian butuh payung hukum yang pasti.

Annisa Maulidya (Staff Kementrian Kajian Strategis BEM FV UNAIR) pada Selasa (11/08/2020) menuturkan bahwa pengkajian ini juga karena ingin membantu menyuarakan dan mewakili pemikiran tentang apa yang seharusnya mereka semua dapatkan dari kasus kekerasan seksual itu sendiri.

Mereka menyadari bahwa pembahasan RUU PKS ini bisa dikatakan cukup lamban. Ditambah lagi perjalanan RUU PKS ini kan penuh dengan kabar miring yang mengiringi, banyak pula kesalahpahaman terhadap RUU PKS. Bahkan ada dugaan-dugaan yang mengatakan bahwa RUU PKS ini pro LGBT dan paham liberalisme, sedangkan jika mereka kaji lebih lanjut RUU PKS ini semata-mata hanya menjadi alat untuk mencapai keadilan dan kesetaraan untuk korban kekerasan seksual. Bahwa cakupan kekerasan seksual itu sangat luas dan juga subyektif, tetapi justru disinilah letak pentingnya kenapa kajian ini harus lebih gencar dan juga dalam menyikapinya.

“Kalau dari kami saat dan setelah melakukan pangkajian RUU PKS ini perasaannya yang pertama pastinya lega, karena akhirnya kami dapat menyelesaikan kajian rutin yang merupakan tugas kita ini. Yang kedua, kami merasa senang karena kami dapat menyampaikan aspirasi dan mengupas rasa penasaran dari topik yang bisa dibilang ‘urgent’ dan paling tidak kami bisa mewakili orang-orang yang sama mempertanyakannya juga dengan kami. Tetapi jujur perasaan puas itu belum ada bagi kami selagi bahasan RUU PKS ini belum menemui ujung dan titik terangnya,” ungkap Annisa Maulidya. [but]





Apa Reaksi Anda?

Komentar