Iklan Banner Sukun
Pendidikan & Kesehatan

Mahasiswa Poliwangi Banyuwangi Ciptakan Alat Pendeteksi Kekurangan Oksigen Pasien Covid 19

Pengoperasian alat buatan mahasiswa Poliwangi yang mampu mendeteksi pasien Covid-19 yang mengalami Happy Hypoxia atau mengalami penurunan kadar oksigen. (humas Poliwangi)

Banyuwangi (beritajatim.com) – Sejumlah mahasiswa Politeknik Negeri Banyuwangi (Poliwangi) berhasil menciptakan sebuah alat pendeteksi pasien Covid-19 yang mengalami Happy Hypoxia.

Alat itu dapat memonitor indikasi menurunnya kadar oksigen dalam tubuh secara drastis dalam waktu yang singkat bahkan menyebabkan pasien meninggal kekurangan oksigen.

Penggagasnya adalah para mahasiswa Poliwangi jurusan atau Program Studi Teknik Informatika. Mereka adalah Refita Dinda Cahyani Putri, Eka Listiyaningsih Ayu Wardani, Muhammad Wildan Alviandi Munir yang tergabung dalam tim Oksigen.

Penemuan alat tersebut menjadi sebuah kebanggaan bahkan prestasi untuk kelompok mereka maupun bagi Poliwangi. Lebih dari itu, alat tersebut ternyata juga telah berhasil menyabet juara 3 kategori Internet of Things (IoT) pada PNB IT Competition 2021.

“Dengan diciptakannya alat ini diharapkan mampu mendeteksi dini kadar oksigen dalam tubuh sebagai upaya pencegahan. Pada final kompetisi yang diselenggarakan oleh Politeknik Negeri Bali diumumkan pemenang dalam kategori IoT sebagai Juara 1 Tim dari PENS, Juara 2 dari Tim Polines dan Juara 3 diraih oleh Poliwangi,” kata Ketua Tim Oksigen Poliwangi, Refita, Kamis (23/9/2021).

Perancangan alat itu, kata Refita didasari oleh kondisi global Covid-19 di Indonesia. Di mana berdasarkan data jumlah pasien positif Covid-19 sempat meningkat tajam.

“Menurut data dari Satuan Satgas Covid-19 Indonesia jumlah pasien terkonfirmasi Covid-19 meningkat diikuti dengan meningkatnya jumlah kematian akibat Covid-19,” ungkapnya.

Dari kondisi itu, kata Refita, bahkan diperparah adanya varian baru Covid-19. Sehingga timnya terlecut semangat untuk ikut memecahkan masalah.

“Gejala umum yang dialami pasien Covid-19 adalah batuk, demam, flu dan gejala mirip pneumonia. Gejala lain yang sering dialami adalah happy hypoxia. Happy hypoxia sulit dikenali karena tidak menimbulkan gejala fisik selain menurunnya kadar saturasi oksigen pada pasien. Oleh karena itu dibutuhkan alat ukur saturasi oksigen,” jelasnya.

Meski demikian, lanjut Refita, tidak dipungkiri alat pengukur saturasi oksigen sudah ada di pasaran. Namun kebanyakan pasein mengalami kesulitan dalam pembacaan alat serta data hasil monitoring tidak tersimpan sehingga pasien tidak dapat melihat riwayat monitoringnya.

Oleh karena itu dibuatlah alat ukur oksigen dan detak jantung berbasis internet of things. Alat ini sudah terintegrasi dengan aplikasi android dan website sehingga pasien pengguna alat dapat dengan mudah melakukan monitoring oksigen dalam tubuh.

“Dengan dibuatnya inovasi alat tersebut diharapkan dapat mempermudah pasien dan petugas medis dalam melakukan monitoring dan pemeriksaan terhadap pasien isolasi mandiri Covid-19,” imbuhnya.

Sementara itu, pencapaian mahasiswa Poliwangi yang dapat menciptakan alat tersebut menjadi sebuah kebanggaan tersendiri. Apalagi, capaian itu dibarengi dengan prestasi juara di ajang lomba.

“Alhamdulillah untuk gelaran Kompetisi IoT Nasional di PNB IT ke-13 2021 kita masih diberi kesempatan untuk bisa mendapatkan juara 3, tim sudah melakukan yang terbaik mulai dari persiapan, penyisihan, hingga final, sehingga hasil ini patut kita apresiasi dan dapat memotivasi generasi penerusnya,” ungkap Alfin Hidayat, Dosen Pendamping Tim Oksigen.

Sebelumnya, PNB IoT ke-13 2021 sempat ditunda ditahun 2020 karena pandemi. Namun, pada gelaran PNB IoT ke-12 Poliwangi berhasil menyabet juara 2. (rin/ted)


Apa Reaksi Anda?

Komentar