Iklan Banner Sukun
Pendidikan & Kesehatan

KIS Diblokir, Warga Ngawi Ini Bingung Lunasi Biaya Rumah Sakit

Setyowati (45) warga Kelurahan Ketanggi, Kecamatan/Kabupaten Ngawi saat temani ibunya yang masih sakit diabetes, Sabtu (15/1/2022) (Foto: Fatihah Ibnu Fiqri)

Ngawi (beritajatim.com) – Setyowati (45) warga Jalan Dr Wahidin Gang Sikatan RT 21 RW 05 Kelurahan Ketanggi, Kecamatan/Kabupaten Ngawi hanya bisa pasrah dengan keadaan.

Dia terpaksa menanggung hutang sebanyak Rp 4,1 juta rupiah untuk melunasi biaya perawatan ibunya di salah satu rumah sakit swasta di Ngawi. Dia mencari pinjaman karena Kartu Indonesia Sehat atas nama ibunya Suharni (61) sudah diblokir.

Semula, sang ibu yang menderita diabetes, menjalani perawatan selama tiga hari dua malam. Kemudian, saat hari Jumat dia mengetahui KIS milik ibunya tak bisa digunakan karena diblokir saat dia ingin ibunya pulang. Pihak rumah sakit lantas memberikan tagihan senilai Rp 4,1 juta rupiah. Setyo pun bingung harus mencari duit ke mana.

Dia sempat minta reaktivasi dan meminta surat pengantar dari Dinas Sosial Ngawi. Namun, saat ke BPJS Kesehatan, hasilnya nihil. Kebijakan Pemerintah jadi alasan BPJS Kesehatan tak bisa kembali melakukan reaktivasi. Dia pun menghubungi kerabat yang ada di Jakarta untuk membantu mencari pinjaman.

”Tidak ada pemberitahuan sebelumnya terkait non aktivasi itu. Tahu-tahu sudah gak bisa dipakai. Akhirnya kami cari pinjaman, syukur ibu bisa pulang. Kami tidak bisa lama-lama di rumah sakit, takut biaya semakin membengkak. Ibu dulu sering dirawat di RSUD dr Soeroto Ngawi, tapi tak kunjung sembuh, dan kami akhirnya berobat ke RS lain dengan harapan bisa sembuh. Tapi, karena KIS ibu diblokir, kami tidak mungkin sanggup melanjutkan biaya pengobatan ibu,” kata Setyo berlinang air mata, Sabtu (15/1/2022).

Wanita yang kesehariannya bekerja sebagai penjaga kos di Sukoharjo, Jawa Tengah itu terpaksa pulang untuk mengurus ibunya. Lantaran, dari enam bersaudara hanya dia yang paling dekat, sekaligus sang ayah yakni Marjuki (67) juga tengah sakit dan dirawat di rumah. Dirinya hanya bisa pasrah.

Sementara itu Suharni (61) mengharap kalau KIS nya bisa kembali aktif. Dia masih ingin melakukan pengobatan karena kakinya masih bengkak. Belum lagi dia juga butuh cuci darah karena penyakit diabetesnya sudah komplikasi dan menyerang organ ginjal, hati, dan empedu.

”Kami tidak mampu jika harus berobat dengan biaya mandiri. Kami mohon pemerintah Kabupaten Ngawi bisa mengusahakan ini,” kata Suharni. (fiq/ted)


Apa Reaksi Anda?

Komentar