Pendidikan & Kesehatan

Gara-gara Corona

Kisah Dosen Universitas Jember yang Tak Bisa Pulang dari Nigeria (1)

Jember (beritajatim.com) – Berangkat ke Nigeria pada 15 Maret 2020, Achmad Subagio, pakar pangan Universitas Jember di Kabupaten Jember, Jawa Timur, sama sekali tak menyangka harus bertahan lebih lama. Dia tak bisa segera kembali ke tanah air, karena terhadang kebijakan pemerintah dalam memutus mata rantai penyebaran Covid-19.

Subagio terbang ke Nigeria untuk keperluan pekerjaan konsultasi di salah satu perusahaan multi nasional teknologi pertanian. “Saat berangkat tidak ada kendala yang berarti, hanya memang saat itu sudah ada pengurangan penerbangan dari Dubai ke Lagos, sehingga saya harus layover di Dubai International Hotel,” katanya via WhatsApp kepada beritajatim.com.

Frekuensi penerbangan dikurangi karena sedikitnya penumpang yang bepergian. “Bahkan untuk penerbangan Jakarta – Dubai saat itu kursi hanya terisi kurang lebih 30 persen. Bandara Dubai juga terlihat lengang dari biasanya yang sangat sibuk,” kata dosen Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Jember ini.

Ini kunjungan ketiga Subagio ke Lagos, Ibu Kota Nigeria. Saat berangkat, pemeriksaan kesehatan tidak ketat. “Hanya saat tiba di Lagos, ada pemeriksaan kesehatan berupa cek temperatur dan pengisian surat pernyataan sehat,” kata Subagio.

Nigeria memang mengharuskan setiap migran harus sudah mendapatkan suntikan vaksin meningitis dan yellow fever. “Kartu kuning (yellow card) harus ditunjukkan. Saya sudah menyiapkan vaksin di Bandara Soekarno- Hatta,” kata Subagio.

Tak banyak yang berubah di Lagos sejak Subagio terakhir kali ke sana. Hanya ada pemeriksaan suhu dan penggunaan suci hama tangan (hand sanitizer) sebelum masuk hotel, restoran, dan kantor.

Sepekan di Lagos, Subagio bergeser ke Kota Benin untuk melakukan observasi lapang. Situasi mulai berubah, karena beberapa kasus Covid-19 mulai muncul. “Bahkan kasusnya terus meningkat hingga pada 23 Maret ada pengumuman penutupan bandara internasional dan seluruh penerbangan internasional di-cancel,” katanya.

Penerbangan pulang Subagio pada 24 Maret pun ikut dibatalkan. “Perusahaan mencoba mencari alternatif penerbangan lewat Ethiopia dan Ghana. Tapi ternyata penerbangan tersebut ditiadakan. Kalaupun ada kemungkinan itu, perusahaan khawatir saya akan terkatung-katung di tempat transit, sehingga diputuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan pulang,” katanya. [wir/ted]





Apa Reaksi Anda?

Komentar