Pendidikan & Kesehatan

KBM Tatap Muka di Pamekasan Kembali Dihentikan

Pamekasan (beritajatim.com) – Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) model pembelajaran tatap muka di lingkungan Dinas Pendidikan (Disdik) Pamekasan, kembali dihentikan sementara akibat tingginya angka kasus Coronavirus Disiase 2019 di wilayah setempat.

Dalam beberapa pekan terakhir, angka kasus Covid-19 di Pamekasan kembali naik, mulai dari angka pasien baru yang dinyatakan positif terinfeksi virus asal Tiongkok, hingga sejumlah pasien positif yang meninggal dunia akibat Covid-19.

Ppihak Disdik Pamekasan juga sempat mengeluarkan kebijakan dengan menerapkan dua model pembelajaran berbeda, yakni pembelajaran model dalam jaringan (daring) dan luar jaringan (luring). Hal tersebut digelar sejak 23 September 2020.

“Penghentian sementara pembelajaran tatap muka ini juga bertepatan dengan libur semester di akhir tahun. Sehingga nantinya proses pembelajaran akan dilaksanakan dari rumah dengan model pembelajaran daring,” kata Kepala Disdik Pamekasan, Akhmad Zaini, Selasa (15/12/2020).

Langkah tersebut sengaja diambil berdasar pertimbangan matang sekaligus upaya memutus rantai penyebaran Covid-19. “Jadi berdasar pertimbangan meningkatnya kasus Covid-19 di Pamekasan, sementara pembelajaran tatap muka kita hentikan,” ungkapnya.

“Namun syukur alhamdulillah, selama pembelajaran tatap muka dilangsungkan. Tidak ada kasus Covid-19 dari klaster pendidikan. Memang ada satu siswa yang terpapar Covid-19, tapi hal itu berasal dari klaster keluarga yang sebelumnya bepergian ke luar kota,” imbuhnya.

Kebijakan menghentikan proses pembelajaran tatap muka berlaku untuk semua jenjang di lingkungan instansi yang dipimpinnya. “Jadi mulai Rabu 16 Desember 2020, kita istirahatkan sementara selama 15 hari kedepan, apalagi bertepatan dengan libur semester, natal dan tahun baru. Hal itu berlaku untuk semua jenjang pendidikan, mulai tingkat PAUD, TK, SD dan SMP,” jelasnya.

Selain itu, pihaknya juga mengimbau sekaligus berpesan kepada seluruh siswa agar tidak memanfaatkan momentum libur dengan rekreasi atau keluar rumah tanpa ada kepentingan yang sangat mendesak. “Jadi saat belajar dari rumah, sebaiknya siswa tidak perlu pergi keluar rumah kalau memang tidak terlalu penting, apalagi untuk rekreasi,” imbuhnya.

“Hal ini sengaja kami lakukan sebagai bentuk kekhawatiran, sebab jika pembelajaran digelar dengan tatap muka, maka siswa benar-benar berada di sekolah. Sementara kalau belajar dari rumah, justru tidak menutup kemungkinan para siswa justru bepergian,” beber Zaini.

Dari itu pihaknya berharap sekaligus meminta wali siswa agar berpartisipasi, guna mengawasi putra-putri mereka agar selalu di rumah selama pembelajaran tatap muka dihentikan sementara. “Wali murid punya dua tugas penting, pertama menjaga putra-putrinya agar tetap sehat dan terhindar wabah Covid-19,” pintanya.

“Kedua, wali murid juga memiliki tugas untuk membantu putra-putri mereka melaksanakan proses pembelajaran dari rumah. Karena waktu siswa di rumah jauh lebih banyak dibandingkan di sekolah,” pungkasnya. [pin/suf]



Apa Reaksi Anda?

Komentar