Pendidikan & Kesehatan

Melalui Bantuan Pendidikan Mahasiswa Pemkot Kediri

Laptop Baru untuk Cucu Tukang Becak

Kediri (beritajatim.com) – Nadia Putri Cantika (19) menjadi salah satu dari 123 penerima Bantuan Pendidikan bagi mahasiswa Kota Kediri. Kondisi pandemi yang mengharuskan kuliah daring dirasakan sulit bagi Nadia.

Laptop yang ia gunakan termasuk keluaran lama dan di sisi lain harus bergantian dengan saudaranya. “Laptopnya sering nge-lag, jadi sulit,” katanya. Namun kini, ia lega karena lolos seleksi Bantuan Pendidikan bagi Mahasiswa Kota Kediri. Cairnya dana beasiswa dari Pemkot Kediri, akan ia belikan laptop untuk menunjang kuliahnya.

Mahasiswa Universitas Negeri Surabaya Jurusan Manajemen Pendidikan ini sudah 3 tahun ikut tinggal bersama kakek neneknya. Kakeknya, Samsul Rifa’i (69) menjadi tulang punggung keluarga bekerja sebagai tukang becak di Jalan Brawijaya Kota Kediri. “Pemasukan harian tidak menentu, terutama pandemi ini,” ujar pria paruh baya ini. Selama pandemi, Nadia juga sesekali bekerja membantu di catering.

Info beasiswa yang dibuka bulan April kemarin didapat Nadia dari temannya. Pendaftaran kemarin dia menulis kebutuhan pembelian laptop dan printer. Ratnawati, 65, Nenek Nadia bersyukur Pemkot Kediri memberikan beasiswa untuk membantu kuliah cucunya.

“Kemarin itu yang penting berusaha dulu, kalau diterima nggih Alhamdulillah. Kalau tidak nggih yang penting sudah mencoba,” ujarnya. Doa selalu dicurahkan Ratnawati untuk Nadia, “Semoga diberi ijabah segala kebutuhannya, selalu menjadi anak sholehah.”

Tahun ke-6 program ini berlangsung, Pemkot Kediri telah memberikan bantuan ke 2.479 mahasiswa. Walikota Kediri mengharapkan Bantuan Pendidikan sebesar 5 juta rupiah per tahun jadi pelecut semangat mahasiswa Kota Kediri untuk melanjutkan kuliah dan meningkatkan potensi serta prestasi yang dimiliki.

“Mudah-mudahan bantuan ini bisa membantu adik-adik untuk melanjutkan kuliah. Pemberian bantuan ini juga harus didukung dengan IPK minimal 3.0. Saya minta ini dipertahankan karena selain untuk persyaratan, dengan nilai IPK yang tinggi biasanya juga sangat berpengaruh ketika adik-adik masuk dunia kerja. Untuk bekerja biasanya IPKnya minimal 2,75. Tapi adik-adik IPKnya harus di atas itu agar ke depannya mudah mencari kerja,” ujarnya.

Nadia memiliki harapan, kelak ia akan menjadi sosok penting yang mampu mengoptimalkan dunia pendidikan. “Ingin jadi kepala sekolah, mengoptimalkan pendidikan secara merata,” jelasnya. Menurutnya, seluruh siswa di manapun berhak memiliki masa depan yang cerah. [nm/suf]



Apa Reaksi Anda?

Komentar