Pendidikan & Kesehatan

Komisi D Pertanyakan Itikad Baik Pemkab Jember terhadap dr Soebandi

Jember (beritajatim.com) – Komisi D DPRD Jember, Jawa Timur, mempertanyakan itikad baik Bupati Faida untuk membesarkan Rumah Sakit Daerah dr. Soebandi. Pertanyaan ini terlontar karena program pembangunan gedung rawat jalan Rumah Sakit Daerah dr. Soebandi tak juga terlaksana sejak 2018.

“Sebenarnya apa sih program besar Pemkab Jember terhadap RSD dr. Soebandi? Apa mau mengkerdilkan RSD dr Soebandi atau ada itikad baik membesarkan,” kata Wakil Ketua Komisi D Nur Hasan, dalam rapat dengar pendapat Komisi D dengan Dinas Kesehatan dan manajemen tiga rumah sakit daerah, di gedung DPRD Jember, Selasa (8/10/2019).

Nur Hasan mempertanyakan realisasi pembangunan gedung rawat jalan. “Kenapa, sejak saya duduk di sini sebagai anggota Dewan, pembangunannya batal terus? Kecewa sekali saya. Bahkan dulu perencanannya kami anggarkan dari APBD,” katanya.

“Pembangunannya gagal gagal gagal lagi. Apa menunggu bupati baru? Kalau bisa Bupati Faida jadi lagi, tapi dr. Soebandi makin besar sesuai maket yang direncanakan,” sindir Nur Hasan.

Nur Hasan mengatakan, antrean pasien di RSD dr. Soebandi sangat panjang. “Bahkan antrean operasi sampai 7-8 bulan,” katanya. Ada tambahan ruang operasi di gedung itu untuk memperpendek antrean.

“Ayolah kita pikirkan bersama. Dr. Soebandi harus kita besarkan bersama-sama. Kalau APBD tidak sanggup, saya suruh utang. Saya yakin sanggup. Ini harus kita pikirkan bersama. Ayolah persepsi kita bangun bersama. Untuk pengembangan itu, kami tak akan utik-utik. Saya kasihan siapapun yang jadi direktur RSD dr. Soebandi,” kata Nur Hasan.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Jember Dyah Kusworini mengatakan, proses lelang gedung baru itu bukan kewenangannya, melainkan unit lelang dan pengadaan di Pemerintah Kabupaten Jember. “Beberapa kali kami meminta agar segera dipercepat. Tapi dalam proses lelangnya gagal. Kami sudah menyampaikan dalam surat. Terakhir kami mendapat informasi bahwa masih dalam proses masa sanggah. Ketika rekanan sudah siap menandatangani kontrak, berarti dia harus siap menyelesaikan,” katanya.

Pembangunan gedung rawat inap senilai Rp 14,7 miliar diharapkan selesai pada Desember 2019. “Hari ini terakhir masa sanggah (setelah pengumuman pemenang lelang). Sampai tanggal 12 Oktober, kami upayakan paling lambat bisa kontrak. Untuk pembangunannya, kami akan benar-benar meminta dan mengevaluasi setiap tahapan agar proses ini bisa diselesaikan. Kalau Rp 14 miliar, ini belum jadi bangunan dan siap ditempati. Tapi paling tidak langkah itu sudah bisa kami siapkan tahun ini, dan kekurangannya akan dimasukkan dalam anggaran tahun 2020,” kata Kusworini yang pernah bekerja di bagian perencanaan RSD dr. Soebandi selama lima tahun. [wir/but]





Apa Reaksi Anda?

Komentar