Pendidikan & Kesehatan

Mahasiswa Unair Gagas Sensor Saturasi Oksigen

Ilustrasi Cincin Sensor Saturasi Oksigen.

Surabaya (beritajatim.com) – Empat mahasiswa Fakultas Teknologi Maju dan Multidisplin (FTMM) Universitas Airlangga (UNAIR) menggagas sebuah sensor saturasi oksigen yang terintegrasi Internet of Things (IoT) dari bahan nanomaterial berupa lapisan tipis (thin film) material MXene. Gagasan ini untuk menjawab problem minimnya pengawasan saturasi oksigen pasien isoman (isolasi mandiri).

Keempat mahasiswa Program Studi Rekayasa Nanoteknologi 2020 itu terdiri dari Diva Meisya Maulina Dewi, Agustina Oktafiani, Fajar Sukamto Putra, dan Zuhra Mumtazah. Diva Meisya selaku ketua tim menjelaskan kasus isoman tingkat saturasinya yang tiba-tiba di bawah 90 persen tanpa gejala sesak menjadi konsen utama dalam menciptakan inovasi tersebut.

“Sensor langsung terintegrasi ke RS atau fasilitas kesehatan terdekat sehingga akan cepat memberikan pertolongan pertama pada pasien,” ucap mahasiswa yang akrab disapa Diva itu.

Sensor saturasi oksigen berperan sebagai telemedicine dan kontroling. Diva menuturkan sensor yang tersusun dari lapisan Thin film MXene terangkai dengan alat elektronik berupa mikrokontroler dan wifi module berbentuk seperti cincin. Sensor yang dipasang di jari tangan akan mendeteksi saturasi oksigen dalam darah. Signal kemudian diterima oleh mikrokontroler untuk diteruskan ke database sehingga bisa diakses oleh user.

“Cara MXene mendeteksi saturasi oksigen, berdasar penelitian Khan et al, (2018) tiap pixel dari ROA terdiri atas Red OLED, NIR dan OPD yang masing-masing akan terkoneksi pada Analog Front End (AFE). Semua komponen tersebut terhubung pada mikrokontroler untuk kemudian diakses oleh user,” jelas Diva yang memiliki ketertarikan di bidang nanomedicine.

Lebih detailnya, Red OLED, NIR dan OPD merupakan sinar yang memiliki gelombang tertentu yang nantinya mendapatkan data mengenai oksihemoglobin dan deoksihemoglobin. “Semua komponen ini terhubung pada mikrokontroler sebagai penerima sinyal untuk diteruskan ke pengguna,” ujarnya.

Di bawah bimbingan dosen FTMM Ilma Amalina, S.Si, M.Si, PhD dan Tahta Amrillah, S.Si, M.Sc,PhD, tim menargetkan pendanaan sehingga dapat terealisasikan. Meski begitu, hasil karya mereka berhasil meraih Juara Kedua kategori Diagnostic/Supporting Tools pada lomba Idea Competition ‘Innovation for Infectious Disease (I4I)’ tingkat international yang diselenggarakan oleh Fakultas Kedokteran (FK) UNAIR. [but]


Apa Reaksi Anda?

Komentar