Pendidikan & Kesehatan

Lewat Sentuhan Kearifan Lokal, FFS ke-8 Lebih Berwarna

Surabaya (beritajatim.com) – SMK Dr Soetomo kembali menggelar Festival Film Surabaya (FFS) ke 8, di Gedung Kesenian Cak Durasim Surabaya, Selasa-Rabu (9-10/7/2019).

Dalam FFS kali ini sebanyak 450 judul film dari penyaji film pelajar di penjuru negeri. Sebanyak 50 judul menjadi nominasi yang terbagi dalam 5 kategori lomba, yakni Fiksi Pelajar, Fiksi Mahasiswa, Animasi, Dokumenter dan Iklan Layanan Masyarakat.

Sebagai Festival Film yang berskala nasional, tentunya banyak kearifan lokal yang diangkat menjadi ide dalam film pendek yang diusung masing-masing peserta lomba. Salah satunya adalah film besutan siswa SMK Dr Soetomo yang berjudul Mateh yang berarti kematian dalam bahasa Indonesia.

Mengambil kearifan lokal masyarakat Madura, film Mateh buatan Saiful Alam (18), siswa kelas XII jurusan Produksi Film ini berlatar dan berbahasa Madura. Bercerita tentang filosofi kematian. “Film ini buatan sendiri bukan berawal dari tugas, kami ingin berkarya tanpa didampingi guru pembimbing, Alhamdulillah lolos nominasi,” ujar Saiful.

Ia merasakan kesulitan produksi yang didanai secara swadaya oleh timnya. Sehingga dirinya cukup salut saat melihat preview film nominator Festival Film Surabaya dengan teknik pengambilan gambar yang sulit. “Ada anak SMA bikin film horor, mereka pakai teknik baru kami tahu dalam pengambilan gambar. Keren,” kesannya.

Lain lagi dengan pengalaman Allicia Gonza (15), sutradara film Alana yang berasal dari SMP Lentera Harapan Laboan Bajo, Nusa Tenggara Timur. Film Alana juga sangat erat dengan budaya lokal dalam tema persahabatan.

Allicia mengaku senang bisa berpartisipasi dalam FFS meskipun ini adalah kesempatan pertamanya. Ia mengatakan bahwa tidak banyak sekolah yang memiliki ekstra kurikuler film di Labuan Bajo. Sehingga kesempatan ini cukup menumbuhkan minat yang besar baginya.

“Di sekolah ada guru sinematografi, awalnya hanya ikut-ikutan, ternyata saat masuk ke sana punya minat dalam membuat film dan skrip. Jadi saya teruskan sampai ikut festival,” ujarnya.

Kepala SMK Dr Soetomo Surabaya, Juliantono menjelaskan Festival Film Surabaya ke-8 ini kembali digelar  sebagai wadah pelajar dan umum yang bergelut di dunia produksi film. Apalagi SMK Dr Soetomo juga memiliki jurusan Produksi Film. Sehingga ia berharap ajang ini bisa membuka wawasan siswa akan berbagai ide cerita dan teknik dalam pembuatan film.

“Film-film yang diputar merupakan karya nominasi dari seleksi 450 karya film yang terbagi dalam beberapa kategori. Di tingkat pelajar ada yabg paling timur dari Labuan Bajo masuk nominasi, ada juga dari Bali dan Lampung,” urainya.

Untuk kalangan pelajar, ia menjelaskan terdapat beberapa kategori film, yaitu film fiksi, dokumenter dan  iklan layanan masyarakat. Sementara untuk mahasiswa dan umum dikategorikan film fiksi. “Kami juga mengambil juri dari kalangan profesional mulai dari kameramen hingga editor serta dosen dari berbagai universitas,” pungkasnya.

Selain memutar film para nominator pemenang di tiap kategori, Festival Film Surabaya ini juga menggelar talkshow dengan pemain dan sutradara film the Jack. Yang merupakan film berlatar belakang budaya dan bahasa Surabaya serta keragaman etnis. [adg/suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar