Pendidikan & Kesehatan

Kematian Pasien Covid-19 di Jatim Tinggi, Sepertiga Persen dari RSKI RSUA

Surabaya (beritajatim.com) – Kasus positif Covid-19 terus bertambah, bahkan terjadi lonjakan hingga 1000 kasus dalam sehari. Disamping itu, meski Rumah Sakit berlomba-lomba menambah kapasitas dan sarana prasarana, lonjakan kasus positif tetap membuat tenaga medis (nakes) kewalahan.

Tingginya angka kasus positif juga belum menurunkan angka mortalitas (meninggal) karena Covid-19. Jawa Timur sendiri hingga Kamis (21/5/2020) terdapat 256 kasus meninggal. Lalu bagaimana keadaan di Rumah Sakit Rujukan di Surabaya?

Jubir Tim Satgas Corona Rumah Sakit Universitas Airlangga (RSUA), dr Alfian Nur Rasyid SpP mengatakan bahwa per 20 Mei 2020 kasus kematian di Jatim mencapai 241. Dari jumlah itu, 1/3 pasien meninggal di RSKI (Rumah Sakit Khusus Infeksi) RSUA. yakni dengan total 81 orang.

“Ya per 20 Mei, dari 241 data Jatim pasien Covid-19 meninggal itu dari RSKI dengan menyumbang 81 kematian pasien yakni sepertiga dari total kematian di Jatim,” ujar dr Alfian melalui diskusi daring bersama MEDTRAIN bersama pakar-pakar kesehatan dalam topik, ‘Angka Kasus Kematian Covid-19 Tinggi: What To Do?’ Jumat (22/5/2020).

Angka 81 pasien meninggal ini di dominasi oleh pasien perempuan dengan 62,5 persen dan 37,5 persen laki laki. Sedangkan per 20 Mei RSKI telah menerima total 3.761 pasien, dengan konfirmasi positif dan isolasi mandiri sebanyak 96 pasien. Sedangkan untuk pasien MRS atau dengan kegawatan mencapai 460 pasien.

“Jadi kalau dihitung dari total pasien MRS (460 pasien) hanya di RSKI, total kematiannya mencapai 17,6 persen. Sedangkan data mortalitas di RSKI, bahwa hampir ada saja pasien meninggal, dan ada lonjakan-lonjakan bahkan di tanggal 17 ada 7 pasien meninggal,” tambah dr Alfian.

Dari data yang disampaikan oleh dr Alfian, kematian pasien Covid-19 meninggal kebanyakan disebabkan karena komorbid, atau penyakit pemberat, seperti gagal nafas, diabetes melitus, sepsis, hipertensi, trombisis dan lainnya.

“Dari 40 pasien meninggal kami temukan 17 karena gagal nafas. Dan yang meninggal dengan ventilator sebanyak 14 orang. Sejauh ini hanya 4 orang yang bisa lepas dan membaik pasca Ventilator,” terangnya.

Selain itu, dr Alfian juga mengatakan bahwa tingginya angka kematian juga disebabkan masih banyaknya kasus yang belum ditemukan yang masih berada di tengah masyarakat.

Meskipun rumah sakit terus menerus meningkatkan kapasitasnya, jika kasus positif terus bertambah maka rumah sakit juga akan kewalahan. Saat ini di RSKI sudah membuka 8 ruangan isolasi dan 1 UGD. 1 ruangan isolasi berisi 10-14 bed. Selain itu RSKI juga berencana menambah 2 ruangan lagi di lantai 9 dan 10.

“Meski kapasitas terus diperbesar, kalau kasusnya terus naik ya tetap gak cukup. Tenaga medis juga tidak banyak, hasilnya pasti banyak yang tidak tertolong. Saat ini saja, sampai sore tadi, masih ada 20 orang yang tertahan di UGD. di RS lain juga begitu keadaannya,” ujarnya.

“Meskipun lagi trend #terserahlah kami tidak bisa, kami terus berusaha dengan #nakesikhtiar, tidak boleh menyerah,” pungkasnya. [adg/suf]





Apa Reaksi Anda?

Komentar