Pendidikan & Kesehatan

Kondisi Indonesia Bakal Normal di Bulan Juli, Ini Syaratnya

Pemeriksaan warga yang melakukan perjalanan di perbatasan Jakarta Tangerang Senin (27/4/2020). [Foto: AFP/BBC]

Masyarakat Indonesia diharapkan dapat hidup normal kembali pada bulan Juli. Kondisi itu terealisasi bila tes masif dan pelacakan agresif berhasil dilakukan pada April dan Mei 2020.

“Sementara warga mematuhi kebijakan pembatasan sosial berskala besar(PSBB),” kata Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Doni Monardo, Senin (27/4/2020).

“Presiden menegaskan berulang kali tentang pentingnya upaya kita untuk melakukan tes masif pada April dan Mei. Ini dilanjutkan dengan pelacakan yang agresif serta isolasi yang ketat,” kata Doni.

Ia juga mengatakan diharapkan pada bulan Juni Indonesia dapat menurunkan kasus covid-19 dan “pada Juli diharapkan kita sudah bisa mulai mengawali hidup normal kembali.”

Pemerintah mengumumkan larangan mudik yang berlaku Jumat (24/04/2020), sementara pesawat komersial dan carter juga dilarang mulai pada hari yang sama sampai tanggal 1 Juni mendatang.

Sampai Senin (27/04/2020), jumlah kasus Covid-19 di Indonesia tercatat 9.096 dengan angka kesembuhan 1.151 dan jumlah yang meninggal 765 orang.

Doni – dalam konperensi pers melalui video setelah rapat bersama Presiden Joko Widodo – juga meminta seluruh masyarakat mematuhi aturan terkait PSBB dan larangan mudik untuk memutus mata rantai penularan Covid-19.

Pada pertengahan April lalu, Presiden Joko Widodo memerintahkan dilakukannya “pengujian masif” dan “pelacakan agresif” pasien Covid-19 di tengah terus meningkatnya kasus virus corona di Indonesia, sekitar satu bulan setelah organisasi kesehatan dunia, WHO, menetapkan pandemi global.

“Tingkat pengujian sampel secara masif harus ditingkatkan dengan pelacakan yang agresif serta diikuti isolasi yang ketat,” kata Jokowi dalam sidang kabinet melalui konferensi video Selasa (14/04/2020).

“Ini kepada Ketua Gugus Tugas, Menteri Kesehatan, Polri dibantu TNI agar yang pertama yang saya sampaikan tadi betul-betul diberikan perhatian,” ujarnya.

Jumlah orang yang sudah diperiksa spesimen terkait Covid-19 sejauh ini telah mencapai lebih dari 26.500, dan pemerintah menargetkan pemeriksaan sampel sejumlah 300.000 sebulan.

WHO menetapkan virus corona sebagai pandemi global pada tanggal 11 Maret lalu, dan pemerintah Indonesia membentuk gugus tugas penanganan Covid-19 pada tanggal 13 Maret.

Kepala Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Doni Monardo, mengatakan, Selasa (14/04/2020) dalam satu bulan setelah gugus tugas ini dibentuk pihaknya antara lain “terus meningkatkan kemampuan laboratorium yang semula tiga unit menjadi 12 unit, selanjutnya menjadi 25 unit menuju ke 62 unit dan diharapkan sampai ada 78 unit lab tersebar di seluruh tanah air.”

Distribusi tes cepat, menurut Doni, telah disebarkan sekitar 800.000 ke seluruh Indonesia.

Terkait langkah menekan penyebaran, Doni mengatakan pemerintah menerapkan langkah “memutus mata rantai penularan melalui PSBB (Pembatasan Social Berskala Besar), edukasi sosialisasi dan mitigasi. kita juga berusaha melakukan kampanye untuk meningkatkan imunitas tubuh.”

Sementara itu, sejumlah negara di dunia dengan tingkat demografi besar mencatatkan angka kematian tinggi karena virus corona. Misalnya, Amerika Serikat hingga 22 April 2020, mencatatkan, 824.065 warganya positif corona dengan sebanyak 44.996 korban meninggal dunia.

Lalu, Prancis dengan 117.324 warganya terpapar corona dengan jumlah korban meninggal dunia sebanyak 20.796 orang. Turki 95.591 warganya terpapar corona dan 2.259 di antaranya meninggal dunia.

China dengan 83.864 warga terpapar corona dan 4.636 di antaranya meninggal dunia. Rusia sebanyak 52.763 warga terpapar corona dan 456 korban di antaranya meninggal dunia. Brasil sebanyak 43.368 warga terpapar corona dan 2.761 korban di antaranya meninggal dunia. India sebanyak 20.111 warga terpapar corona dan 645 di antaranya meninggal dunia. [BBC/air]

Apa Reaksi Anda?

Komentar