Pendidikan & Kesehatan

Mahasiswa Untag Ciptakan Desain SMK Eksklusif Bidang Pariwisata

Surabaya (beritajatim.com) – Adiyat Priyat Dofir, mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya menghasilkan karya penelitian menarik untuk membantu kontribusi di Pendidikan Insklusif.

Mahasiswa jurusan Arsitektur ini merancang desain bangunan sekolah Insklusif dengan judul ‘Perangcangan SMK Eksklusif Bidang Pariwisata untuk Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) di Surabaya’.

Berawal dari kegelisahan Adiyat, bahwa pendidikan Insklusif di Surabaya Jawa Timur belum dimaksimalkan. Ia mengatakan dalam risetnya terhadap 25 Instansi Pendidikan Insklusif jenjang Pertama atau SMP di Surabaya terdapat data yang cukup mengelisahkan, yakni pada tahun 2017 ada 234 siswa ABK tetapi yang terserap masuk SMA hanya 30 persennya.

‘Dari data yang saya peroleh dari sebar angket ke 25 sekolah. Hanya 30 persen yang bisa lanjut SMA. Karena kouta terbatas dan proporsi yang tidak sesuai, biasanya SMA meminta IQ 70 padahal banyak yang tidak mencapai itu.
Sehingga mereka susah mendapatkan fasilitas sekolah di Surabaya,” ungkapnya, Selasa (18/2/2020) di Untag Surabaya.

Sedangkan pada tahun 2020/2021 calon lulusan SMP ada 395 jika melihat kemungkinan tahun lalu kemungkinan 70 persen lulusan tersebut tidak terserap di SMA.

“Ada ketimpangan penyerapan sekolah negeri di SMP dan SMA. karena perbedaan kebijakan Dinas Surabaya dan Dinas Jatim,” tukasnya.

Adiyat yang meraih nilai A untuk penelitian tugas akhirnya ini mengatakan bahwa selama SMK Insklusif belum ada di Surabaya. Pembentukan SMK Inklusif ini pun bisa dilakukan dengan penyesuaian kurikulum.

SMK Insklusif ini diperuntukkan oleh anak anak Autis ringan, Tuna Grahita ringan, Tuna Rungu Wicara, dan Lamban Belajar. Juga terdapat 4 Departemen dan 7 Jurusan untuk SMK Insklusif ini yakni Tata busana, Perhotelan, Jasa Boga, Tata Kecantikan.

‘Rancang bangun ini memiliki kekhususan yang memang diperuntukkan kepada siswa Insklusif yakni dengan meminimalisir fase tantrum yang biasa terjadi di anak penderita autisme,” terangnya.

Kita mengantisipasi terjadinya trantrum dengan meminimalisir penyebab trantrum yakni menghilangkan pemantiknya. Antara lain dengan cara pemilihan material dan bangunan yang ramah ABK, contohnya dengan material ruang yang tidak glosi yakni batuan alam seperti andesit.

Lainnya dengan mendesign sirkulasi pergerakan dari dan menuju ke suatu tempat untuk ABK dimudahkan. Selain itu pembuatan ruang yang lebih besar dari pada kelas reguler dan jumlah guru yang lebih banyak dan memadai.

Biasanya untuk kelas reguler hanya 60 meter persegi tetapi untuk rancang bangun SMK Insklusif 1 kelas berisi 30 siswa dengan luas 90 meter persegi. Fasilitas ini calon nya bisa dibangun di daerah Merr Rungkut, di dekat Fasum YKP seluas 2.9 H. [adg/but]





Apa Reaksi Anda?

Komentar