Pendidikan & Kesehatan

Kisah Sopir Ambulans RSUD Gambiran Kediri, Sehari Antar 21 Jenazah Covid-19

Muhamad Fadil sudah 21 tahun menjadi sopir ambulans RSUD Gambiran Kota Kediri

Kediri (beritajatim.com) – Muhamad Fadil sudah 21 tahun menjadi sopir ambulans RSUD Gambiran Kota Kediri. Ia sudah terbiasa membawa orang sakit maupun pasien meninggal dunia.

Sejak pandemi Covid-19 melanda, keadaan berubah. Fadil harus bolak balik mengantar jenazah pasien yang terkonfirmasi positif virus corona. Bahkan, belakangan ini sehari bisa mencapai puluhan.

“Sering kita baru istirahat, sudah ada jenazah lagi yang harus diantar. Bahkan, Jumat kemarin, ada 21 jenazah (Pasien Covid-19) dalam sehari,” kata Muhamad Fadil.

Pria 41 tahun ini sedang bersama para sopir ambulans RSUD Gambiran Kota Kediri, yang berjibaku di tengah gelombang kedua Covid-19 ini.

Ada delapan sopir lainnya, dengan pembagian tiga shift perhari. Namun, tak jarang mereka harus bekerja lebih lama, karena harus saling mengisi saat jenazah menumpuk di waktu yang bersamaan.

“Kita harus siaga 24 jam. Meski belum waktunya shift kalau dibutuhkan ya berangkat,” imbuh Fadil.

Tiga minggu terakhir, ada 10  hingga 15 jenazah yang harus diantar setiap harinya. Bahkan, Jumat, 23 Juli 2021 kemarin ada 21 pasien Covid-19 meninggal dalam sehari. Sebagai sopir ambulans yang sudah bekerja selama 21 tahun, ini tentu jumlah yang paling besar. Termasuk dalam catatan angka kematian akibat Covid-19 di Kota Kediri.

Lelah sudah pasti menghinggapi Fadil dan kawan-kawan. Namun rasa itu seolah hilang ditelan tanggung jawabnya mengantar jenazah-jenazah itu pulang. “Lelah, capek itu pasti. Tapi ini tanggung jawab kita. Kita harus segera mengantarnya ketika selesai proses pemulasaraan,” katanya.

Dalam kondisi ini, Fadil dan kawan-kawan masih dituntut konsentrasi yang tinggi. Karena resiko di jalan, saat berkendara dengan kecepatan tinggi, bukan tak mungkin mengancam nyawa mereka. Untuk itu, kadang Fadil perlu berkompromi, terutama soal waktu untuk bergantian beristirahat. Atau sekadar ngopi, untuk mengusir kantuk.

“Kita tidak bisa hanya cepat, tapi juga tepat. Harus bisa mengontrol diri ketika di jalan. Kopi juga tidak boleh lupa biar tidak kantuk,” tukasnya.

Selain lelah, Fadil dan sopir ambulans lainnya juga dibekap kekhawatiran akan tertular virus berbahaya ini. Belum lagi, keluarga di rumah yang harus menanggung resiko yang sama.

“Khawatir pasti. Kita paham resiko ini. Tapi kita tetap ikhtiar dengan APD, dan masker dobel. Vitamin juga kita terus. Sebisa mungkin kita juga tetap berolahraga agar badan tetap fit” terang Fadil.

Empati Fadil juga sering tersentuh setiap kali melihat keluarga pasien Covid-19 menangis meratapi kepergian keluarga mereka. “Kemarin ada yang meninggal, ibuknya. Selang beberapa hari, Bapaknya,”.

Fadil berharap masyarakat untuk tetap disiplin mematuhi protokol kesehatan. Agar tidak menjadi korban akibat keganasan virus berbahaya ini. [nm/ted]



Apa Reaksi Anda?

Komentar