Iklan Banner Sukun
Pendidikan & Kesehatan

Kasus Covid-19 Melandai, Pendonor Plasma Konvalesan Lamongan Rendah

Kantor PMI Lamongan tampak dari sisi depan.

Lamongan (beritajatim.com) – Dengan masuknya Kabupaten Lamongan menjadi Level 3 selama PPKM, kasus penularan Covid-19 di Lamongan turut melandai. Hal tersebut diketahui juga berpengaruh pada rendahnya pendonor plasma konvalesan yang ada di Lamongan.

Sehubungan dengan hal tersebut, ketersediaan stok plasma konvalesan di Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Lamongan sesuai data per tanggal 31 Agustus 2021 terpantau minim.

“Penyintas Covid-19 di Lamongan yang mau mendonorkan plasma konvalesan secara suka rela saat ini terbilang minim. Hal itu kemungkinannya karena kasus Covid-19 di Lamongan juga sudah tampak melandai,” ujar ketua PMI Lamongan, Agus Suyanto kepada beritajatim.com, Selasa (30/8/2021).

Selain itu, Agus menjelaskan, bahwa sulitnya mendapatkan pendonor tersebut juga dikarenakan adanya beberapa kriteria khusus dan syarat yang memang harus dipenuhi oleh penyintas Covid-19 yang ingin mendonorkan plasma darahnya.

“Pendonor kan sifatnya suka rela. Kemungkinan para penyintas yang belum mau donor itu juga karena takut. Selain itu, juga bagi yang ingin donor juga eggak sembarangan, yakni ada beberapa kriteria dan prosedur yang panjang untuk menentukan penyintas layak atau tidak untuk diambil plasma darahnya,” tandasnya

Adapun kriteria yang harus dipenuhi oleh pendonor terapi plasma, Agus menyebutkan, di antaranya berusia 18-60 tahun, memiliki riwayat positif Covid dalam 3 bulan terakhir, kondisinya sehat dan dinyatakan sembuh minimal selama 14 hari terakhir, berat badan minimal 55 kg, tidak memiliki penyakit menular melalui darah, kadar antibodi virus coronanya cukup, serta golongan darahnya cocok.

“lalu terkait prosedur, pendonor harus diskrining, berupa tes darah dan PCR, serta pemeriksaan lainnya seperti pengukuran tinggi dan berat badan, tekanan darah, dan pemeriksaan hemoglobin. Setelah dinyatakan layak, pendonor dihubungi untuk diminta persetujuannya,” terangnya.

Kendati demikian, Agus menyampaikan, bahwa Lamongan saat ini masih belum memiliki alat pengambilan donor plasma konvalesan yang memadai, sehingga pengambilan donor tersebut dilakukan di Surabaya. “Pengambilan donor plasma menggunakan mesin apheresis. Biasanya berlangsung kurang lebih 45 menit. Dalam sekali mendonor, rata-rata standar plasma yang diambil sebanyak 600 mililiter,” sambungnya.

Mengenai stok ketersediaan, saat ini menurut Agus, total hanya ada 4 kantong, dengan rincian golongan darah A dan B masing-masing 2 kantong. Sedangkan untuk golongan O dan AB masih kosong. Meski begitu, Agus terus berupaya akan membantu pihak yang membutuhkan, dan jika stok kosong, pihaknya akan mengarahkan kepada PMI lain yang memiliki stok.

Sebelumnya, Agus menjelaskan, pihaknya juga melakukan sosialisasi mengenai aksi kemanusiaan donor terapi plasma kepada penyintas. Hal itu dilakukan agar masyarakat lebih memiliki kesadaran dan kepedulian untuk beramal. Tak hanya itu, pihaknya juga menggandeng beberapa instansi dalam pendonorannya.

Sebagai informasi, Terapi plasma konvalesan merupakan salah satu metode pengobatan yang digunakan untuk menangani pasien Covid-19, khususnya dengan gejala berat. Terapi ini dalah pemberian plasma darah donor dari penyintas Covid-19 kepada pasien Covid-19.

Adapun manfaat yang bisa diperoleh dari terapi plasma konvalesen pada pasien Covid-19 di antaranya mempercepat penyembuhan dan pemulihan, meringankan gejala yang dialami, seperti sesak napas, nyeri dada, atau demam, mencegah komplikasi dan menurunkan tingkat keparahan penyakit, serta menurunkan risiko kematian.

Terapi plasma konvalesan ini bisa dipertimbangkan untuk diberikan kepada pasien Covid-19 gejala sedang, yang memiliki penyakit seperti diabetes, asma, atau sistem imunitas tubuh yang lemah. Tetapi, terapi plasma konvalesen juga tidak dapat dilakukan pada orang yang sehat untuk menggantikan fungsi vaksin Covid-19.[riq/kun]


Apa Reaksi Anda?

Komentar