Pendidikan & Kesehatan

Kunyit dan Empon-Empon Lainnya Sebagai Pendongkrak Imunitas

Salah satu pedagang empon-empon di Pasar Besar Malang.

Baru-baru ini beredar himbauan melalui media sosial agar masyarakat tidak mengkonsumsi kunyit dan temulawak untuk sementara waktu karena mengandung kurkumin. Alasan yang dikemukan adalah bahwa kurkumin yang terkandung di dalam ke dua bahan itu meningkatkan ekspresi enzim ACE2 yang juga adalah reseptor COVID 19, dan oleh karena itu menyebabkan tubuh malah mudah terinfeksi COVID 19.

Saya berpendapat bahwa himbauan itu tidak memiliki landasan ilmiah yang kuat dan bermaksud menyampaikan pandangan saya sebagai berikut:

Apakah ACE2?

Angiotensin converting enzyme 2 (ACE2) adalah sebuah enzim yang menjadi perantara perubahan angiotensin. Angiotensin sendiri adalah hormon yang diperlukan untuk mengerutkan pembuluh darah sehingga terjadi peningkatan tekanan darah. Ini adalah bagian dari pengaturan tekanan darah,

Apa hubungan ACE2 dan virus SARS CoV 2?

Memang sudah diketahui melalui pembuktian ilmiah sejak lama, bahwa ACE2 adalah tempat masuknya beberapa jenis virus corona ke dalam sel tubuh manusia, termasuk SARS-CoV yang menyebabkan SARS. Beberapa studi juga mengidentifikasi masuknya COVID19 melalui pintu yang sama, yaitu ACE2

Apa hubungan ACE2, SARS COV2 dan kurkumin pada kunyit?

Himbauan tidak mengonsumsi kunyit dan temulawak itu bermula dari hasil sebuah penelitian tentang peran kurkumin pada gangguan fibrosis jantung. Hasil penelitian itu menyebutkan, bahwa kurkumin dapat menghambat pembentukan fibrosis miokardial melalui modulasi ekspresi ACE2.

Dengan hasil penelitian yang mengatakan bahwa kurkumin dapat memodulasi ekspresi ACE2 tersebut, beberapa pihak menyatakan bahwa kurkumin memberikan kemudahan bagi COVID19 masuk ke dalam sel.

Apakah benar kurkumin memang memudahkan /meningkatkan penularan virus COVID 19 pada manusia?

Jawabannya sebagai berikut:
Hasil penelitian pada organ jantung itu memang menunjukkan kerja kurkumin melalui modulasi ekspresi ACE2, sementara COVID 19 menginfeksi organ paru. Maka diperlukan sebuah penelitian khusus untuk menjawab apakah pemberian kurkumin pada sel paru mempercepat masuknya kuman dan virus, termasuk COVID19.

Dengan demikian landasan ilmiah himbauan itu tidak kuat.

Di sisi lain, himbauan yang beredar itu menyebutkan kurkumin dikhawatirkan memudahkan infeksi COVID19. Sementara, kurkumin hanyalah satu dari begitu banyak komponen kandungan kimia kunyit. Kita mengonsumsi kunyit, bukan kurkumin. Bagaimana mungkin kita menerima hasil penelitian seperti itu?
Penelitian tersebut dilakukan terhadap organ jantung dan kemungkinan reseptor yang diperiksa adalah reseptor yang terdapat pada pembuluh darah. Ini berbeda dengan COVID 19 yang reseptornya di organ paru.

Yang sudah pasti adalah bahwa penelitian pada kunyit, jahe, temulawak terbukti menunjukkan kerja zat kandungannya sebagai pendongkrak sistem imun.

Mengonsumsi bahan–bahan itu sudah menjadi tradisi masyarakat Asia, termasuk Indonesia yang membuat tubuh sehat. Imun yang kuat pasti akan membantu tubuh kita untuk melawan kuman dan virus yang menyerang sel tubuh manusia. Kekebalan tubuh yang kuat akan memperkecil atau meniadakan peluang masuknya virus ke sel tubuh kita melalui cara apapun.

Oleh karena itu saya menyatakan saat ini bahwa temulawak, kunyit, dan jahe tidak berpotensi memudahkan penularan COVID19. Bahan-bahan tersebut bahkan dapat membantu meningkatkan kekebalan tubuh manusia, antara lain melalui aktivitas antioksidan dan antiinflamasi, agar tidak mudah terkena infeksi virus dan bakteri.

Dalam situasi sekarang, saya menyarankan:

– Meningkatkan daya tahan tubuh melalui pola hidup yang super sehat

– Yang sangat diperlukan adalah nutrisi lengkap, termasuk susu dan telur.

– Mengonsumsi berbagai empon-empon karena keunggulan kandungan kimiawinya. Konsumsi dilakukan secara teratur dalam jumlah tidak berlebihan, misalnya secangkir wedang jahe setiap sore hari.

– Mempertimbangkan untuk mengonsumsi buah kurma minimal 5 butir setiap hari secara langsung atau dalam bentuk infused kurma water.

– Mengonsumsi jinten hitam kapsul yang dibeli dari penjual bereputasi untuk menjamin keasliannya. Perhatikan petunjuk pemakaian yang tertulis pada etiket.

– Minum air putih yang cukup

– Menjaga kebersihan
Menghindari kerumunan massa dan melakukan pembatasan sosial (social distancing) seoptimal mungkin

Surabaya, 18 Maret 2020

Prof. Dr. Mangestuti Agil, MS., Apt.
Fakultas Farmasi Universitas Airlangga

Apa Reaksi Anda?

Komentar