Pendidikan & Kesehatan

Lawan Covid-19, Kejari Tawarkan Aplikasi Si Penerawang ke Dinkes Kota Mojokerto

Pemaparan aplikasi Si Penerawang Kejari Kota Mojokerto di aula Kejari Kota Mojokerto.

Mojokerto (beritajatim.com) – Kejaksaan Negeri (Kejari) Kota Mojokerto memperkenalkan aplikasi Si Penerawang kepada Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Mojokerto. Aplikasi yang sebelumnya digunakan untuk pengawasan warga binaan yang mendapatkan asimilasi dan bebas bersyarat namun dikembangkan untuk warga binaan terdampak agar disiplin protokol kesehatan Covid-19.

Di hadapan Plt Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Kota Mojokerto dan jajaran serta Plt Kepala Dinkes Kota Mojokerto dan jajaran, Programer PT Prima Visi Globalindi, Tora Agastarenda pencetus aplikasi Si Penerawang (Sistem Pengawasan Elektronik Asimilisari dan Integrasi Warga Binaan) memaparkan tentang aplikasi Penerawang di aula Kejari Kota Mojokerto di lantai II.

Programer PT Prima Visi Globalindi, Tora Agastarenda pencetus aplikasi Si Penerawang mengatakan, dalam aplikasi Si Penerawang di halaman pertama ditampilkan Peta Sebaran Covid-19 di Kota Mojokerto. Isinya berupa data masyarakat, cek kesehatan awal, cek kondisi vital harian (Jika ada gejala harus laporan sehingga langsung update kesehatan masyarakat).

Riwayat kontak, riwayat perjalanan, riwayat kesehatan, daftar sakit dan pemantauan via GPS. Melalui GPS Handphone (HP), warga binaan akan terkoneksi dengan sistem dan secara otomatis akan terekam. Sehingga aplikasi tersebut dikembangkan untuk warga binaan agar disiplin protokol kesehatan Covid-19 dan ditawarkan ke Dinkes Kota Mojokerto.

Programer PT Prima Visi Globalindi, Tora Agastarenda pencetus aplikasi Si Penerawang mengatakan, di aplikasi Si Penerawang memiliki beberapa fitur antara lain GPS yang tidak ada di aplikasi Gayatri milik Pemerintah Kota (Pemkot) Mojokerto. “Yang paling utama adalah GPS biar tahu mereka kelayapan atau tidak,” ungkapnya, Kamis (18/2/2021).

Masih kata Tora, aplikasi Gayatri akan pengembangan berkaitan dengan GPS location sehingga lokasi perpindahan warga yang terindikasi Covid-19 akan ketahuan. Ia mencontohkan Aplikasi yang di miliki Pemkot Surabaya, untuk mendeteksi mobilitas orang keluar masuk Surabaya. Namun untuk aplikasi Si Penerawang lebih kepada pengendalian penduduk sehingga perpindahan penduduk dan tempat satu ke tempat yang lain.

“Ini lebih mikro karena untuk seluruh warga Kota Mojokerto. Dari Dinkes sudah terindikasi positif atau sudah dapat vaksin, OTG akan terdaftar ke sistem. Nantinya melalui aplikasi tersebut bisa merekomendasikan warga tersebut untuk menjalani perawatan di RS. Karena ada beberapa modul, jika saat daftar pertama tidak ada batuk dan lainnya, saat laporan mandiri atau cek ternyata batuk sehingga secara otomatis berubah,” jelasnya.

Yang sebelumnya Orang Tanpa Gejala (OTG) menjadi terpapar sesuai perumusan dari Kementrian Kesehatan (Kemenkes). Tora kembali mencontohkan, tidak memiliki gejala apa-apa namun dari tempat yang beresiko berupa menjadi Orang Dengan Resiko (ODR). Jika semua warga Kota Mojokerto menggunakan aplikasi tersebut maka hasilnya akan lebih bagus.

“Karena warga harus sadar dia itu menjaga dirinya bukan untuk dirinya sendiri tapi untuk orang lain juga. Pendaftaran menggunakan NIK (Nomor Induk Kependudukan), nantinya akan bekerjasama dengan Dispendukcapil. Ini tergantung dari teman-teman Dinkes dikembangkan Gayatri dengan konsep yang sudah ada. Dengan Gayatri yang sudah jadi, apa yang bisa ditambahkan atau dikolaborasikan,” urainya.

Plt Kepala Dinkes Kota Mojokerto, drg Maria Poeriani Soekowardani mengatakan, Dinkes Kota Mojokerto akan menyerahkan kepada tim muda di Dinkes untuk dikembangkan menjadi lebih menarik lagi. “Apakah dengan model kombinasi, kolaborasi dan dipadukan atau lebih dikembangkan fungsi dan kegunaannya karena kita juga punya aplikasi Gayatri yang juga mendapatkan penghargaan 45 top dari Menpan,” ujarnya.

Aplikasi Gayatri sudah menjadi hal yang mudah bagi Kota Mojokerto, namun dengan adanya aplikasi Si Penerawang diharapkan akan lebih baik lagi karena ada yang menarik didalamnya. Salah satunya GPS yang tidak ada di aplikasi Gayatri sehingga diharapkan Si Penerawang menjadi peluang Dinkes untuk lebih menarik warga taat menjalankan protokol kesehatan, penyebaran Covid-19 bisa ditekan.

“Kami akan melihat situasi di Kota Mojokerto. Berbeda wilayah, luas berbeda, mungkin lebih baik dari HP yang sudah ada. Kemungkinan akan kami serahkan ke teman-teman. Selama ini, masyarakat sudah wear tapi kembali lagi kebiasaan karena di Mojokerto tidak hanya orang Mojokerto sehingga kita tetap untuk mengingatkan 3M, 5M,” katanya.

Peta Sebaran Covid-19 Kota Mojokerto dengan adanya Pemberlakuan Penerapan Kegiatan Masyarakat (PPKM) dalam kondisi lebih baik. Namun pihaknya tetap waspada karena Covid-19 tidak tampak sehingga budaya untuk mencegah penyebaran dari mobilisasi harus betul-betul dikurangi.

Sementara itu, Kepala Seksi Pidana Umum (Kasi Pidum) Kejari Kota Mojokerto, Ferdi Ferdian Dwirantama menambahkan, aplikasi Si Penerawang akan digabungkan dengan aplikasi Gayatri Kota Mojokerto. “Akan ada pengembangan aplikasi Si Penerawang mengenai titik lokasi GPS sehingga muncul di aplikasi Gayatri. Tujuannya memaksimalkan pemantau terhadap pasien yang melaksanakan isolasi mandiri di rumah,” tambahnya.

Masih kata Ferdi, sehingga tingkat pemaparan Covid-19 akan maksimal. Dengan adanya aplikasi ini diharapkan bisa menghindari kontak pasien yang isolasi mandiri dan tidak disiplin. Karena banyak kasus di lapangan ditemukan, ada pasien yang disarankan menjalani isolasi mandiri di rumah namu justru ke luar rumah. Sehingga angka lebih banyak warga yang terpapar Covid-19 di Kota Mojokerto.

“Sehingga bisa dipantau melalui aplikasi ini. Data tetap rahasia, hanya pihak terkait yang bisa memonitoring seperti Bu Wali Kota, Tim Covid-19 Tracing, Kepala Dinkes. Dengan adanya aplikasi ini menghindari kontak secara langsung untuk monitoring tracing terhadap pasien yang melaksanakan isolasi mandiri. Dengan adanya aplikasi ini tidak kontak langsung dengan pasien, pasien akan lebih mandiri melaporkan per jam. Untuk menekan kedisiplinan ini, Si Penerawang diinisiasi untuk aplikasi Gayatri,” pungkasnya.

Aplikasi Si Penerawang merupakan program unggulan yang diajukan saat Kejari Kota Mojokerto menuju Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM) tahun 2020 lalu. Kejari Kota Mojokerto sendiri meraih predikat Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK) dan WBBM dua tahun berturut-turut. Dengan aplikasi tersebut diharapkan bisa bermanfaat untuk shareholder terkait. [tin/kun]



Apa Reaksi Anda?

Komentar