Pendidikan & Kesehatan

Kasus Covid-19 Meningkat, PTM Bisa Diundur, Novita Hardini Siapkan Second Plan 

Novita Hardini Mochamad, SE Istri Bupati Trenggalek
Trenggalek (beritajatim.com) – Kasus penyebaran Covid-19 yang kian meningkat tentunya mengancam rencana pelaksanaan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) di Trenggalek. Bila terus kian tidak terkendali, PTM yang rencananya akan dilaksanakan pada awal tahun ajaran baru ini (Bulan Juli nanti) bisa bisa diundur.
Melihat fenomena ini, Bunda PAUD Trenggalek, Novita Hardini Mochamad, SE., tidak mau tinggal diam. Tentunya PTM bagi pendidikan anak usia dini menjadi salah satu cita-citanya. Perempuan yang didapuk menjadi ibunya anak usia dini di Kabupaten Trenggalek itu mencoba berjuang keras memenuhi hak-hak pendidikan anak dengan adanya PTM.
Namun bila keadaan memang tidak memungkinkan sejalan perjalanan penyebaran Covid yang cukup cepat akibat varian Delta yang masuk ke tanah air. Istri Bupati Trenggalek ini mencoba menyiapkan second plan. Rencana kedua dimana bila PTM ini harus diundur lagi, pembelajaran daring yang diberikan setiap lembaga pendidikan itu bisa berjalan lebih efektif.
“Dari awal juknis kita adalah, kita melakukan simulasi kepada lembaga PAUD agar bisa menjalankan pembelajaran tatap muka dengan baik dan sempurna. Tujuannya agar tidak menjadi peluang penyebaran Covid di Sekolah,” ungkap ibu dari Gadis manis bernama Sia itu, Senin (28/6/2021).
Mengingat banyak sekali yang harus kita perjuangkan, masih lanjutnya menambahkan, “kalau melihat dari segi anak-anak yang membutuhkan  pendidikan tatap muka. Namun ketika berjalan hingga akhir Bulan Juni ini, kita semua tentu tahu ada varian virus baru yang masuk dan cukup menggegerkan
Indonesia,” lanjutnya.
Nah sekarang kita harus beradaptasi lagi dengan Virus Corona baru ini, artinya kita masih harus menyiapkan hati kita. Bulan Juli sesuai harapan dan cita-cita kita bisa menyelenggarakan PTM, bisa jadi diundur karena meningkatnya kasus Covid.
Sebenarnya jelas penggiat perempuan ini, “perjalanan simulasi ini tidak hanya menyiapkan sekolah-sekolah bisa siap melakukan protokol kesehatan yang baik. Namun juga yang menjadi second plan, dimana  kita ingin membangun management pembelajaran daring  yang optimal bagi setiap lembaga pendidikan PAUD yang ada di Kabupaten Trenggalek,” jelasnya.
Saya sangat bersyukur pada hari ini Lembaga PAUD Perintis yang ada di Kecamatan Karangan tadi cukup memberikan inspirasi yang baik. Bagaimana pembelajaran daring bisa menjadi sangat menarik karena management yang profesional.
Ada google kurikulum dan anak-anak diminta memilih jawaban yang benar. “Ada 2 jawaban yang harus di pilih dan ini menurut saya sudah bisa melatih otak anak bekerja dengan baik,” tandas perempuan enerjik ini.
Bunda PAUD Trenggalek, Novita Hardini Mochamad, SE
Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Trenggalek, Drs. Totok Rudijanto menambahkan perkembangan rencana PTM di daerahnya, “untuk Trenggalek di semua jenjang pendidikan dasar mulai TK, SD dan SMP secara protokol kesehatan sudah kita lakukan visitasi mulai dari tahun 2020 kemarin,” ungkap mantan Kabag Organisasi Setda Trenggalek itu saat mendampingi kunjungan Bunda PAUD Trenggalek itu.
Alhamdulillah sudah kita lakukan uji coba pembelajaran tatap muka, lanjutnya. “Namun Pendemi Covid bulan November kemarin mengalami gejolak akhirnya juga kita hentikan,” lanjut salah satu Pejabat Tinggi Pratama di lingkup Pemkab Trenggalek itu.
Dijelaskan lagi olehnya, dengan terbitnya SKB 4 menteri per tanggal 30 tahun 2021 kemarin, patut kita syukuri ada peluang besar untuk kita bisa menyelenggarakan pembelajaran tatap muka. Dimana PTM ini nanti tidak memandang zona, semua diserahkan kepada kepala daerah, dengan melihat kondisi yang ada.
Sebagaimana kita ketahui di Trenggalek sudah menerapkan PPKM. Artinya untuk sekolah-sekolah jenjang pendidikan dasar secara aturan SKB 4 menteri layak untuk melaksanakan pembelajaran tatap muka.
Selain itu semua guru yang telah kita persiapkan mengajar dan tenaga kependidikannya sudah dilakukan vaksin. Kemudian para orang tua wali sudah memberikan pernyataan siswanya untuk bersedia pembelajaran tatap muka dan persetujuan komite.
Namun bila ada orang tua tidak mengijinkan siswanya untuk tatap muka, maka kita anjurkan untuk pembelajaran daring. Pola tatap muka ini, maksimal satu rombel 25% dari rombel yang ada.
“Berarti untuk SD jumlah rombelnya  maksimal 28, kalau kita bagi 4 (25%), maka ada 7 siswa. Kemudian SMP ada 8 dan TK PAUD 5. Kita gunakan secara shift 25% pagi, 25% siang, sisanya 50% dengan sistem daring,” tandas Kadisdipora ini. [nm/ted].


Apa Reaksi Anda?

Komentar