Pendidikan & Kesehatan

Keluh Kesah Pendaftar UTBK KIP: Saya Kasihan Orangtua

Surabaya (beritajatim.com) – Kewajiban untuk menyertakan bukti negatif atau non reaktif Covid-19 untuk pelaksaan Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) yang akan mulai diselenggarakan pada 5 Juli mendatang membuat mayoritas peserta mengeluh.

Salah satunya Shella Fransiska Mawar Sari. Siswi lulusan SMAN 1 Mojosari Mojokerto ini mendaftar jurusan Ekonomi Pembangunan dan Ekonomi Islam di Universitas Airlangga (Unair) dan mendapat jadwal UTBK pada 5 Juli di Kampus C Unair.

“Saya merasa kebijakan untuk test Covid-19 ini sangat memberatkan dan merepotkan. Apalagi bagi yang melalui jalur bidik misi dan KI, karena harus keluar uang sendiri. Pinginnya kebijakan buat gratis. Informasinya juga mendadak banget, orang tua saya kaget,” ujar gadis yang biasa dipanggil Mawar ini melalui video call bersama beritajatim.com, Kamis (2/7/2020).

Ia menceritakan bahwa orang tuanya kaget dengan kebijakan test Covid yang dikeluarkan Wali Kota Surabaya. Orang tua Mawar berharap, anaknya cukup membawa surat keterangan sehat saja sebagai ganti rapid test.

“Meski begitu, kami mengupayakan gimana caranya bisa dapat uang supaya bisa rapid. Tapi kan sayang, biaya ratusan ribu untuk sekali pakai saja. Belum lagi biaya perjalanan ke Surabaya, saya kasihan sama orangtua,” tukas Mawar.

Ia juga harus menyediakan biaya berangkat ke lokasi UTBK, beli face shield, masker, beli buku belajar dan beli kuota untuk memantau kebijakan. Selain itu Mawar juga mengatakan karena kebijakan sangat mendadak, membuat ia tidak bisa fokus belajar.

“Waktu untuk rapid test tinggal dua hari, jadi menanggu konsentrasi belajar. Apakah Wali Kota Surabaya tidak memperhatikan itu? Saya juga dari penerima KIP. Tujuan awal daftar KIP supaya tidak memberatkan orangtua dan fokus pada tujuan masuk PTN impian, tapi kenapa malah dibikin ribet. Disuruh tes rapid yang biayanya mahal,” tanya Mawar dengan sedih.

Ia juga menyesalkan diizinkannya UTBK terpusat jika akhirnya syarat-syaratnya malah memberatkan. Terlebih pengumuman kebijakan harus menyertakan hasil negatif swab atau non reaktif rapid, diumumkan secara mendadak pada hari ini.

“Ini sudah H-3 dan masih diombamg-ambingkan dengan kebijakan itu. Tentu saja bisa membuat mental tertekan. Saya hanya mohon supaya tidak diribetkan seperti ini, karrna mungkin banyak temen-teman seperjuangan yang udah capek dan memilih mundur. Karena terndala biaya rapid yang mahal,” pungkas Mawar. [adg/suf]





Apa Reaksi Anda?

Komentar