Pendidikan & Kesehatan

Warga Kampus Kehilangan

Kisah Darman, Penjual Kerupuk Legendaris di Kampus Unair

Almarhum Darman

Surabaya (beritajatim.com) Pukk… krupukkk.… suara nyaring masih terngiang di telinga hampir seluruh mahasiswa, alumni, dosen, staf, penjaga parkir dan semua orang yang pernah berkutat di lingkungan Kampus B Universitas Airlangga (Unair Surabaya).

Sudarman, itulah nama seorang pria yang tidak pernah lelah menjajakan kerupuk, air mineral, makanan ringan lainnya dan rokok yang tergantung di plastik besar dari tongkat di pundaknya. Darman, panggilannya, telah mengisi hari-hari hampir disemua mahasiswa dari berbagai fakultas di kampus B Unair.

Darman yang menjajakan kerupuk dari gedung satu ke gedung lainnya, menghampiri satu persatu kerumunan mahasiswa yang sedang belajar, ngobrol, main game, latihan ormawa atau mereka yang sedang makan di kantin, sedang bergurau di lorong-lorong kelas. Satu-satunya penjaja makanan yang bisa leluasa masuk ke sayap atau lobi gedung-gedung fakultas di Kampus B Unair.

Darman yang telah begitu dikenali dan membuat suatu memori tersendiri di ingatan setiap sivitas Kampus B Unair, kini telah berpulang ke-Rahmatullah. Pria kelahiran Nganjuk, 30 Juni 1966 tersebut meninggal karena sakit panas dan batuk pada Senin (15/2/2021) sekitar pukul dua siang.

Hidayatul Kholifah, anak tertua dari Darman mengatakan bahwa bapaknya hanya sakit panas dan batuk selama 4 hari. Meski demikian tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan bapaknya mengalami kegawatan, karena memang selama ini Darman tidak memiliki penyakit kronis apapun.

“Bapak itu tidak ada sakit aneh-aneh, cuma panas dan batuk, bapak pun masih bisa ngapa-ngapain, makan masih enak, masih bisa jalan jalan,” kenang Hidayatul, kepada beritajatim.com melalui telepon, Rabu (17/2/2021).

 

Darman meninggal di kampung halamannya, Dusun Tawangrejo, Desa Kedungombo, Kecamatan Tanjunganom, Nganjuk. Dia meninggalkan seorang istri, empat orang anak dan seorang cucu. Dikenang menjadi legenda oleh sivitas Kampus B Unair, ternyata sesaat sebelum Darman menghembuskan nafas terakhirnya, dia begitu merindukan ‘anak-anak’ Unair.

Hidayatul mengatakan, sekitar pukul enam pagi, bapaknya ingin diantarkan ke anak-anak Unair. Tapi karena permintaan tersebut tidak jelas maka anak-anaknya tidak merespon.

“Bapak itu sempat ada ingin minta diantar ke anak-anak Unair, tapi kita nggak ngeh. Lah wong ngomongnya gak jelas, ke siapa, ngapain kita gak tahu. Ya mungkin itu namanya pamitan, pingin pamitan ke anak-anak Unair sebelum pergi,” kenangnya.

Hidayatul mengatakan bahwa bapaknya memang begitu mencintai pekerjaannya sebagai penjaja makanan ringan, kerupuk dan lainnya di lingkungan kampus B Unair. Menurut Hidayatul, Bapaknya menjadi penjaja makanan ringan di Kampus B Unair bahkan sebelum menikah dengan istrinya.

“Bapak sudah kerja di kampus (Unair) sejak lama. Ketika masih perjaka. Sebelum menikah dengan ibu. Mulai masanya Presiden Soeharto. Sejak saat itu sampai sekarang bapak tidak pernah ganti pekerjaan,” ungkap Anak perempuan Sudarman.

Semenjak pandemi dan kampus tutup, Darman pulang ke kampung halamannya di Nganjuk. Darman tidak beralih ke pekerjaan lain. Sebagai pengganti, anak ke dua Darman, yang lulusan SMA pun menjadi tulang punggung keluarga selama setahun belakangan ini.

Selama itu pula Darman selalu mengungkapkan rasa rindunya untuk bisa berjualan dan menjajakan kerupuk lagi di Kampus. “Bapak sering sekali bertanya, kapan to sekolah iki buka? ora buka-buka,” kenang Hidayatul.

Tidak hanya ingin segera kembali memutar roda ekonomi, keinginan Darman kembali ke kampus juga karena rindu para mahasiswa kampus B Unair. Dikenal sebagai legenda, Darman merupakan sosok yang lemah lembut dalam bertutur kata, tidak pernah memasang wajah cemberut dan selalu kocak. Darman begitu dicintai oleh masyarakat Kampus B Unair, kehadirannya menjajakan kerupuk begitu dinantikan.

“Bapak tidak pernah mengeluh tidak suka kerja di kampus, bapak malah selalu rindu. Bapak sering bercerita bahwa banyak mahasiswa yang baik kepadanya, ada yang selalu ngajak bapak makan, ngasih ongkos lebih, ada yang sering mengantarkan beliau pulang ke kos. Alhamdullilah selama ini bapak bekerja dengan senang dan diterima baik,” tukasnya.

Selain itu, Hidayatul juga menceritakan bahwa bapaknya, selalu melakukan pekerjaannya dengan penuh cinta. “Saya pernah bilang ke bapak pas lagi bungkusin jajan, apa bumbunya tidak terlalu banyak, bapak jawab, lah wong anak-anak suka pedes kok, gak mau kalau ndak pedes mereka itu, ben to, ben arek arek seneng,” kenangnya.

Kematian Darman, telah diketahui hampir keseluruh telinga masyarakat kampus B Unair, baik mahasiswa, dosen, maupun alumni. Mereka pun berbondong-bondong memasang foto Darman di platform media sosial mereka sebagai bentuk rasa duka cita dan kehilangan, mendoakan dari jauh, dan saling mengenang interaksi menarik yang pernah dilakukan oleh Sang Penjaja Kerupuk Legendaris.

Bahkan, hampir setiap fakultas melakukan gerakan donasi untuk Alm. Darman. Setidaknya begini gambaran, ucapan belasungkawa yang membanjiri tiap grup chat para mahasiswa, alumni dan sivitas lainnya atas berpulangnya Darman.

-Innalillahi wainnailaihi roojiuun Pak Darman yang biasa jualan krupuk2 berpulang
-kabarnya begitu, ini dari mahasiswa, saya masih coba cari tahu kontak keluarga beliau
-Allahummaghfirlahu warhamhu waafihi wafuanhu. Cak Darman org yg bnyk berjasa bagi para mahasiswa kerupukers. Semoga amal ibadahnya diterima Allah. Amiin…

-Innalillahi wainna ilaihi rojiun. Semoga Cak Darman mendapat tempat terbaik di sisi-Nya. Aamiin
-Innalillahi wainna ilaihi rojiun. Semoga almarhum Pak Darman mendapat tempat terbaik di sisi-Nya. Aamiin YRA

-Puuuk….Kruupuuuk”. Selamat Jalan Kang Darman…..
-Pak Darman.. Kang krupuk the legend.. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. [adg/suf]



Apa Reaksi Anda?

Komentar