Iklan Banner Sukun
Pendidikan & Kesehatan

Khofifah: Penanganan Wabah PMK Butuh Kolaborasi IKA Unair dan Pemda

Khofifah Indar Parawansa

Jember (beritajatim.com) – Gubernur Khofifah Indar Parawansa mengatakan, penanganan wabah penyakit mulut dan kuku hewan ternak sapi saat ini tidak secepat penanganan saat pandemi Covid-19. Dibutuhkan partisipasi organisasi masyarakat seperti Ikatan Keluarga Alumni Universitas Airlangga (IKA Unair).

Tanda-tanda wabah sudah terlihat pada April 2022. Namun obat untuk wabah ini sangat terbatas. “Proses untuk mendapatkan vaksin memang harus dikonfirmasi bahwa ada wabah,” kata Khofifah, dalam acara pengukuhan pengurus Ikatan Keluarga Alumni Universitas Airlangga Kabupaten Jember, di Pendapa Wahyawibawagraha, Sabtu (25/6/2022).

Dua hari lalu, Jawa Timur mendapatkan suplai 362 ribu dosis vaksin. “Seminggu lalu kita hanya dapat seribu vaksin. Total kita butuh 10,5 juta vaksin. Dari 10,5 juta, untuk Jawa Timur disiapkan 1,5 juta vaksin,” kata Khofifah.

Persediaan vaksin ini langsung disalurkan habis ke kabupaten dan kota. Khofifah mengatakan, vaksin dan obat sangat terbatas. Sementara bantuan tak terduga (BTT) tidak mudah direalisasikan, karena Instruksi Mendagri mensyaratkan anggaran BTT dialokasikan melalui Perubahan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah yang harus dimasukkan dalam SIPD (Sistem Informasi Pembangunan Daerah).

“Setelah diinput ke SIPD, prosesnya harus melalui DPRD. Setelah itu lelang (pengadaan). Prosesnya panjang,” kata Khofifah.

Di sinilah dibutuhkan partisipasi organisasi kemasyarakatan seperti IKA Unair. Menurut Khofifah, nota kesepahaman antara Pemkab Jember dan IKA Unair penting untuk membangun sinergi, kolaborasi, dan kolektivitas. Penanganan wabah PMK tidak bisa hanya berharap dari pemerintah. “Ada hal tertentu di mana regulasi memberikan format yang agak berbelit dan itu prosesnya sudah pasti panjang,” katanya. [wir/but]


Apa Reaksi Anda?

Komentar