Iklan Banner Sukun
Pendidikan & Kesehatan

Siloam Hospitals Surabaya

Kerap Alami Dehidrasi dan Mual, Waspada Batu Ginjal

Surabaya (beritajatim.com) – Manajemen Siloam Hospitals Surabaya memberikan edukasi waspada batu pada saluran kemih. Dokter Spesialis Urologi, Dian Paramita Oktaviani Soetojo mengatakan bahwa keberadaan batu pada saluran kemih di Indonesia merupakan kasus atau keluhan terbanyak di bidang urologi.

“Umumnya kasus atau keluhan tersebut terjadi pada masyarakat berusia 30 hingga 50 tahun, dan tidak menutup kemungkinan batu saluran kemih ini dapat terjadi pada anak-anak, remaja maupun orang tua,” dokter Dian dalam Bincang Sehat Siloam Hospitals Surabaya, Jumat (27/5/2022).

Dokter Dian menambahkan secara pengetahuan umum medis, pada hakekatnya, batu pada saluran kemih adalah batu yang berada di saluran kemih baik itu di ginjal, ureter, kandung kemih maupun uretra (sistem saluran kemih manusia).

Zat Garam dan mineral lain yang menempel membentuk seperti batu ukuran kecil atau kerikil dan belum menimbulkan rasa sakit ketika tetap atau masih berada di ginjal.

“Namun, apabila batu makin membesar akan menyebabkan nyeri yang amat sangat bahkan dapat menghalangi aliran urine sehingga menimbulkan sumbatan di saluran kemih ureter,” ungkap Dian Paramita, Dokter Spesialis urologi yang berpraktek tetap di Rumah sakit yang berlokasi di Raya Gubeng Kota Surabaya, Jawa Timur ini.

Faktor Risiko dan Penanganan Batu Ginjal

Pada bincang edukasi lanjutan, faktor resiko batu ginjal disebabkan oleh adanya riwayat terkena batu sebelumnya, riwayat keturunan, obesitas dan gangguan absorpsi di lambung dan lain-lain.

Faktor lainnya yang patut diwaspadai adalah seringnya mengalami dehidrasi (kurang minum), hingga faktor riwayat pola makan yang dinyatakan sebagai prediposisi antara lain asupan kalsium, penggunaan garam yang tinggi, serta makan-makanan yang tinggi purin (seperti jeroan), dan minum minuman yang mengandung black tea, dan soda.

Siloam Hospitals Surabaya

Tanda atau gejala penyakit ini antara lain:

Nyeri di pinggang ringan hingga berat, kadang disertai mual-muntah. Nyeri pada saat buang air kecil, urine berwarna keruh, coklat hingga kemerahan, bahkan buang air kecil dalam jumlah sedikit.

Dokter Dian menjelaskan penanganan awal dilakukan tes darah maupun urine, pemeriksaan radiologi seperti USG, rontgen perut, sampai CT scan urogenital (CT Stonografi) lalu kemudian setelah batu terdeteksi nantinya batu akan di lihat berdasarkan ukuran dan letak. Sehingga batu bisa dikeluarkan sesegera mungkin, baik melalui obat-obatan, perubahan gaya hidup, maupun operasi.

Tindakan yang dapat dilakukan yaitu dengan operasi minimal invasive, dengan alat khusus batu akan dipecah menjadi pecahan ukuran kecil dan dapat keluar sendiri bersama urine atau dibantu dikeluarkan dengan alat tersebut.

Selain dengan tindakan operasi, pemecahan batu juga dapat dilakukan dengan alat ESWL (extracoporeal shock wave lithotripsy), yaitu batu dipecah menggunakan gelombang khusus dari alat tersebut dan pasien tidak perlu dilakukan pembiusan,” kata Dokter Dian.

Adapun batu ginjal dengan ukuran <5mm diharapkan akan keluar dengan sendirinya, pasien diharapkan dapat minum air putih 2,5-3 liter sehari dan olahraga rutin atau mungkin dapat dibantu dengan obat-obat asalkan tidak ada penymbatan atau penyempitan di sepanjang saluran kemih.

Dokter Dian menyatakan pada edukasi terakhir sesinya, bahwa pastikan kebutuhan cairan tercukupi, kurangi konsumsi makanan yang mengandung oksalat (bayam, kacang, black tea) dan murangi asupan protein hewani.

Diet rendah garam dan yang penting makan- makanan dengan gizi seimbang dan olahraga yang rutin dianjurkan dokter dalam mengurangi bahkan menghindari keluhan batu pada saluran kemih. [asg/but]


Apa Reaksi Anda?

Komentar