Pendidikan & Kesehatan

Ngaji Dakwah di Pekan Ngaji 6 Pesantren Bata-Bata

Kiai Najih Maimoen: Umat Butuh Tauladan Dibanding Mauidhah

KH Muhammad Najih Maimoen Zubair mengisi kegiatan Ngaji Dakwah dalam kegiatan Pekan Ngaji 6 Pesantren Bata-Bata, Panaan, Palengaan, Pamekasan, Rabu (17/3/2021) malam.

Pamekasan (beritajatim.com) – Pengasuh Pondok Pesantren Al-Anwar I Sarang, Rembang, Jawa Tengah, KH Muhammad Najih Maimoen Zubair menyatakan sikap Istiqamah menjadi salah satu kunci sukses dalam berdakwah khususnya di era milenial.

Hal tersebut disampaikan Kiai Najih Maimoen (sapaan akrab KH Muhammad Najih Maimoen Zubair  saat mengisi Ngaji Dakwah dalam kegiatan Pekan Ngaji 6 Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata, Panaan, Palengaan, Pamekasan, Rabu (17/3/2021) malam.

Dalam kegiatan tersebut, ulama yang dikenal sebagai salah satu pakar hadits mengupas persoalan dakwah dalam berbagai perspektif, sekaligus membahas tema ‘Dikwah Dinamis di Era Modern’ melalui sub dari grand tema ‘Sharing the Usefullness’.

“Dakwah dinamis adalah dakwah yang istiqamah, apapun bentuk dan metode dakwah yang dilakukan para pendakwah, istiqamah menjadi kunci utama dalam kesuksesan berdakwah, termasuk di era milenial seperti saat ini,” kata Kiai Najih Maimoen.

Mengkomparasikan dakwah melalui sikap istiqamah secara praktis dan teoritis, juga menjadi hal penting yang harus dilakukan para pendakwah. Hal tersebut menandakan pentingnya penerapan dakwah secara substantif dan harus menunjukkan pada aktualisasi sikap di setiap sendi kehidupan.

Kiai Najih Maimoen juga mengungkapkan perihal secara menyeluruh. Termasuk jenis maupun relevansi ideal dakwah dalam kehidupan. “Banyak jenis dakwah yang diprakrekkan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari, sekalipun selama ini istilah dakwah seringkali diidentikkan dengan persoalan ceramah,” ungkapnya.

“Beberapa jenis dakwah itu di antaranya dakwah lillah atau lidinillah dan dapat berupa dakwah bi al-hal (perilaku atau sikap), dakwah bi al-maqal (ucapan), dakwah bi al-mal (harta), dakwah bi al-dua’ wa al-tadharru’ (doa dan munajat),” jelasnya.

Namun dari beragam jenis dakwah yang disampaikan, jenis dakwah bi al-hal dinilai sebagai jenis dakwah efektif dan efesien untuk disamapikan kepada masyarakat. Terlebih di era milenial cenderung memanfaatkan sesuatu yang lebih praktis memahami secara menyeluruh.

“Dari itu, dakwah bi al-hal  menjadi lebih efisien dan praktis daripada jenis dakwah bi al-maqal dan lainnya, karena umat saat ini sudah terlalu kenyang dengan mauidzah hasanah khususnya di era milenial seperti saat ini. Tetapi yang mereka butuhkan sebenarnya adalah tauladan atau uswah haisanah,” tegasnya.

Sementara status dinamis dalam konteks dakwah dapat diartikan dengan menunjukkan aktualisasi dalam sendiri kehidupan, sebab setiap orang harus memiliki peran dan kapasistas untuk melakukan dakwah dengan orientasi memperbaiki kehidupan (ishlah) sesuai dengan tema yang diangkat, yakni menebar manfaat (fa intasyiru fi al al-ardhi).

Dakwah bi al-hal bisa kita praktikkan dengan mengajar, mendidik, serta memberikan keteladanan norma dan sikap, di mana hal itu merupakan salah satu bagian dari dakwah. Termasuk juga menjadi penulis, menyuarakan kebenaran dengan beragam tulisan yang menandakan sebagai bagian dari jenis dakwah bi al-maqal,” imbuhnya.

Tidak kalah penting dari semua itu, dakwah dinamis harus ditunjukkan dengan sikap istiqamah dan tawadhu’ hingga akhirnya dapat memberikan manfaat kepada masyarakat luas. “Karena itu, ladang dakwah menjadi luas dan dinamis, serta terbuka bagi siapa saja. Namun perlu diingat, bertanya dan meminta saran kepada alim ulama tetap menjadi sebuah keniscayaan,” pungkasnya. [pin/ted]


Apa Reaksi Anda?

Komentar