Pendidikan & Kesehatan

Kerja Keras Jawa Timur Hapus Stigma Negatif Pasien Covid-19

Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa

Surabaya (beritajatim.com) – Covid-19 hingga saat ini masih merajalela. Tak sedikit kerabat, saudara dan teman kita yang telah menjadi korban keganasan virus yang berasal dari Wuhan, China ini. Banyak cerita tersembunyi di balik bilik rumah, bagaimana perjuangan sebuah keluarga melawan Covid-19 dengan sangat gagah berani. Ada yang harus mengikhlaskan kepergian keluarganya, ada juga yang berhasil sembuh dan bisa berbagi cerita.

Stigma negatif masyarakat kepada orang yang terkonfirmasi positif Covid-19 saat ini juga masih memprihatinkan. Masih banyak masyarakat yang memandang negatif orang yang positif Covid-19, walaupun pemerintah sudah gencar melakukan sosialisasi agar orang yang positif Covid-19 tidak dikucilkan. Covid-19 bukanlah aib. Mereka yang terpapar Covid-19 mayoritas bisa sembuh.

Beritajatim.com berkesempatan bertemu beberapa narasumber yang meminta namanya agar dirahasiakan. Salah satu keluarga penyintas Covid-19 ini berada di kawasan Jemursari Surabaya. Berada dalam satu kecamatan dengan tempat tinggal Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa, yakni Kecamatan Wonocolo Surabaya.

“Sebenarnya saya ragu mau menceritakan hal ini, karena istri dan anak saya bilang tidak usah. Tapi setelah saya pikir, mungkin ada gunanya saya berbagi cerita ini untuk berbagi info masalah yang aktual kita hadapi saat ini,” ujar seorang bapak bernama SA berusia 78 tahun ini kepada beritajatim.com, Minggu (20/9/202) malam.

SA memulai ceritanya, ketika pada Senin (20/7/2020) sang menantu bernama AD (45) tidak berangkat kerja ke kantor. Ini karena mengalami kondisi badan agak demam dan kurang fit. AD minum paracetamol dan obat pereda demam serta istirahat di rumah.

“Memang sejak awal Juli dia sudah mulai masuk kantor lagi setelah sebelumnya work from home (WFH). Kemana-mana pakai Grab Car. Besoknya, panas belum turun juga, ketambahan ada batuk dan agak sesak napas. Oleh anak saya FF, AD dibawa ke klinik dekat rumah, untuk rujukan BPJS-nya. Diberi obat untuk meredakan gejalanya. Pada Kamis (23/7/2020), batuk dan sesak belum berkurang walau sudah tidak demam lagi,” jelasnya.

Kemudian, AD dibawa ke dokter spesialis paru kenamaan. Oleh dokter disarankan untuk dilakukan swab test. Pada Jumat (24/7/2020) siang, swab test dilakukan di RSI Jemursari Surabaya. Hasil baru diketahui tiga hari ke depan pada Senin (27/7/2020).

Prosesi pemakaman jenazah Covid-19 di TPU Keputih Surabaya

Lalu, lanjut dia, atas saran dari cucu pertamanya yang seorang dokter, agar dicari RS untuk perawatan atau isolasi.

“Kalau di RS-RS rujukan penuh, disuruh langsung ke RSU dr Soetomo Surabaya saja. Pada Jumat malam itu, anak saya cari-cari RS yang bisa menerima pasien rujukan. RSI Jemursari yang dekat rumah sudah kondisi penuh. Akhirnya, ke RSU dr Soetomo seperti saran cucu saya yang dokter. Ternyata di situ lebih parah lagi, pasien mengantre dan kamar penuh, kata suster di IGD. Sebab beberapa hari terakhir banyak sekali pasien luar kota berdatangan. Rupanya imbas dari new normal, justru banyak masyarakat terpapar. Pada pukul 23.30 WIB, anak dan menantu saya baru pulang. Akhirnya, diputuskan isolasi mandiri di rumah saja,” papar SA dengan menghela napas panjang.

Keputusan isolasi mandiri di rumah bukanlah hal yang mudah. Ini karena di dalam rumah juga ada SA beserta istrinya yang sudah berusia lanjut, dua cucu berusia 8 tahun dan 15 tahun serta anak perempuannya FF (43). Di dalam rumah berpenghuni enam orang.

“Di rumah ada garasi yang sudah diubah jadi ruang kantor, ketika menantu saya punya usaha dengan temannya. Tapi, sudah hampir dua tahun ini tutup. Di situlah AD akan kami isolasi. Ada kamar mandi sendiri disiapkan. Di rumah kami ada tiga kamar mandi. Satu di dalam kamar saya, satu di dekat ruang makan dan satu di dekat ruang kantor. Barang-barang keperluan makan sehari-hari yang biasa ditaruh di ruang makan, seperti rice cooker, piring, sendok garpu, dispenser air minum dipindahkan ke ruang keluarga dan ruang tamu dalam,” tuturnya.

Pasien AD saat isolasi mandiri disediakan piring, gelas dan sendok garpu khusus. “Jadi, saya dan istri, anak serta cucu kalau makan di ruang keluarga atau ruang tamu. Di wastafel disediakan sabun cair, sehingga bisa untuk cuci tangan sewaktu-waktu Diusahakan benar-benar supaya tidak terjadi kontak fisik maupun imbas droplet pasien untuk anggota keluarga yang lain,” katanya.

Hasil swab yang ditunggu-tunggu pada Senin (27/7/2020) akhirnya keluar. Dan, benar hasilnya positif. Tapi, dari pemeriksaan dokter paru dinilai hanya kategori ringan. Masih sangat mungkin untuk isolasi mandiri. “Jadi, kami makin mantap melaksanakannya di rumah,” imbuhnya.

Selama dua minggu perkembangan pasien cukup bagus. Demam sudah tidak ada. Batuk dan sesak napas juga sudah mulai reda. Indra perasa dan penciuman yang pada awal-awal terdampak, sudah pulih kembali.

“Pada Jumat (7/8/2020) dicek ke dokter paru, masih belum hilang 100 persen tanda bercak putih di parunya. Jadi, obat dokter masih diteruskan. Swab test baru akan dilakukan seminggu lagi atau Jumat (14/8/2020). Kondisi pasien sudah sangat membaik,” katanya.

Menurut SA, anak-anaknya yang berada di Surabaya maupun luar Surabaya sangat khawatir dengan kondisi bapak ibunya yang sudah uzur ini.

“Sehingga wanti-wanti betul supaya kami ini nggak sampai tertular. Kalau dengar kami batuk sedikit saja, anak-anak sudah khawatir hehehe. Padahal, cuma batuk karena keselek waktu minum misalnya. Anak saya yang di Lawang membelikan kapsul Propoelix dan Clover Honey. Saya juga beli Madu Hutan Pahit Az Zikra. Tiap hari kami juga minum campuran susu kedelai, serbuk jahe dan susu Anlene Gold. Kawan menantu saya juga ngirim Empon Immuno buatan Sukoharjo, Jateng. Semuanya berguna untuk menambah daya tahan tubuh. Untuk tambah energi, saya tiap hari konsumsi buah kurma pagi dan sore. Tiap sore dan malam juga makan buah pepaya. Malam hari sebelum tidur minum teh plus jeruk lemon dan madu,” ujarnya sambil berbagi resep.

Khusus dirinya sendiri, SA tiap hari meminum obat yang diberikan oleh dokter langganan internis di RS Mitra Keluarga Sidoarjo. Ada Neurodex (vitamin B untuk syaraf-syaraf), CavidD3 (vitamin D untuk tulang), Metformin (untuk ngontrol gula darah), Simvastatin (untuk ngontrol kolesterol), Allopurinol (untuk ngontrol asam urat) dan Glucosamine (untuk pelumas sendi-sendi).

“Dan, selama pandemi Covid-19 ini saya tambah sendiri Vitamin C 500mg dan Vitamin E 100mg. Lalu, saya juga tiap hari konsumsi tomat yang banyak mengandung lycopen, vitamin A dan anti oksidan. Semua itu dalam upaya untuk menambah daya tahan tubuh. Upaya lainnya adalah menggerakkan badan dengan jalan hampir tiap hari saya berpanas-panas menyapu halaman dan jalan di depan rumah. Ini untuk dapat vitamin D dan keringat,” tukasnya.

“Ini pengalaman saya dalam merawat pasien Covid-19 dengan isolasi mandiri dan Alhamdulillah sembuh. Tak perlu panik, seperti yang sudah banyak kita baca di Group WA. Hadapi dengan tenang. Yang penting tetap jaga agar kontak langsung maupun paparan droplet dengan pasien tidak terjadi. Harus pakai masker, baik di dalam atau luar rmh. Jaga kebersihan lingkungan. Semprot kamar-kamar dengan hand sanitizer atau cairan desinfektan. Insya Allah kita dapat terhindar dari infeksi virus Covid-19 ini,” tutupnya kepada beritajatim.com.

Kekompakan Warga di Desa Boteng, Kecamatan Menganti, Gresik

Kekompakan Warga

Memasuki bulan September, seiring dengan meningkatnya penderita terkonfirmasi Covid-19 di berbagai daerah, semakin banyak orang yang abai dan sudah tidak menjalankan protokol kesehatan. Namun, kecenderungan itu nampaknya tidak berlaku bagi warga RW 05 Desa Boteng, Kecamatan Menganti, Gresik.

Pada Sabtu (5/9/2020) mulai pukul 20.00 WIB, mereka tetap bersemangat dalam melakukan upaya pencegahan dan penanganan merebaknya Covid-19 dengan menggandeng pakar dari Tim Pengendalian dan Pencegahan Infeksi RSU dr Soetomo Surabaya, Mucharam, S.Kep., Ns., M.Kep. serta Relawan dari Rumah Sakit Lapangan KOGABWILHAN II Jawa Timur.

Bertempat di Gedung Posyandu RT 28 Perumahan Green River Park, Mucharam mengajak warga untuk lebih melakukan pencegahan terhadap penularan Covid-19, dengan cara menerapkan protokol kesehatan.

“Pemakaian masker, sering cuci tangan pakai sabun dan jaga jarak menjadi cara awal dalam pencegahan Covid-19,” ujar Mucharam.

Sedangkan, ketika ada warga yang terpapar Covid-19, Mucharam mengimbau agar warga bahu-membahu untuk memberikan support, bukan malah diasingkan atau dikucilkan. Selain itu, Mucharam memberikan penjelasan tentang jenis-jenis infeksi pada kasus Covid-19.

“Orang yang terpapar Covid-19 dengan dilatarbelakangi adanya penyakit bawaan (komorbid), maka membutuhkan penanganan serius di rumah sakit, kalau tidak ya bisa bablas. Beda dengan orang yang daya tahan tubuhnya kuat, cukup isolasi mandiri selama 10 hari bisa sembuh,” jelasnya.

Dia mengungkapkan, virus asal Wuhan China tersebut memang sulit dideteksi, keberadaanya dan tidak kasat mata. Untuk itu, yang terpenting adalah bagaimana menjaga agar virus tersebut tidak masuk tubuh melalui lima lubang di wajah kita, yakni dua lubang mata, dua lubang hidung dan satu lubang mulut. Yakni, melalui pemakaian masker yang benar, sering mencuci tangan dan selalu menjaga jarak. Mucharam mengakhiri materinya dengan menayangkan video tutorial pemakaian APD yang benar.

Relawan Program Pendampingan Keluarga Pasien Covid-19 RS Lapangan KOGABWILHAN II, Aldy Syah Dafiq Ramadhan dan Endah Sulistiawati menyampaikan, pentingnya penanganan bagi mereka yang terkena Covid-19 tidak saja dari aspek medis, melainkan juga dari sisi kesehatan lingkungan, aspek psikologis dan juga aspek sosial kemasyarakatan.

Gubernur Jatim Khofifah kampanye ‘Gerakan Jatim Bermasker’ di kabupaten/kota Jatim

Apa yang perlu dilakukan oleh masyarakat bila menemui kasus Covid-19 di wilayahnya? Secara personal, masyarakat, melalui tim penangan Covid-19 yang sudah ada, perlu memahami, diri sendiri apakah memiliki gejala Covid-19 untuk selanjutnya melakukan pemeriksaan medis ke faskes atau lab terdekat. Selanjutnya, melakukan verifikasi hasil labnya dan tidak panik, segera menghubungi fasilitas kesehatan terdekat untuk konsultasi dan tindakan lebih lanjut.

Pihak keluarga juga diharapkan memberikan dukungan penuh pada anggotanya yang terkena. Segera melakukan swab pada anggota keluarga yang terkena dan meminta rujukan ke faskes bila perlu. Menjaga kedisiplinan menjalankan protokol kesehatan dan gotong royong membantu warga yang terkena. “Penting pula bagi warga untuk tidak mengucilkan, selalu mengikuti informasi terkini dan mengadakan edukasi berkelanjutan agar warga mendapatkan informasi yang benar tentang Covid-19,” jelasnya.

Ketua Tim Covid-19 RW 05 Desa Boteng, Kecamatan Menganti Gresik, Wahyu Edi Pangarso mengatakan, kegiatan ini untuk memberikan edukasi pada warga tentang penanganan Covid-19 yang benar. “Agar tidak menimbulkan ketakutan bagi masyarakat,” katanya.

Sementara itu, Ketua RW 05 Desa Boteng, Rachmad Rudi Setiawan mengatakan, kegiatan sosialisasi ini merupakan perdana sejak Covid-19 melanda khususnya di wilayahnya. “Semoga dengan kegiatan ini semakin merekatkan kerukunan warga yang selama ini terbelenggu dengan ketakutan akan wabah virus ini,” pungkasnya.

Dalam acara yang dihadiri perangkat Desa Boteng, Danramil Menganti, Relawan Covid Mahasiswa ITS, Relawan Pendamping pasien RSLI, dan ratusan warga RW 05 tersebut, Mucharam bersama tim relawan Rumah Sakit Darurat Lapangan Indrapura Surabaya terlihat membagikan masker dan memutarkan video tentang penggunaan masker yang baik dan benar serta pemasangan alat pelindung diri (APD) lainnya.

Wargapun antusias, mengikuti acara dari awal hingga akhir. Kegiatan semacam ini merupakan implementasi dari bertemunya kekuatan pentahelix, yakni dari pemerintah, komunitas/masyarakat, akademisi, dunia usaha/donatur dan kekuatan media dalam berkolaborasi mengatasi pandemi Covid-19.

Dengan pembagian peran masing-masing pihak, maka langkah yang diambil akan semakin mudah, ringan dan dapat lebih lancar. Upaya ini bisa terus dikembangkan dan diduplikasi di wilayah lainnya, sehingga harapannya upaya gotong royong seperti ini menjadi gerakan massif yang segera memberikan dampak besar mengakhiri pandemi Covid-19 di Indonesia, khususnya Jatim.

Data Sebaran Zonasi Covid-19 di Jatim

Langkah Taktis Jatim

Dengan kembali naiknya angka konfirmasi positif Covid-19 di berbagai wilayah, termasuk Jawa Timur, hal ini berpengaruh pada kapasitas bed isolasi yang ada di Rumah Sakit. Jakarta sebagai ibukota negara sendiri telah memberlakukan kembali PSBB secara total pada 14 September 2020.

Menanggapi hal tersebut, Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa memastikan bahwa kapasitas Bed Isolasi di Jawa Timur relatif cukup, dengan jumlah bed isolasi sebanyak 6.611 bed dan ICU isolasi 860 bed. Angka tersebut menjadikan Jatim sebagai wilayah dengan kapasitas bed isolasi maupun ICU isolasi tertinggi di Indonesia.

“Alhamdulillah, saat ini bed isolasi di Jawa Timur relatif cukup. Bed occupancy Rate -nya saat ini 49 persen, artinya persentase ini ideal dan sesuai dengan standar Bed Occupancy Ratio menurut WHO, yakni di bawah 60 persen,” tutur Gubernur Khofifah saat ditemui sesuai menghadiri Penutupan dan Wisuda Diklatpim II di Kantor BPSDM Jatim, Jalan Balongsari Tama Tandes Surabaya pada Jumat (11/9/2020).

Berdasarkan laporan Ketahanan Kesehatan Dalam Menjalani Tatanan Hidup dari Kemenkes RI per tanggal 8 September 2020, Jawa Timur saat ini memiliki kapasitas bed isolasi mencapai 6.611 bed dengan 3.221 bed yang terisi. Angka ini lebih tinggi dibandingkan Jawa Barat yakni 4.477 bed dengan 1.724 bed yang terisi, DKI Jakarta yakni 4.417 bed dengan 3.776 bed yang terisi dan Jawa Tengah 3.664 bed dengan 2.110 bed yang terisi.

Sedangkan, kapasitas ICU isolasi Jatim mencapai 860 bed dengan keterisian hanya 72 bed. Angka ini lebih tinggi dari Jawa Tengah yakni 738 dengan keterisian 30 bed, Jawa Barat dengan 721 bed dengan keterisian 30 bed dan DKI Jakarta dengan 574 bed dengan keterisian 250 bed.

“Ini semua, buah dari ikhtiar Pemprov Jatim bersama Pemkab/Pemkot untuk meningkatkan jumlah bed isolasi. Dari Maret 525 bed, sekarang naik 12 kali lipat menjadi 6.611 bed,” ungkap orang nomor satu Jatim ini.

Kendati demikian, Gubernur perempuan pertama Jatim ini tetap menghimbau masyarakat untuk selalu waspada dan patuh pada protokol kesehatan. Melihat munculnya beberapa klaster baru dalam beberapa minggu ini, Gubernur Khofifah berpesan agar masyarakat membatasi aktivitas yang dirasakan beresiko tinggi untuk terjadi penularan kasus Covid-19.

Selain itu, Khofifah juga menyampaikan ke masyarakat agar menghilangkan stigma negatif kepada warga yang terkena Covid-19. Fenomena stigma ini membuat pasien dengan gejala Covid-19 takut ke rumah sakit, sehingga baru datang ketika sudah memberat. Padahal, jumlah bed isolasi dan ICU isolasi di Jawa Timur relatif masih cukup.

“Terlambatnya penanganan pasien positif ini dipengaruhi oleh adanya stigma negatif, sehingga masyarakat takut ke Rumah Sakit untuk diperiksakan Covid-19. Padahal, saat ini bed isolasi kita masih cukup,” ujar Khofifah.

Sebelumnya, di awal bulan Juli telah dilaporkan bahwa bed isolasi di Jawa Timur mengalami overload, khususnya Surabaya Raya. Beberapa rumah sakit di Jatim juga dilaporkan memiliki Bed Occupancy Rate yang melebihi 80 persen.

Pemprov Jatim selanjutnya mengambil langkah cepat dengan mendirikan RS Darurat Lapangan Indrapura bersama dengan pemerintah pusat, TNI, Polri diikuti dengan menambah RS Rujukan dari yang sebelumnya hanya 44 di awal April menjadi 127 RS Rujukan. Kedua langkah ini dinilai cukup efektif dalam mengatasi kondisi overload tersebut.

“Di RSU dr Soetomo, pasien Covid-19 yang dirawat juga menurun. Bulan Mei mencapai 223 orang dan memuncak menjadi 622 orang di Bulan Juni. Lalu di bulan Juli turun menjadi 486 orang dan 379 di bulan Agustus,” terang dr Joni Wahyuhadi selaku Dirut RSU dr Soetomo Surabaya yang juga Ketua Rumpun Kuratif Satgas Penanganan Covid-19 Jatim.

Sementara itu, sesuai arahan Presiden Joko Widodo untuk terus meningkatkan kapasitas 3T yakni testing, tracing dan treatment, dalam 5 bulan terakhir Jatim juga melakukan testing dan tracing yang cukup masif.

Dalam laporan Ketahanan Kesehatan Dalam Menjalani Tatanan Hidup dari Kemenkes RI per tanggal 8 September 2020, disebutkan bahwa Jumlah Pemeriksaan Spesimen PCR 26 Mei-7 September 2020 Jawa Timur menduduki peringkat dua yakni 169.016 di bawah DKI Jakarta 295.626, angka ini diikuti oleh Jawa Tengah 136.456 dan Jawa Barat 134.548.

Data Testing Rapid Test dan PCR Swab di Jatim

91,9 Persen Meninggal Disertai Komorbid

Hingga saat ini, angka kematian dalam kasus Covid-19 di Jawa Timur mencapai 2.896. Angka ini menjadikan Jatim sebagai provinsi dengan kasus kematian tertinggi di Indonesia.

Ketua Rumpun Kuratif Satgas Penanganan Covid-19 Jatim, dr Joni Wahyuhadi mengatakan, tingginya angka kematian di Jawa Timur menjadi pekerjaan rumah bagi pihaknya.

“Problem di setiap provinsi beda-beda. Memang, salah satu tugas kita di Jawa Timur yang juga diminta saat rapat dengan Menkomarves adalah menurunkan angka kematian. Angka kematian kita kan tujuh koma sekian, dianggap tinggi,” kata Joni di Surabaya, Jumat (18/9/2020).

Joni menjelaskan, 91,9 persen kasus kematian di Jawa Timur disertai komorbid. Atau hanya 8,1 persen kasus kematian yang murni karena Covid-19.

Diabetes menjadi komorbid yang paling banyak menyertai kematian dalam kasus Covid-19 di Jatim. Yakni mencapai 27,6 persen. Lalu hipertensi 23 persen.
Kemudian jantung 19 persen, PPOK 5,1 persen, ginjal 3,8 persen, keganasan (kanker) 3,8 persen, hamil 2,9 persen, hati 2,2 persen, asma 2,2 persen, TBC 1,3 persen dan gangguan imonologi satu persen.

Joni kini masih menunggu arahan dari Kemenkes RI soal pencatatan kasus kematian. Apakah yang benar-benar murni Covid-19 atau tidak, yang dicatat sebagai kasus kematian.

“Di Jawa Timur ini pelaporan dari rumah sakit itu memang apa adanya. All record. Nah ini kita minta dari Menkes pedomannya yang betul gimana. Apakah dimasukkan seluruhnya, atau yang meninggal penyebabnya bukan Covid-19 ndak masuk dalam kematian Covid-19. Akan dirapatkan nanti,” jelasnya.

Kegiatan Satgas Penanganan Covid-19 Jatim dalam Rapid Test masyarakat

Harus Disiplin Terapkan Protokol Kesehatan

Jumlah kematian dokter dan tenaga kesehatan Indonesia akibat Covid-19 semakin meningkat tajam. Data yang dihimpun oleh Tim Mitigasi PB IDI (update 17 September 2020) menyebutkan bahwa dalam kurun waktu tiga hari sejak data terakhir dirilis, dua dokter umum meninggal dunia, menambah total 117 dokter Indonesia yang meninggal akibat terpapar Covid-19. Dua dokter tersebut berasal dari Jakarta dan Jatim.

dr Adib Khumaidi, SpOT, Ketua Tim Mitigasi PB IDI mengatakan, angka kematian dokter yang semakin cepat dan tajam ini menunjukkan masyarakat masih abai terhadap protokol kesehatan yang diserukan oleh para tenaga kesehatan dan pemerintah.

“Kami mewakili seluruh tenaga kesehatan di Indonesia memahami bahwa ada kebutuhan ekonomi yang juga perlu diperhatikan. Namun, kami meminta masyarakat sebagai garda terdepan dalam penanganan Covid ini agar disiplin menerapkan protokol kesehatan dalam setiap aktivitas kesehariannya. Hal ini bukan hanya untuk keselamatan para tenaga kesehatan, namun juga keselamatan diri mereka sendiri dan orang-orang di sekitar. Pandemi ini tidak akan pernah berakhir, apabila tidak disertai peran serta semua elemen masyarakat. Dan, hal ini tentunya juga akan berdampak negatif bukan hanya pada kesehatan namun juga ekonomi secara berkepanjangan,” paparnya.

Adib menyebutkan bahwa dengan jumlah dokter yang berguguran maka menjadi pekerjaan besar untuk tetap bisa memberikan proporsional dalam pelayanan kesehatan. Para tenaga kesehatan kini menjadi benteng terakhir dalam penanganan Covid 19.

“Indonesia bahkan belum mencapai puncak pandemi gelombang pertama pandemi ini dikarenakan ketidakdisiplinan protokol kesehatan yang masif. Apabila hal ini terus berlanjut, maka Indonesia akan menjadi episentrum Covid dunia yang mana akan berdampak semakin buruk pada ekonomi dan kesehatan negara kita,” tuturnya.

Sementara itu Dr dr Eka Ginanjar, SpPD, KKV, MARS selaku Ketua Tim Protokol Tim Mitigasi PB IDI mengatakan bahwa jumlah kematian masyarakat dan tenaga kesehatan di Indonesia merupakan yang tertinggi di Asia. Padahal dengan disiplin menerapkan protokol kesehatan dan perilaku 3M yaitu selalu mengenakan masker, menjaga jarak, dan rajin mencuci tangan dengan benar, maka tingkat penularan dan kematian di semua lapisan dapat ditekan sebagaimana halnya di negara lain.

Studi ilmiah yang dipublikasikan di The Lancet menyebutkan bahwa penggunaan alat pelindung diri dalam protokol kesehatan sangat membantu mencegah penularan. Dengan menjaga jarak selama sekurangnya satu meter, dapat mencegah penularan hingga 82 persen. Penggunaan masker sesuai standar dapat mencegah penularan hingga 85 persen. Sementara itu, penggunaan face shield saja hanya mencegah hingga 78 persen. Namun, akan lebih baik lagi apabila selain menggunakan masker juga sekaligus face shield.

“Kasus penularan yang tidak terkontrol di masyarakat akan mengakibatkan kolapsnya sistem kesehatan, yang ditandai dengan tingginya tenaga kesehatan terpapar Covid-19 dan sulitnya mencari tempat perawatan. Akibatnya, korban pasien Covid-19 meningkat dan disertai juga peningkatan angkat kematian pasien non-Covid-19. Tugas kami para tenaga kesehatan tidak akan ada artinya tanpa peran serta masyarakat dalam menerapkan protokol kesehatan,” pungkas Eka.

Covid-19 belum ada obatnya atau vaksinnya hingga saat ini. Hati yang bahagia dan disiplin menerapkan protokol kesehatan adalah ‘obat yang mujarab’ sementara ini. Kita tak perlu ikut-ikut mencap stigma negatif kepada mereka atau keluarga yang terpapar Covid-19. Datangi mereka, jangan malah dikucilkan. Kepedulian masyarakat sekitar juga menjadi vitamin penambah imun bagi pasien Covid-19. Semoga pandemi ini segera berakhir!!! [tok/but]





Apa Reaksi Anda?

Komentar