Pendidikan & Kesehatan

Keluhkan Penertiban, Pemilik Toko Anggap Pemkab Jember Tebang Pilih

Ilustrasi; Penertiban dan Razia

Jember (beritajatim.com) – Sejumlah pemilik toko di Jalan Trunojoyo, Kabupaten Jember, Jawa Timur, mengeluhkan penertiban yang dilakukan Satuan Polisi Pamong Praja. Mereka menganggap ada tebang pilih.

Satpol PP meminta sejumlah toko untuk tutup total hingga tanggal 20 Juli 2021, sesuai dengan berakhirnya masa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat. Susanto Tejokusumo, pemilik toko Beta Putra Motor, mengaku didatangi petugas Satpol PP, polisi, dan TNI, pada Jumat, 9 Juli 2021 sore lalu. “Kami disuruh seratus persen tutup, tidak boleh buka,” katanya.

“Kami langsung diberi surat disuruh sidang. Seharusnya menurut saya ada peringatan dari jajaran terkait, karena bagaimana pun usaha bengkel ini meliputi akomodasi dan transportasi,” kata Susanto.

Saat para petugas itu datang, bengkel sedang sepi. Hanya ada satu sepeda motor sedang diperbaiki dan satu orang pembeli onderdil.

Susanto mengatakan, selama ini tak ada imbauan atau peringatan dari Pemkab Jember. “Saya disuruh baca sendiri, dan mereka bilang: Koko tahu tidak, PPKM itu apa. Kita orang awam ya sekadar tahu, tapi tidak tahu jelasnya. Seharusnya PPKM itu kan pembatasan saja. Ini penutupan sudah salah kaprah. Bagaimana pun kita juga cari nafkah anak buah, sampai kondisi seperti ini ya harus cari uang sendiri,” katanya.

Susanto mempertanyakan penegakan aturan itu. Dia sempat memantau situasi di Jalan Trunojoyo hingga kawasan Mangli. “Tidak ada satu toko pun yang tutup. Itu saya lakukan survei sendiri. Kenapa jadi diskriminasi hanya Trunojoyo? Kalau memang tutup, ya tutup semua,” katanya.

Susanto tidak mempermasalahkan jika memang jam operasional dibatasi, toko harus tutup pada pukul enam sore. “Saya setengah lima sore saja sudah tutup,” katanya.

Keluhan senada juga meluncur dari Nyonya Yohanes, salah satu pemilik toko lainnya. “Caranya tidak begini. Kalau begini kan tebang pilih. Daerah sini, daerah sini (yang tutup),” katanya. Biasanya, tokonya buka pada jam delapan pagi hingga empat sore.

Dimintai konfirmasi, Bupati Hendy Siswanto membenarkan, jika dalam instruksinya sebelumnya, toko-toko diharuskan tutup pada pukul delapan malam sesuai instruksi gubernur. “Tapi begitu ada instruksi Mendagri, yang di mall-mall, toko tidak boleh buka. Yang boleh buka adalah supermarketnya. Maka itu mengartikan mall-mall ini bisa jadi toko-toko juga di situ, karena mall tidak boleh melakukan transaksi. Yang boleh supermarketnya (yang menjual barang) kebutuhan pokok,” katanya.

“Kedua, pasar. Pasar ini boleh buka tapi dibatasi 50 persen. Lima puluh persen saja yang berkunjung, termasuk yang berdagang pun 50 persen. Dalam hal ini kami di sini sedikit agak kesulitan mengatur itu. Pintu pasar bukan cuma satu. Banyak pintu dan di dalam ini kan orang bertransaksi. Untuk menghitung 50 persen ini yang agak sulit. Tapi kami tetap melakukan sosialisasi melalui mikrofon,” kata Hendy.

Hendy menambahkan, toko Rien Collection milik keluarganya juga sudah diperintahkannya untuk tutup. “Rien Collections tokonya tutup semua sampai tanggal 20 Juli,” katanya.

Salah satu pembeli sempat kecele, karena mengira Rien Collection buka. “Kebetulan saya dan teman sudah masuk, sudah mau pilih barang, tiba-tiba pegawainya turun dari lantai atas dan menjelaskan jika Rien Collection sedang tutup. Tapi saya dan teman saya tidak tahu kalau tutup, karena tidak ada keterangan. Mbaknya menjelaskan, kalau mau beli tidak bisa karena tutup. Tapi saya nego, minta tolong lagi butuh hand soak. Akhirnya Mbaknya menyuruh saya tunggu di luar toko, dan ia membawa barangnya agar bisa dipilih. Saya minta maaf ke Mbaknya, karena tidak tahu kalau Rien Collection tutup. Kondisi di sana cuma ada satu pegawai cowok dan satu pegawai cewek. Tadi pintu sedikit terbuka, sama Mas (pegawai laki-laki) langsung ditutup,” katanya.

Soal tidak adanya sosialisasi penutupan toko terhadap masyarakat, Hendy mengatakan, ketentuan dari pemerintah pusat baru muncul. “Ketentuannya baru kemarin-kemarin keluarnya. Instruksi Mendagri itu nomor 15, 16, 17. 18, 19, 20. Runtut setiap hari. Instruksinya setiap hari. Bagaimana kami harus menyosialisasikan. Paling sosialisasi hanya dikirim melalui grup WhatsApp. Seharusnya sosialisasi lewat radio, lewat media. Itu setiap hari keluar instruksi Mendagri. Intinya lima instruksi Mendagri PPKM Darurat, yang isinya lebih dipertajam lagi,” katanya.

Hendy mengaku merasakan apa yang dirasakan pemilik toko. “Kami juga pedagang. Kami juga merasakan bagaimana kalau toko tutup untuk menggaji karyawan. Justru kita kesulitan ya, tapi lebih berat lagi dengan taruhan nyawa. Kita harus lebih mendahulukan itu daripada kepentingan pribadi kita. Karena kita memperjuangkan nyawa, bagaimana (agar) saudara-saudara kita di Jember selamat, karena wabah yang sangat berbahaya,” katanya.

“Kami memahami seluruh masyarakat alami kesulitan-kesulitan. Kami juga kesulitan. Namun demikian kita harus lebih menjunjung tinggi keselamatan jiwa warga Jember. Itu yang tertinggi dibanding kepentingan semua,” kata Hendy.

Hendy membenarkan, jika nantinya secara bertahap akan ada penutupan toko non esensial hingga masa berakhirnya PPKM. “Toh sebenarnya tidak lama. Satu minggu lagi (PPKM) selesai. Nanggung waktunya sudah. Daripada terus timbul Covid, mending sekarang dari jiwa kita, kami ingin yang bertanggung jawab (dalam penanganan) Covid kita semua,” katanya.

“Tanggung jawab harus kita pikul bersama-sama. Pemerintah dalam hal ini hanya mengoordinasikan, memagari dengan aturan-aturan agar pelaksanaan bisa tertata,” katanya. Khusus untuk toko-toko yang ditutup, Pemkab Jember akan memberikan bantuan beras untuk para karyawan mereka. [wir/ted]



Apa Reaksi Anda?

Komentar