Pendidikan & Kesehatan

Mahasiswa Teknik dan Kedokteran Lebih Mudah Kena Radikalisme

Jember (beritajatim.com) – Jaringan teror menjadikan kampus perguruan tinggi sebagai tempat merekrut anggota baru. Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) meminta agar pengelola kampus dan sivitas akademika lebih waspada dalam menjaga masjid.

“Menurut hasil penelitian pada tahun 1980-an yang dilakukan, di dunia ada dua fakultas engineer of jihad. Orang yang berlatar belakang teknik dan kedokteran lebih mudah kena ketimbang yang lain,” kata Direktur Pencegahan BNPT Brigadir Jenderal Polisi Hamli, saat dialog pelibatan sivitas akademika dalam pencegah terorisme, di gedung Rektorat Universitas Jember, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Rabu (24/7/2019).

Hamli meminta agar mahasiswa eksakta lebih banyak diajak berdiskusi. “Kasih ilmu humaniora lebih banyak,” katanya.

Namun bukan berarti kampus di luar teknik dan kedokteran aman dari jangkauan perekrutan jaringan radikal dan teror. Hamli mengatakan, ideolog gerakan teror berasal dari Institut Agama Islam Negeri atau Universitas Islam Negeri. “Bom buku dulu yang membuat adalah orang UIN,” kata Hamli.

Menurut Hamli, jaringan teror menyusup di lembaga pendidikan anak usia dini hingga perguruan tinggi. “Masuknya di perguruan tinggi, pondok pesantren, dan masjid. Tiga tempat itu dijadikan tempat pembiakan paham ini. Jadi tolong dijaga tiga tempat ini. Masjid universitas dan musala tolong dijaga,” kata Hamli.

Hamli bercerita, ada sebuah masjid universitas di Jatim yang tiap malam dipakai untuk melakukan tausiyah radikalisme. “Tokohnya mengaku mulai tahun 1983. Orangnya sudah seumur saya. Dia dipanggil mahasiswa karena dianggap punya kemampuan karena lulusan mekah dan Suriah,” katanya.

Ada tiga pendekatan dalam menangani terorisme: soft approach (pendekatan lunak), hard approach (pendekatan keras), dan kerjasama internasional. BNPT melakukan pendekatan lunak dengan menggandeng semua komponen masyarakat.

“Soft approach dilakukan semua komponen bangsa. Jangan merasa ini pekerjaan pemerintah dan BNPT. Kami ajak kementerian dan lembaga lain. Kami gandeng masyarakat mulai dari ormas sampai civil society organisation,” kata Hamli.

NU dan Muhammadiyah juga dilibatkan untuk mencegah berkembangnya jaringan teror yang mengatasnamakan agama. “Masjid dipegang, jangan ditinggal. NU dan Muhammadiyah jangan berkelahi sendiri. Jangan diambil kelompok lain,” kata Hamli, menekankan agar jaringan teror ini menjadi musuh bersama.

Sementara untuk perguruan tinggi, Hamli mengajak sivitas akademika untuk menjaga kampus masing-masing. “BNPT hanya melakukan asistensi. Mereka (kampus) lebih tahu daripada kami,” katanya. (Wir/ted)





Apa Reaksi Anda?

Komentar