Pendidikan & Kesehatan

Kasus Kematian Anak Indonesia Akibat Covid-19 Tertinggi di Asia Pasifik

Virus Corona

Jakarta (beritajatim.com) – Pelaksanaan kegiatan belajar dari rumah merupakan hal yang sulit namun sangat perlu diterapkan. Mengingat saat ini jumlah kasus konfirmasi Covid 19 di indonesia masih terus meningkat.

Ketua Umum Ikatan Dokter Anak Indonesia DR. dr. Aman B Pulungan mengatakan, satu dari sembilan kasus konfirmasi Covid-19 di Indonesia adalah anak usia 0-18 tahun. Data tanggal 29 November 2020 menunjukkan proporsi kematian anak akibat Covid I9 dibanding seluruh kasus kematian di Indonesia sebesar 3.2% dan merupakan yang tertinggi di Asia Pasifik saat ini.

“Anak yang tidak bergejala atau bergejala ringan dapat meniadi sumber penularan kepada orang di sekitarnya,” ujar Aman, kemarin.

Menurutnya, bukti menunjukkan bahwa anak juga dapat mengalami geiala Covid-19 yang berat dan mengalami suatu penyakit peradangan hebat yang diakibatkan infeksi Covid-19 yang ringan yang dialami sebelumnya.

Karenanya, dia menilai, pembukaan sekolah untuk kegiatan belajar mengajar tatap muka mengandung risiko tinggi terjadinya lonjakan kasus Covid-I9 karena anak masih berada dalam masa pembentukan berbagai perilaku hidup yang baik agar menjadi kebiasaan rutin di kemudian hari. termasuk dalam menerapkan perilaku hidup bersih sehat.

“Ketika protokol kesehatan dilanggar, baik sengaja maupun tidak maka risiko penularan infeksi Covid I9 akan meningkat sangat tinggi,” ujarnya.

Dia juga mengingatkan, peningkatan jumlah kasus yang signifikan pasca pembukaan sekolah telah dilaporkan di banyak negara sekalipun negara maju seperti Korea Selatan, Prancis, Amerika, dan Israel begitu juga di indonesia. Penundaan sekolah dikatakan dapat menurunkan transmisi.

Semua warga sekolah, termasuk guru dan staf dan juga masyarakat memiliki risiko yang sama untuk tertuiar dan menularkan COVID-l9. Namun demikian, didapatkan berbagai laporan selama pandemi berlangsung tentang meningkatnya tingkat stres pada anak dan keluarga, perlakuan saiah, pernikahan dini, ancaman putus sekolah, serta berbagai hal yang iuga mengancam kesehatan dan kesejahteraan anak yang secara umum di alami di negara negara berkembang.

“Hal ini juga membutuhkan perhatian dan penanganan khusus oieh seluruh pihak,” katanya. [hen/suf]



Apa Reaksi Anda?

Komentar