Pendidikan & Kesehatan

Mahasiswa UB Bikin Pestisida dari Limbah Batok Kelapa

Mahasiswa UB Malang membuat pembasmi pestisida dari limbah batok kelapa.

Malang (beritajatim.com) – Mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) Universitas Brawijaya (UB) Malang, membuat pembasmi pestisida dari limbah batok kelapa. Limbah kelapa diambil dari desa Sutojayan, Kabupaten Blitar.

Di desa ini merupakan, daerah dengan lahan pertanian yang luas, dan jumlah pohon kelapa yang melimpah. Limbah kelapa dipilih karena ketersediaanya yang melimpah. Limbah batok kelapa di Desa Sutojayan mencapai 15 ton per-tahun. Namun sebagian masyarakat hanya memanfaatkan sebagai kerajinan tangan, bahan bakar gamping, dan sisanya dibuang ke TPA.

“Padahal batok kelapa memiliki kandungan lignin, selulosa, hemiselulosa dan sumber karbon, yang dapat dijadikan bahan baku pembuatan asap cair,” kata salah satu perwakilan tim Wakhidatul Fitriyah, Senin, (21/9/2020).

Untuk memberikan pemahaman terhadap pembuatan asap cair, Wakhidatul bersama empat temannya Maulana A’inul Yaqin, Bakti Pertiwi Purnama Sari, Yohana Christine Tiurma Manurung, dan Muhammad Usman Sihab, melakukan program sosialisasi dan pelatihan secara bertahap melalui media online untuk menangani masalah limbah organik khususnya batok kelapa di Desa Sutojayan.

Program pelatihan yang dinamakan LIKE-TOK. Tujuannya memberikan edukasi dan pendampingan kepada masyarakat dalam produksi asap cair dan produk samping berupa briket untuk meningkatkan dan memberdayakan kesejahteraan masyarakat.

Selain itu program LIKE-TOK dapat menciptakan kelompok tani yang mandiri. Dalam sosialisasi tersebut tim LIKE-TOK memaparkan bagaimana membuat pestisida cair dibuat dari batok kelapa yang sudah kering.

“Prosesnya dilakukan dengan alat pirolisis. Dengan alat ini akan dilakukan proses pembakaran batok kelapa dengan suhu kurang lebih 400 derajat Celcius selama 3-6 jam. Setelah proses pembakaran akan terjadi destilasi uap dan terjadi proses kondensasi dan terbentuklah asap cair. Asap cair inilah nanti yang akan digunakan untuk bahan Petsida,” papar Wahidatul.

Dia menambahkan, program LIKE-TOK akan terus berlanjut dan akan terus dikembangkan untuk mencapai peningkatan kesejahteraan dan mengurangi permasalahan limbah Desa Sutojayan. Melalui program ini, LIKE-TOK dapat mengurangi limbah batok kelapa sebanyak 98,8 persen setiap bulannya.

“Selain bisa mengurangi pencemaran lingkungan, asap cair. Dari batok kelapa bisa memberdayakan dan meningkatkatkan ekonomi masyarakat Desa Sutojayan dengan penjualan produk pestisida asap cair dan pupuk karbon sebesar Rp5.519.900 per bulan,” tandasnya.

Rencana tahapan berikutnya dari program LIKE-TOK yaitu melakukan penjualan secara online dengan menggunakan e-commerce untuk menjangkau pasar yang lebih luas, serta bekerja sama dengan toko penjualan bahan pertanian dan dinas pemerintahan terkait. [luc/but]





Apa Reaksi Anda?

Komentar