Iklan Banner Sukun
Pendidikan & Kesehatan

‘Manusia-manusia Kuat’ Berdarah Muda Ini Mimpi Buruk Bagi Covid-19

Koordinator Relawan Surabaya Memanggil, Aryo Seno Bagaskoro (tengah) bersama pemuda lainnya ikut membantu penanganan Covid-19 di Surabaya demi menuju Jatim Bangkit. [tok]

Surabaya (beritajatim.com) – “Kau bisa patahkan kakiku, tapi tidak mimpi-mimpiku. Kau bisa lumpuhkan tanganku, tapi tidak mimpi-mimpiku. Kau bisa merebut senyumku, tapi sungguh tak akan lama. Kau bisa merobek hatiku, tapi aku tahu obatnya. Manusia-manusia kuat itu kita, jiwa-jiwa yang kuat itu kita. Manusia-manusia kuat itu kita, jiwa-jiwa yang kuat itu kita“.

Penggalan lirik lagu ‘Manusia Kuat’ milik Tulus itu pas menggambarkan semangat dan peran para pemuda di Surabaya. Mereka berperang melawan, hingga lepas dari belenggu penjajahan Covid-19. Covid-19 adalah teror dan mimpi buruk masyarakat.

Mereka berdarah muda dengan semangat ’45 membantu sesama yang membutuhkan dan tidak mudah menyerah di tengah pandemi. Surabaya harus bangkit, Jatim harus bangkit. Bangkit ekonominya, bangkit juga semangat warganya. Jangan pernah ada kata menyerah. Never give up, guys!

Semangat pemuda dan bersatunya seluruh elemen masyarakat di Surabaya dan Jatim yang bergotong-royong menghadapi pandemi, bisa jadi mimpi buruk bagi Covid-19 itu sendiri.

Mereka ingin membuktikan bahwa pemuda bisa berperan penting di era pandemi menuju Surabaya dan Jatim bangkit. Inilah ikrar mereka dalam bertempur habis-habisan melawan Covid-19.

“Kami, Relawan Surabaya Memanggil, segenap Arek-Arek Suroboyo, hadir demi Surabaya merdeka dari Covid-19. Kami, Relawan Surabaya Memanggil, siap untuk gotong royong bergerak melindungi diri, keluarga, kota, dan negara. Kami, Relawan Surabaya Memanggil, mendengar dan menjawab panggilan Surabaya. Surabaya merdeka dari Covid-19!”.

Berawal ratusan pemuda yang terpanggil hatinya untuk berempati kepada Pemkot Surabaya. Kini jumlahnya bertambah terus. Sebanyak 2.500 warga bergabung dalam Relawan Surabaya Memanggil. Mereka bertekad terus membantu pemkot membendung laju persebaran Covid-19.

Siang di sebuah halaman Balai Kota Surabaya itu, tepatnya 2 Juli 2021, sejumlah anak muda berdiri tegak dan berbaris rapi. Jumlahnya masih berkisar puluhan orang. Panas terik Sang Surya tak lagi menjadi penghalang.

Cuaca panas justru menjadi pemantik api semangat para pemuda itu. Sebab, tujuan mereka jauh lebih besar. Tak jadi soal tubuhnya menghitam, asalkan cita-cita Surabaya merdeka dari Covid-19 tak sekadar impian.

Relawan Pemuda Surabaya berjibaku tangani Covid-19

Selang beberapa saat, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi datang. Dia beranjak menuju podium. Pria 44 tahun tersebut lantas menyampaikan kondisi Kota Pahlawan. Kala itu, virus corona tengah mengamuk dan membuat tangis pilu sejumlah orang.

Lebih dari 1.000 warga menjalani isolasi mandiri (isoman). Ratusan pasien tutup usia. Amuk wabah penyakit asal Wuhan China itu membuat pemkot kewalahan. Mau tidak mau, pemkot meminta bantuan. Seluruh pihak diajak ikut bertempur melawan pandemi yang entah sampai kapan berakhir. “Warga Surabaya harus bisa memenangkan pertempuran melawan Covid-19,” ujarnya.

Asa pemkot ada pada puluhan pemuda itu. Mereka diminta menyingsingkan lengan. Terjun langsung membantu pemkot. “Kami ajak panjenengan bergabung pada gerakan Surabaya Memanggil,” tegasnya.

 

Gayung pun bersambut. Sebanyak 50 anak muda itu bersatu padu menjadi relawan. Membantu pemkot membendung Covid-19. Apel tersebut menjadi sejarah terbentuknya Surabaya Memanggil.

Surabaya Memanggil tidak sebatas jargon. Bukan hanya kata-kata penyemangat. Lebih dari itu, Surabaya Memanggil menjadi gerakan utama melawan Covid-19.

Selepas terbentuk, relawan segera bekerja. Mereka membuka pendaftaran. Mengajak warga lain yang ingin mengabdikan diri berperang melawan virus corona. Tanpa imbalan. Tanpa bayaran.

Gerakan sosial itu memantik antusiasme warga. Animo melejit. Dari puluhan anggota menjadi ratusan orang. Saat ini jumlah Relawan Surabaya Memanggil sudah mencapai ribuan orang.

Koordinator Relawan Surabaya Memanggil, Aryo Seno Bagaskoro kepada beritajatim.com ditemui di Lokalisasi Kopi ‘Kolokial’ Surabaya, Jumat (17/9/2021) menuturkan, wacana pembentukan relawan sudah didengungkan sejak awal tahun sekitar Februari 2021.

“Tapi saat itu gelombang kedua Covid-19 belum menghantam Surabaya. Kita saat itu akan mengajak anak muda lintas organisasi untuk membentuk Satgas Perubahan Perilaku. Baru kemudian pada Juli 2021 kasus Covid-19 meningkat tajam di Surabaya, mulai bed occupancy rate (BOR), fatality rate dan positivity rate naik. Awal Juli 2021 beliau Pak Wali Kota menyampaikan bahwa pemerintah tidak bisa bekerja sendiri, anak muda harus terlibat. Panggilan itu kita jawab pada 2 Juli 2021, hari Jumat deklarasi bersama di Balai Kota. Mesin anak muda sudah ada, tinggal aktivasinya saja,” jelas Seno panggilan akrab pemuda berkacamata ini.

Dirinya membuka pendaftaran secara resmi. Selama dua sampai tiga hari baru bisa terkumpul 1500 relawan Surabaya Memanggil. Jumlah itu dibagi beberapa divisi. Ada divisi kedaruratan, divisi sosialisasi prokes dan divisi pembinaan kampung wani.

“Kemudian, kami pecah lagi beberapa divisi. Yakni, divisi RS Lapangan Tembak Surabaya, driver ambulance membantu nakes dan pasien, divisi tenaga umum administrasi dan relawan nakes. Ada juga divisi Hotel Asrama Haji yang mendampingi isolasi mandiri pasien sekitar 40 orang relawan. Saat itu ada 250 pasien. Lalu, ada juga divisi runner oksigen yang tugasnya mengantar-jemput tabung oksigen. Ada yang standby di PT Samator dan PT Ispatindo untuk mengembalikan tabung oksigen ke Puskesmas. Waktu itu kondisi cukup genting di Puskesmas, karena banyak nakes yang menjalani isoman. Apalagi, Puskesmas diminta buka selama 24 jam oleh wali kota,” imbuhnya.

Koordinator Divisi Pembinaan Kampung Wani Relawan Surabaya Memanggil, Eko Purwanto menambahkan, pihaknya juga menerjunkan relawan di tiap puskesmas. Ada dua orang relawan di 63 puskesmas se-Surabaya. Mereka bertugas membantu tenaga umum dan nakes, seperti tugas administrasi dan keperluan tracing. Sedangkan untuk tiap kecamatan ada sebanyak 10 orang relawan. Jumlah kecamatan di Surabaya ada 31. Total 310 relawan standby di kecamatan.

Belum lagi mereka relawan yang berada di Krematorium Keputih Surabaya. Di wilayah ini, peminatnya sedikit untuk menjadi relawan pemulasaraan jenazah. Mereka lebih memilih menjadi driver Ambulance, ada 35 orang. Mereka bertugas mengangkuti jenazah dari rumah. Surabaya pernah mencapai titik maksimal 190 jenazah korban Covid-19 per hari yang harus dimakamkan. Itu terjadi pada awal hingga akhir Juli 2021.

“Ada juga relawan yang bertugas membantu untuk entry data kegiatan vaksinasi massal di Gelora 10 Nopember Surabaya. Kekuatan relawan sekitar 350 orang. Mulai membantu mengatur antrean hingga mengantarkan warga yang membutuhkan pertolongan. Setiap gate ada relawan yang berjaga,” tuturnya.

Sekretariat Posko Relawan Surabaya Memanggil ada di Jalan Raya Darmo 15 Surabaya dan kawasan Rungkut Surabaya untuk ambulance.

Menurut Seno, tantangan terberat menjadi koordinator relawan adalah menyatukan banyak orang dengan kerja-kerja maraton. “Kami belum sempat berkenalan satu sama lain, karena mereka langsung bertugas di lapangan, sesuai divisi masing-masing. Kami tahu kalau mereka relawan ya dari ID card yang terpasang. Alhamdulillah, kami bisa mengorganize. Tantangan di eksternal, saat menghadapi masyarakat juga tidak mudah, mereka yang minta vaksin cepat. Kami harus memberi pengertian, harus memiliki pola komunikasi yang tepat. Lansia didahulukan, orang yang membawa anak kecil didahulukan. Saat vaksinasi massal, bisa 40 ribu orang dalam satu hari di Gelora 10 Nopember. Ada sekitar 150 ribu orang selama seminggu kegiatan vaksinasi,” imbuhnya.

Tidak sedikit juga pengalaman horor yang ditemukan saat bertugas di lapangan. Ini jadi pengalaman seru dan mendebarkan bagi para relawan di divisi driver Ambulance. “Kami merinding mendengar cerita teman-teman relawan saat mengantarkan jenazah di pemakaman. Jenazahnya ada yang tiba-tiba jatuh di dalam, jenazahnya ada yang tiba-tiba duduk, belum lagi pengalaman sopir yang mengaku dijawil-jawil. Ada juga relawan yang dilempari batu kerikil saat bertugas di RS Lapangan Tembak Kedungcowek Surabaya,” papar Seno.

Pengalaman tidak menyenangkan juga pernah dialami relawan Surabaya Memanggil. Yakni, ketika keluarga korban yang tidak mau dimakamkan secara protokol Covid-19. “Kami akhirnya minta bantuan tiga pilar Linmas, Satpol PP dan TNI/Polri. Belum lagi relawan harus bersabar membersihkan kotoran BAB dari pasien lansia. Ada juga relawan yang bagian entry data di sekretariat posko mengalami data dobel dan harus menelitinya satu persatu,” katanya.

Apa sukanya menjadi relawan? Mereka seperti menemukan keluarga baru. Ada spirit gotong royong dan loss nggak rewel untuk bekerja ikhlas. “Kami berpikir ini imbalannya bukan di dunia, tapi di akherat. Kami pada awal September diundang pemerintah kota untuk mendapatkan apresiasi berupa piagam dan sembako. Beberapa divisi ada yang diberhentikan sementara karena kasus Covid-19 sudah melandai. Tapi relawan di kecamatan dan puskesmas masih bertugas hingga saat ini. Mereka membantu percepatan vaksinasi dosis satu dan dua,” tutur Eko Purwanto.

Dirinya kini menjaga tren kasus Covid-19 yang sudah melandai dengan melakukan edukasi ke masyarakat. Vaksinasi terus digencarkan dan bansos dibagikan ke masyarakat bawah yang membutuhkan.

Beda lagi dengan pengalaman Wahyu Aziz Sebrian sebagai Koordinator Runner Oksigen Relawan Surabaya Memanggil. Dengan medan 63 puskesmas yang berbeda dan akses jalan yang sulit, dia harus berkejaran dengan waktu untuk menyelamatkan nyawa pasien Covid-19. Pasien yang membutuhkan oksigen, karena saturasi oksigen di bawah angka normal.

“Kami harus mindahin motor orang-orang di kampung, dikejar-kejar waktu dan jangan sampai ke tempat pengisian Samator atau Ispatindo terlalu siang. Dulu Ambulance dipakai untuk transportasi mengisi tabung oksigen. Tapi, sejak terbentuknya divisi runner oksigen, kami bisa membantu melakukan percepatan. Banyak hal lucu yang ditemukan di lapangan, karena kami relawan pakai rompi Satgas Covid-19 Surabaya, melihat kami datang, masyarakat semburat karena khawatir ada razia dan swab di tempat,” kata Wahyu.

Rivaldi Izza yang bertugas di Tim Sekretariat mempunyai cerita lain lagi. Dia harus dihadapkan dengan kondisi dimana ada teman relawan yang terpapar Covid-19 saat bertugas di Gelora 10 Nopember Surabaya. Lokasi itu digunakan untuk vaksinasi massal.

“Sorenya sudah demam. Ibu relawan itu mengirim pesan melalui WhatsApp dan meminta pertanggungjawaban, anaknya yang menjadi relawan terpapar Covid-19. Dengan bantuan Pak Irvan dari Pemkot Surabaya, akhirnya nakes diarahkan ke rumah relawan itu. Diberikan treatment dan diswab satu rumah. Lalu dikasih obat dan diminta isoman dulu. Beberapa hari kami dikabari kalau teman relawan itu sudah sembuh. Menjadi relawan itu sebuah kebanggaan sendiri, karena bisa menolong orang. Kami nawaitunya membantu sesama,” tukasnya.

Relawan Surabaya Memanggil terdiri dari beberapa elemen organisasi, seperti Pemuda Muhammadiyah, GP Ansor, Banser, JAMAN, Pemuda Pancasila, Taruna Merah Putih, Ksatria Airlangga dan Karang Taruna Surabaya. “Ketika bertugas sebagai relawan, kami melepas atribut seragam organisasi masing-masing demi kemanusiaan,” tegasnya.

Di bidang kedaruratan, tugas relawan beragam. Mereka menjadi driver ambulance serta tenaga kesehatan (nakes). Membantu nakes di Rumah Sakit Lapangan Tembak (RSLT), Rumah Sakit GOR Indoor GBT, serta puskesmas. Selain itu, relawan membantu kerja Dinas Sosial (Dinsos). Setiap hari pemuda dilibatkan dalam antar jemput jenazah. Bertugas di TPU Keputih serta menjadi tenaga cepat pengisian oksigen (runner oksigen).

Menurut Seno, tidak sedikit juga relawan yang memilih mundur sebelum bertugas lantaran tak kuat mendengar beban kerja yang diberikan. Mereka khawatir terpapar Covid-19. “Dari 2.500 orang, saat ini yang aktif di lapangan mencapai 1.000 relawan,” ucapnya.

Terhitung sudah satu bulan lebih relawan mengabdi. Setiap hari mereka menghadapi musuh yang tak kasatmata. Yaitu, virus korona. “Kami ada saat injury time. Kami melekan setiap hari antar jemput jenazah,” jelasnya.

Belum lagi, ada sejumlah relawan yang belum terbiasa mengurus pasien yang tutup usia. Melihat jenazah seketika ndredek. “Yo, dikuat-kuatno,” ujarnya.

Semangat menjadi kunci relawan bertahan. Yang semula hendak mundur jadi memiliki kekuatan. “Sekarang wis tatag nek nontok jenazah,” kata Seno yang juga menjadi Ketua Taruna Merah Putih Surabaya itu.

Tim pengisian oksigen juga bermandi peluh. Setiap hari mereka menjadi penghubung antara puskesmas dan tempat pengisian oksigen. Ketika oksigen habis, relawan harus secepatnya mengisi ulang.

Pria 21 tahun itu menuturkan, relawan pengisian oksigen tersebut bernama runner. Nama itu sengaja dipilih karena tim harus kerja cepat. Mengisi kekosongan tabung oksigen. Selama 24 jam relawan berkeliling. Dari satu puskesmas ke puskesmas lain. Ketika tabung kosong, mereka bergegas membawa ke tempat pengisian oksigen.

Usaha keras para relawan membuahkan hasil. Kondisi Surabaya saat ini membaik. Bed occupancy ratio (BOR) yang semula 100 persen turun drastis. Kebutuhan oksigen tidak sebanyak sebelumnya. Namun, kerja relawan belum usai.

Seno menuturkan, perang melawan pandemi masih panjang. Sebab, bisa jadi virus itu kembali bermutasi dan ada varian baru. “Kami belum berhenti sampai di sini. Jika kami dibutuhkan, mesin kami sudah siap dan tinggal diaktivasi kembali. Kami tentunya berharap pandemi ini segera berakhir, ada roda ekonomi masyarakat Surabaya dan Jatim kembali normal,” tegasnya.

Jatim dan Surabaya Masuk Level 1
Berkat kerja keras seluruh pihak termasuk Relawan Surabaya Memanggil itu, Provinsi Jatim menjadi satu-satunya provinsi yang masuk assessment level 1 se-Indonesia dan 10 kabupaten/kota di Jatim masuk level 1, termasuk Surabaya.

Data ini setidaknya berdasarkan hasil assessment yang dirilis di website Kementerian Kesehatan RI per 15 September 2021.  Dalam penilaian assessment situasi level 1 Kemenkes RI itu, Jatim dinilai mampu karena tingkat penularan yang rendah dan kapasitas respon yang memadai.

“Alhamdulillah, Jawa Timur menjadi satu-satunya provinsi yang pertama masuk pada level 1 sesuai assessment yang dilakukan Kemenkes RI. Saya ucapkan terima kasih kepada seluruh masyarakat yang telah berjuang keras untuk patuh prokes selama PPKM ini. Capaian ini adalah hasil kerja keras dari semua pihak dan ini bentuk ke gotongroyongan dan kekompakan kita semua,” kata Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa saat Konferensi Pers bersama Pangdam V/Brawijaya dan Kapolda Jatim di Gedung Negara Grahadi, Jumat (17/9/2021) malam.

Gubernur Khofifah didampingi Pangdam V/Brawijaya Mayjen TNI Suharyanto, Kapolda Jatim Irjen Pol Nico Afinta, Plh Sekdaprov Jatim Heru Tjahjono, Plt Kadinkes Jatim dr Kohar Hari Santoso dan Ketua Gugus Tugas Kuratif Covid-19 Jatim dr Joni Wahyuhadi.

Khofifah mengungkapkan, bahwa penilaian tersebut didasari atas hasil enam parameter yaitu kasus konfirmasi, rawat inap RS, kematian, testing, tracing dan treatment yang dilakukan secara masif dan terukur, sehingga menghasilkan predikat memadai.

Dalam kesempatan tersebut, dr Joni Wahyuhadi melaporkan rincian situasi assessment Covid-19 di Jatim. “Saat ini, berbagai macam indikator penanganan Covid-19 di Jatim sudah sesuai standar pengendalian pandemi oleh WHO. Saat ini, bed occupancy rate (BOR) per minggunya adalah 14,21 persen. Angka ini sudah sangat jauh di bawah standar WHO di mana standar minimalnya adalah 60 persen.

Selain itu, saat ini angka positivity rate Jatim sudah sangat memadai. Yakni, 1,65 persen. Angka ini juga jauh di bawah standar WHO yaitu 5 persen. dr Joni juga menambahkan bahwa saat ini 37 kabupaten/kota di Jatim sudah masuk zona kuning dan antrean IGD Covid-19 di Jatim saat ini nol.

“Angka ini turun drastis dibandingkan awal bulan Juli lalu di mana antrean IGD overload, bahkan pernah mencapai 835 pasien/hari. Selain itu, BOR isolasi dan ICU di semua kabupaten dan kota di Jatim saat ini sudah di bawah 29 persen,” tutur dr Joni.

Dengan capaian positif Jatim atas penanganan Covid-19, Khofifah meminta masyarakat untuk tidak lengah dan jangan menjadikan capaian ini sebagai euforia. “Tetap patuhi protokol kesehatan dengan ketat. Lakukan vaksinasi bagi yang belum melaksanakan dan tetap menjaga 5 M,” pesannya.

Khofifah juga meminta semua pihak dapat mempertahankan capaian assessment serta posisi zonasi level daerah, maupun unsur-unsur lainnya. Selain itu, seluruh elemen masyarakat diminta tidak lengah dan tetap disiplin menerapkan protokol kesehatan (prokes) dimanapun berada. Sehingga, ke depan Covid-19 makin terkendali dan terus melandai. Tetap memakai masker, menjaga jarak yang aman, menghindari kerumunan, dan mencuci tangan dengan sabun serta air mengalir.

Kapolda Jatim Irjen Pol Nico Afinta menambahkan, rasa syukurnya atas capaian Jatim masuk level 1. Dia mengucapkan terima kasih kepada seluruh masyarakat yang telah berpartisipasi aktif di dalam pencapaian level satu di seluruh Jawa Timur.

“Ini pasti bisa berhasil kalau masyarakat mendukung. Tentunya, kami dari jajaran Polda Jatim siap mendukung Ibu Gubernur dan Bapak Pangdam di dalam bersinergi untuk mempertahankan, meningkatkan serta menjaga level satu di jajaran Jatim,” ungkapnya.

Pihaknya bersama Pangdam V/Brawijaya akan terus bekerja untuk melaksanakan dan menyampaikan pentingnya menerapkan protokol kesehatan yang ada. “Kami memohon kepada masyarakat agar tetap disiplin prokes, sehingga situasi makin membaik. Tentunya, harapan ke depan ekonomi dapat juga membaik,” tegasnya.

Pangdam V/Brawijaya Mayjen TNI Suharyanto mengatakan, bahwa hari-hari ini merupakan hari yang patut disyukuri bagi seluruh warga Jatim atas kerja keras seluruh pihak, sehingga Jatim menjadi level 1.

Pangdam berpesan capaian dari assessment di Level I agar terus dipertahankan. Pihaknya juga menyebut, yang akan menjadi fokus bersama ke depan di samping penanganan Covid-19, adalah pelaksanan vaksinasi di Jatim. “Capaian vaksinasi di Jatim relatif cukup sebetulnya dari segi jumlah. Capaian vaksin sampai saat ini sudah melebihi 12 juta dosis, bahkan hampir mencapai 13 juta dosis untuk dosis pertama. Kami berharap dukungan, doa apapun bentuknya agar kita semua warga Jatim ini bisa lepas dari pandemi Covid-19,” tukasnya.

Saat ini ada 10 kabupaten/kota yang masuk dalam level 1. Ke-10 daerah itu adalah Surabaya, Gresik, Sidoarjo, Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Madiun, Lamongan, Jember, Situbondo, Bondowoso dan Banyuwangi. Kemudian, disusul 26 daerah masuk dalam kategori level 2. Sisanya, sebanyak 2 daerah masih dalam level 3.

Daerah yang masuk level 2 adalah Tulungagung, Tuban, Trenggalek, Sampang, Pamekasan, Sumenep, Kabupaten Probolinggo, Ponorogo, Pacitan, Ngawi, Nganjuk, Kabupaten Mojokerto, Kabupaten Malang, Magetan, Lumajang, Kota Probolinggo, Kota Pasuruan, Kota Mojokerto, Kota Malang, Kota Madiun, Kota Kediri, Batu, Kediri, Jombang, Bojonegoro dan Kabupaten Blitar. Kemudian, 2 daerah yang masih berada di level 3 adalah Kota Blitar dan Bangkalan.

Surabaya Level 1
Kota Surabaya saat ini status penyebaran Covid-19 sudah turun menjadi level 1. Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi memfokuskan target berikutnya yang ingin dicapai.

Target itu adalah penanganan pandemi Covid-19 di wilayah aglomerasi Surabaya Raya. Di mana tujuannya menurunkan statusnya yang saat ini masih tercatat di level 3.

Untuk diketahui berdasarkan assessment Kementerian Kesehatan (Kemenkes), tiga daerah di Surabaya Raya yakni Surabaya, Sidoarjo dan Gresik sudah dinyatakan berstatus level 1.

Sedangkan, di dalam Inmendagri 42/2021, kawasan aglomerasi masih dinyatakan berstatus level 3. Sebab pada aturan terbaru itu menambahkan capaian vaksinasi di tiap daerah.

“Berarti harusnya kalau vaksinasi bisa terkejar di Sidoarjo dan Gresik, maka kita otomatis bisa turun level 2. Kalau nanti kita Insya Allah bisa 70 persen kita bisa jadi level 1,” kata Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi.

Eri pun menyebut, pihaknya siap menyebar petugas kesehatannya untuk menjadi tenaga perbantuan vaksinasi di dua kabupaten, Gresik dan Sidoarjo.

Sehingga, realisasi target memperkecil angka level untuk Surabaya Raya bisa terlaksana. “Kami akan bantu kesana (Gresik dan Sidoarjo) untuk nakesnya. Vaksin mungkin akan ditambahkan oleh Menkes untuk Sidoarjo dan Gresiknya,” jelasnya.

Koordinasi, kata Eri, sudah dilakukan. Dirinya telah menanyakan jumlah kebutuhan vaksin yang dibutuhkan oleh dua kabupaten tersebut.

“Saya sampaikan kepada Bupati Gresik butuhnya untuk mencapai 60 persen berapa dosis vaksin, begitu juga (bupati) Sidoarjo,” ungkapnya.

Eri berharap perubahan status level untuk Surabaya Raya bisa tertanggulangi dengan adanya sinergitas. “Sehingga, di minggu depan bisa level 2 atau 1 terwujud,” ujarnya.

Jangan Lengah, Ada Varian Baru
Pangdam V/Brawijaya Mayjen TNI Suharyanto memastikan bahwa Bandara Internasional Juanda tidak bisa lag menerima kedatangan Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Jatim.

Berdasarkan Instruksi Menteri Dalam Negeri (Inmendagri) Nomor 42 Tahun 2021, dilakukan pembatasan pintu kedatangan pelaku perjalanan internasional baik di Pos Lintas Batas Negara (PLBN), pelabuhan, maupun bandar udara (bandara).

Untuk Bandara, hanya dibuka di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang-Banten serta Bandara Sam Ratulangi Manado, Sulawesi Utara. Untuk pelabuhan hanya dibuka di Pelabuhan Batam, Kepulauan Riau dan Pelabuhan Nunukan, Kalimantan Utara.

“PMI asal Jatim pasti pulangnya ke Bandara Soekarno-Hatta. Kami sudah sepakat tadi saat rapat di Kodam dan akan melaporkan kepada Bu Gubernur. Perlakuan PMI dari Jatim tetap seperti biasa, nantinya akan dikarantina dulu di Jakarta selama delapan hari. Kami akan koordinasi dengan Pangdam Jaya, apakah mereka akan mengantar PMI ke sini (Jatim) atau kami yang jemput,” kata Pangdam kepada wartawan saat Konferensi Pers di Gedung Negara Grahadi Surabaya, Jumat (17/9/2021) malam.

Apakah PMI asal Jatim akan dikarantina lagi di Asrama Haji Sukolilo Surabaya? “Iya nanti mereka akan di swab PCR ulang. Jika hasilnya negatif baru bisa dipulangkan. Kami jangan sampai kecolongan. Kami takut petugas di DKI Jakarta kewalahan, karena itu kami tetap waspada dan swab ulang,” tuturnya.

Pihaknya juga akan mewaspadai kepulangan PMI asal Jatim yang melalui jalur darat dan laut. “Kami akan laksanakan penyekatan terbatas di perbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah di Ngawi. Nantinya, mereka akan diangkut di Asrama Haji untuk swab PCR. Mudah-mudahan langkah penyekatan ini bisa mencegah varian baru MU agar tidak menyebar di Jatim,” ujarnya.

Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa menambahkan, PMI asal Jatim yang sudah habis masa kontraknya dan akan pulang terbanyak dari Malaysia. Jika tidak pulang melalui jalur udara, mereka akan melalui jalur laut dan darat lewat Batam, Tanjung Pinang, Nunukan serta Medan.

“Titik perlintasan laut potensial jadi transit para PMI. Kita terus koordinasikan kehati-hatian dan kewaspadaan kita, semua menjadi sangat penting. Mereka adalah WNI yang habis masa kontraknya dan harus pulang. Jangan sampai mereka jadi overstayers. Yang PMI sekarang dikarantina dan dirawat di RSDL Indrapura tetap diselesaikan dan diberi pelayanan sesuai SOP,” imbuhnya.

Sekadar diketahui, berdasarkan Instruksi Menteri Dalam Negeri (Inmendagri) Nomor 42 Tahun 2021, dilakukan pembatasan pintu kedatangan pelaku perjalanan internasional baik di Pos Lintas Batas Negara (PLBN), pelabuhan, maupun bandar udara (bandara).

Untuk Bandara, hanya dibuka di Bandara Soekarno Hatta Jakarta serta Bandara Sam Ratulangi Manado. Untuk Pelabuhan hanya dibuka di Pelabuhan Batam, Kepulauan Riau dan Pelabuhan Nunukan, Kalimantan Utara.

Sementara untuk PLBN, hanya dibuka di Terminal Entikong dan Aruk, Kalimantan Barat. Ketentuan lainnya adalah, pelaku perjalanan melakukan tes PCR H-3 sebelum keberangkatan serta di lokasi kedatangan baik itu di pelabuhan, bandara, maupun PLBN.

Sementara itu, Ketua DPD RI, AA LaNyalla Mahmud Mattalitti memberikan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi Jawa Timur yang sukses menurunkan kasus penyebaran Covid-19 ke level 1.

Berdasarkan data assessment Situasi Covid-19 Kementerian Kesehatan, Jawa Timur menjadi provinsi pertama dan satu-satunya yang mampu turun ke level 1. “Ini kabar yang sangat baik untuk seluruh masyarakat Jawa Timur. Turun ke level 1 membuat aktivitas bisa kembali bergulir. Hanya saja, saya mengingatkan masyarakat agar tidak lengah. Teruslah patuhi protokol kesehatan agar pandemi ini bisa diputus di Jawa Timur,” tutur LaNyalla, Sabtu (18/9/2021).

Senator asal Jawa Timur ini mengatakan, sukses tersebut bukan semata kerja pemerintah. “Tentunya ada keterlibatan masyarakat. Karena yang paling penting untuk menghadapi kasus pandemi ini adalah kesadaran masyarakat, kesadaran untuk sama-sama menjalankan protokol kesehatan. Kesadaran bersama itulah kuncinya,” katanya.

Sukses Provinsi Jawa Timur, tidak terlepas dari maksimalnya kinerja sejumlah kabupaten dan kota yang juga mampu menurunkan level.

Dua pekan lalu, tiga kabupaten di Jawa Timur berhasil menurunkan status Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) hingga ke level 1. Tiga kabupaten itu adalah Lamongan, Tuban dan Pasuruan. Kemudian, disusul kabupaten/kota lainnya.

Menurut LaNyalla, sinergi yang baik antara pemerintah, TNI, Polri, Forkopimda dan seluruh jajaran masyarakat sangat membantu. Pembatasan dan pengendalian mobilitas masyarakat dari penularan Covid-19 berhasil.

Kendati demikian, LaNyalla mengingatkan agar semua pihak menahan diri untuk tidak terburu-buru melakukan euforia. Menurutnya, kewaspadaan tetap terus ditingkatkan, karena serangan wabah bisa terjadi tanpa diduga-duga. “Apalagi kini sudah muncul varian baru Mu Covid-19. Jadi, masyarakat harus tetap waspada dan terapkan protokol kesehatan yang ketat serta mengikuti program vaksinasi,” pesan LaNyalla.

“Kita harus belajar dari peristiwa yang lalu. Jangan sampai lengah dan terlalu longgar. Jangan sampai ada lagi lonjakan kasus,” tegas LaNyalla mengingatkan.

Aryo Seno Bagaskoro dan relawan pemuda Surabaya mengatur Vaksinasi Massal

Pandemi belum usai. Tak ada kata menyerah. Tetaplah semangat membantu sesamamu yang membutuhkan, wahai pemuda. Nasib negeri ini ada di tanganmu. Ingatlah pesan Bapak Proklamator RI kita tercinta, Bung Karno: Beri Aku 10 Pemuda, Niscaya Akan Kuguncangkan Dunia. Surabaya dan Jatim harus kembali bangkit ekonominya. Semangat!!! (tok/kun)

 


Apa Reaksi Anda?

Komentar