Pendidikan & Kesehatan

Ketua MUI Jember: Jangan Bedakan Santri

Jember (beritajatim.com) – Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Jember, Jawa Timur, mendukung adanya kebijakan pemerintah daerah yang membuka akses ilmu, pengetahuan, dan keterampilan bagi para santri.

Namun Ketua Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Jember Abdul Halim Subahar meminta agar tak ada perlakuan diskriminatif terhadap dua kelompok santri di Indonesia. Ada dua jenis santri di Indonesia, yakni santri mukim dan santri non-mukim.

“Santri adalah peserta didik di pesantren, baik santri mukim maupun santri non-mukim,” kata Halim.

Santri mukim adalah mereka yang menetap di pondok atau asrama pesantren. Sementara santri non-mukim adalah santri yang tidak menetap di pondok. “Mereka hanya mengaji sewaktu-waktu atau bersekolah di komplek pesantren,” kata Halim.

Menurut Halim, santri non-mukkm semakin meluas pada jamaah pengajian. “Jumlahnya tak terbatas dan mereka merasa sebagai bagian dari santri,” katanya.

Dua jenis santri ini harus dipertimbangkan pemerintah daerah sebelum mengimplementasikan kebijakan yang berpihak kepada kaum santri. “Tugas pemerintah daerah adalah menjamin kemaslahatan, antara lain harus menciptakan ‘non discriminative policy’,” kata Halim. Semua kebijakan yang memperluas akses ini bertujuan membuat santri mandiri. [wir/but]





Apa Reaksi Anda?

Komentar